Suasana yang sama dengan dua atau tiga tahun yang lalu. Suasana cafe bertema klasik yang dulu mencuri perhatiannya. Suasana cafe yang didominasi warna cokelat kayu mahoni memanjakan matanya saat pertama kali melangkahkan kaki setelah beberapa tahun tidak mampir sejenak, serta aroma biji kopi hasil brewing yang memasuki indra penciumannya sangat dalam hingga terasa di atas lidah.
Jauh di depan sana teman-teman mereka berjalan berpasangan dengan langkah sejajar. Jimin mengamati bagaimana sedari tadi Jungkook berusaha menempeli Taehyung dengan berbagai cara, sementara tidak jauh dari mereka Hoseok berdampingan dengan Jaehyung sembari meneguk boba ukuran sedang yang sudah tidak sedingin beberapa saat yang lalu.
Rasa debaran yang begitu kentara kini secara nyata hadir di dalam dadanya. Beberapa kali pipinya memanas bahkan memerah hingga nampak seperti saus sambal yang dihinggapi seekor lalat di depannya.
Ruangan asing beraroma jeruk manis adalah hal yang ditemui indra penciumannya saat pertama kali tersadar dan membuka mata. Sejenak ia menduga saat ini malam sudah menjumpa karena satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu tidur kecil yang terletak tidak jauh di atas nakas sebelah ranjang yang Yoongi tiduri saat ini.
Pada akhirnya, Jimin secara 'terpaksa' makan siang bersama anggota The Madolz serta Hoseok yang entah kenapa tiba-tiba saja lebih sering bergaul dengan band kampus crushnya itu. Kini dirinya pun menghabiskan bakso Pak Dharmo yang menjadi makanan kesukaannya jika makan siang di kampus dengan sabar. Satu persatu pentolan dimasukkan ke dalam mulutnya tidak lupa dengan kuah berbumbu yang ia seruput secara perlahan.
Seokjin kini berada di dalam klub malam yang sama dengan klub malam yang ia datangi lima tahun lalu. Masih dengan perasaan yang sama saat menyangkut tentang seberapa berisiknya musik yang dimainkan, masih dengan perasaan yang sama tentang seberapa risihnya saat orang-orang menatap dirinya, serta darahnya yang berdesir halus melihat banyak orang berkumpul dalam satu tempat yang sama.
Seokjin mengaduh pelan saat gaungan musik klub malam mulai memasuki gendang telinganya. Matanya menyipit berusaha menajamkan penglihatannya di dalam sana.
Beberapa kali jari jemari Jimin menekan-nekan nomor ponsel Yoongi yang tersimpan di dalam kontaknya seperti kesetanan. Total sudah sepuluh menit lebih ia mencoba untuk menelepon nomor itu meski tetap tidak ada jawaban dari sang pemilik.
Seokjin mematikan ponselnya sebelum melempar benda malang itu ke atas sofa kamarnya sembari mendengus pelan. Setelah keluar dari grup ia tidak tahu harus apa lagi.
Jimin mendudukkan dirinya di atas kursi kantor dengan perasaan campur aduk. Takut, bingung, bahkan juga merasa sedikit cemas. Suhu tangannya menjadi lebih dingin dari sebelumnya sebab pendingin ruangan berada pada suhu di bawah dua puluh lima derajat.