The Case [21]
Jimin mendudukkan dirinya di atas kursi kantor dengan perasaan campur aduk. Takut, bingung, bahkan juga merasa sedikit cemas. Suhu tangannya menjadi lebih dingin dari sebelumnya sebab pendingin ruangan berada pada suhu di bawah dua puluh lima derajat.
Di dalam hati dirinya sibuk bertanya-tanya perihal bayi siapa yang ditinggalkan di depan kantor mereka ini. Bahkan ia sempat membuat beberapa dugaan dengan letaknya yang terlihat 'ngawur'.
Bayangkan saja, orang tua mana yang membuang anaknya di depan kantor departemen yang mengurusi tentang kasus kriminal? Lebih masuk akal jika mereka meletakkannya di depan rumah sakit.
Tunggu, ini bukan berarti Jimin mendukung halnya dibuang seorang anak oleh orang tuanya. Namun, lebih tepatnya hanya... bayi ini patut dicurigai.
Jimin menggaruk bagian tengkuknya dengan gugup, membayangkan jika anggota lainnya akan segera datang ke kantor. Karena jujur ia akui jika dirinya bukanlah 'penyelundup' yang handal.
“Oh? Yoongi-ssi. Selamat pagi.”
“Buang hajatnya sudah selesai?” Yoongi mendudukkan dirinya tepat di kursi miliknya yang terletak tepat di sebelah Jimin. Setelah sukses dari misi penyelamatan bekal makan siangnya, tanpa pikir panjang ia langsung segera naik ke atas di mana letak ruang divisi mereka berada.
Yang ditanyai oleh Yoongi pun hanya mengangguk singkat, kepalang takut jika nantinya Yoongi menyadari ada suatu hal yang 'salah' dengan dirinya.
Sial beribu sial, harusnya ia ingat dengan tingkat kepekaan dari seorang Min Yoongi (kecuali dalam hal cinta). Sontak pria itu di sana sibuk mengamati Jimin yang duduk dengan gelagatnya yang aneh.
“Kamu kenapa?”
“No—nothing.”
“Ayolah, kita sudah menjadi partner selama berapa tahun, Agent Park. Tidak ada yang bisa kamu sembunyikan dari saya.” Yoongi memangku sisi kanan wajahnya dengan santai, menikmati wajah gugup Jimin yang mulai berkeringat banyak. Sial, apalagi pria itu memakai panggilan 'Agent Park' yang biasanya dipakai saat saat ia sedang serius.
Jimin di sana hanya bisa menggigiti bibir bawahnya sembari mencoba menyembunyikan tangannya di bawah meja yang berkeringat banyak serta bergetar panik. Lelaki itu terus menutupi kenyataan jika ia sedang 'menyelundupkan' seorang bayi asing ke dalam kantor mereka. Sampai akhirnya suara tangisan bayi yang sangat kencang terdengar oleh telinga mereka berdua.
Pandangan Yoongi pun berpindah pada tempat asalnya suara itu muncul. Mata kucingnya menajam, menatap ke arah lemari arsip besar yang berdiri kokoh di sudut ruangan.
Pada akhirnya, Jimin hanya bisa menepuk dahinya pelan sembari mendesis singkat. Tamat riwayatnya.[]