Suara sorak sorai dari arah stadion, kebisingan jalan raya yang tidak jauh dari sana, serta suara hentakan kaki Jimin yang sedari tadi terus bergerak tanpa berniat untuk dihentikan sementara. Jelas Yoongi merasakan kegelisahan partner kerjanya itu, karena sesungguhnya ia lebih peka jika menyangkut tentang Jimin.
Jimin menelungkupkan kepalanya di atas meja makan mereka dengan lesu. Nasi goreng kimchi yang sudah mendingin tidak lagi ia pedulikan. Kini kepalanya penuh dengan foto mesra suaminya yang berpelukan dan pergi bersama dengan wanita asing.
Seokjin mengembuskan napasnya dengan berat hingga menciptakan asap putih samar yang menguap dan hilang di udara. Tangannya saling mengait antar satu sama lain sebelum diletakkan di atas kedua pahanya yang mengapit rapat. Matanya yang kehilangan binar bahagia kembali difokuskan menatap lurus ke arah depan.
Yoongi menghentakkan kejantanannya dengan keras, menyentuh titik kenikmatan Jimin di bawah sana sembari merasakan klimaksnya yang begitu nikmat. Bibir tipisnya dibawa mengecup dahi basah suaminya dengan penuh perasaan, sementara tangannya dipakai untuk memijat pelan kejantanan mungil pasangannya. Perlahan ia membawa sang terkasih untuk turun dari puncaknya, berusaha memberikan aftercare terbaik yang sangat disukai Jimin.
Seokjin mengeratkan genggamannya pada gelas kopi hangat yang baru ia beli beberapa saat yang lalu. Kini, entah dirinya dibawa ke mana oleh pria Kim itu.
Pukul sepuluh malam waktu Korea Selatan dengan keadaan langit yang cukup gelap sebab sang bulan terhalang awan mendung. Udara berembus dingin menerpa kulit yang terbuka, angin yang membelai kulit dengan halus seketika membuat tubuh siapa pun bergidik pelan entah setebal apa pun pakaian yang kamu pakai.
Suasana di dalam mobil sedan terbaru keluaran Jerman itu terasa kaku meski radio menyanyikan beberapa lagu dengan volume normal. Tangan Jimin diletakkan di atas kedua pahanya, sementara tangan Yoongi tetap pada fokusnya untuk mengendalikan setir mobil.
Asap hangat mengepul tebal dari beberapa makanan khas Korea yang sudah mereka pesan dari beberapa saat yang lalu. Hari ini tidak ada minum-minum alkohol seperti biasa, maka segelas air mineral dingin sudah cukup untuk menggantikan bir yang selalu mereka pesan saat datang ke sana.
Semilir angin berembus lembut mengitari poninya yang turun jatuh menutupi dahi. Kepalanya menunduk, mengamati bagaimana goresan pensil 2B mengotori buku sketsa miliknya. Jimin duduk di sana dalam diam sembari membuat sketsa dengan figur Yoongi sebagai modelnya.
Jimin dibangunkan oleh suara petikan gitar yang terdengar sangat lembut menyentuh hati. Permainannya begitu halus penuh dengan perasaan bahagia dari sang gitaris.