The Case [30]

Beberapa kali jari jemari Jimin menekan-nekan nomor ponsel Yoongi yang tersimpan di dalam kontaknya seperti kesetanan. Total sudah sepuluh menit lebih ia mencoba untuk menelepon nomor itu meski tetap tidak ada jawaban dari sang pemilik.

Entah apa yang dilakukan oleh pria yang lebih tua dua tahun darinya itu saat ini. Padahal beberapa menit yang lalu Yoongi masih sempat berdiskusi dengan dirinya untuk menentukan ramyeon apa yang ingin pria itu makan malam ini. Belum lagi dirinya yang dimarahi di dalam ruang obrolan karena terlambat datang selama hampir tiga puluh menit.

Lalu kenapa sekarang pria itu sendiri yang tidak bisa dihubungi? Memangnya seramai apa ruangannya saat ini hingga tidak bisa mendengar nada dering telepon yang masuk ke dalam ponselnya.

Sial sekali. Jika saja kemarin Yoongi berbaik hati untuk berinisiatif membeli ramyeon dan popok bayi secara mandiri, maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Memang pria itu terlampau cuek dengan keadaan sekitarnya.

“Bodoh. Min Yoongi bodoh. Bisa-bisanya aku suka sama kamu, orang cuek. Padahal harusnya dia ingat kalau selama ini aku bisa masuk ke apartemennya bukan karena aku tahu passwordnya, kenapa dia bisa sampai lupa?” Sekali lagi Jimin mencoba untuk menekan-nekan bel pintu yang terpasang di sana guna 'menyadarkan' seonggok manusia di dalam sana.

Ah, masa iya pria itu tertidur? Padahal jarum pendek pada jam tangannya belum menyentuh angka sembilan tepat. Masa iya dirinya harus duduk di sini sampai pagi? Padahal pria itu selalu marah kalau ada anggota yang telat satu detik pun saat datang ke kantor, tetapi dirinya sendiri seperti ini.

Sebal.

“Yoon—”

“Aduh, Jimin. Sepertinya kamu harus mempelajari arti dari kata sabar, ya? Lihat, bayinya menangis karena kamu yang terus menekan bel.” Yoongi membuka pintu apartemennya dengan wajah datar yang begitu menyebalkan. Sangat menyebalkan hingga rasanya Jimin ingin mencakar wajah itu meski kukunya tidak pernah panjang.

Bagaimana bisa hanya dirinya yang disalahkan? Padahal pria itu yang sedari tadi tidak mengangkat panggilannya.

“Bukan cuma salahku dong—”

“Kak Jimin? Kak... Yoongi?”[]