Trash Talking [197]
Seokjin kini berada di dalam klub malam yang sama dengan klub malam yang ia datangi lima tahun lalu. Masih dengan perasaan yang sama saat menyangkut tentang seberapa berisiknya musik yang dimainkan, masih dengan perasaan yang sama tentang seberapa risihnya saat orang-orang menatap dirinya, serta darahnya yang berdesir halus melihat banyak orang berkumpul dalam satu tempat yang sama.
Namun, satu hal yang membedakan. Kini ia datang bersama Yoongi, dengan pria itu yang terlihat lebih hancur dari saat pertama kali mereka bertemu.
Sebetulnya, kalimat yang Yoongi ucapkan sarat oleh rasa frustasi pada saat itu hanya sebatas gertakan semata. Keanggotaan pria itu tidak dicabut. Bahkan suatu hal yang bernama keanggotaan pun tidak berlaku di dalam klub malam ini. Hanya semata untuk membuat Seokjin takut dan merasa bersalah.
Melihat Yoongi dengan keadaan terbawahnya saat ini membuat dirinya berpikir dengan dalam. Sebegitu berpengaruhnya kah seorang Jimin bagi Yoongi?
Sejak pertama kali Jimin datang ke kantor mereka dan hadir sebagai karyawan baru, atensi Yoongi sepenuhnya teralih pada lelaki itu. Meskipun lebih sering berupa ujaran kebencian.
Sementara dirinya di sini, menekan egonya sekuat tenaga, berusaha bersabar sembari terus berharap untuk cintanya dibalas. Tetap berharap meski hanyalah sebuah harapan semu semata.
Dirinya, nampak begitu menyedihkan.
“Yoongi, terakhir kali kapan ya lo ke sini? Long time no see, bro.”
“Hm,” balas Yoongi dengan lemas. Bahkan tanpa bertanya lebih jauh, sang bartender yang bernama Sohn itu pun langsung segera menyiapkan minuman yang sering Yoongi pesan jika sedang berkunjung ke sana. Lagi-lagi keadaan yang sama dengan beberapa tahun lalu, minuman yang sama dengan bartender yang sama.
Muak, sebab semakin lama dirinya ada di sini, maka semakin semangat juga kesedihan yang menggunung itu menelan dirinya tanpa sisa.
Bisa-bisanya ia jatuh cinta kepada orang seperti Yoongi.
Yah, karena memang, Yoongi lebih dari hanya sebatas pria kasar dengan sumpah serapah di dalamnya. Yoongi, lebih lembut dan mengagumkan dari itu.
“Yoongi, gue suka sama lo,” ucap Seokjin saat Yoongi mulai mabuk setelah mengonsumsi beberapa gelas minuman beralkohol dengan kadar yang begitu tinggi. Tangannya bergetar pelan, menahan rasa di dalam dirinya yang semakin memberontak ingin dikeluarkan. “Gue.. suka sama lo, Yoongi.”
Matanya yang mulai memerah menatap Yoongi yang sudah membaringkan kepalanya di atas meja bar. Tatapannya begitu terluka, bahkan kini air mata mulai berjatuhan di atas wajahnya. Menuruni pipinya yang halus mengabaikan suara alunan musik yang begitu keras dari speaker DJ.
Sebuah pengakuan sepihak, yang bahkan setelah bangun nanti Yoongi tidak tahu menahu perihal perasaannya sedikit pun.
“Lo bahagia ya, sama Jimin. He's... the one, Yoongi. Dia bisa buat lo bahagia, dia bisa buat lo kejar mimpi lo yang udah lama tenggelam, dia bisa jadi penyangga saat lo lagi hancur-hancurnya.” Seokjin menjeda kalimatnya sesaat untuk menahan isak tangisnya yang mulai tidak terkendali. Kembali terputar bagaimana harumnya syal merah bermotif kotak-kotak yang Yoongi ikat dengan asal di lehernya, sebuah hotpack yang membuat tangannya menghangat sebelum sempat mati rasa karena dingin, semalaman bergurau ria di sebuah bar yang akhirnya Yoongi akui sebagai basecamp spesial tempat mereka hangout jika sedang pusing saat sedang dilanda tugas kantor yang menggunung.
“Lo bisa bahagia sama dia, Yoongi. Gue tau kok, kalau Namjoon ngelamar Jimin di malam itu, tapi apa? Jimin tolak, buat lo.” Pikirannya melayang pada hari di mana Yoongi ingin melamar Jimin. Malam itu, secara kebetulan Namjoon juga di sana untuk melamar lelaki kecil itu. Malam kehancuran bagi dirinya, namun ternyata lebih sakit melihat Yoongi hancur seperti ini dibanding perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.
Min Yoongi, pria paling manis dengan senyum gusi andalannya. Min Yoongi, pria paling manis dengan seribu kalimat menghangatkan perasaannya dikala sedih melanda. Min Yoongi, pria paling manis yang ia cintai.
Seokjin menghapus air matanya sebelum meraih ponsel yang ia masukkan ke dalam kantung celana. Beberapa saat dirinya mendengar nada panggilan yang berbunyi beberapa kali sebelum diangkat oleh seseorang di seberang sana.
”... Jimin, gue ada di Celeste, klub malam dekat kantor. Yoongi mabuk, gue gak bisa bawa dia sendiri. Nanti pinjam mobil gue dulu gapapa.” Tangannya mengusap bagian belakang kepala Yoongi dengan lembut sesaat setelah panggilan dimatikan sepihak olehnya. Seokjin menatap pria yang ia cintai itu dengan hangat.
Sudah saatnya Yoongi bahagia, meski bukan bersamanya. Jika Yoongi akan bahagia dengan Jimin, maka itulah jalan takdir yang telah diputuskan oleh semesta.
Mungkin, dirinya dan Yoongi hanya ditakdirkan sebatas berteman dan saling menguatkan antar satu sama lain. Saling menjadi obat pereda sakit tanpa harus memiliki satu sama lain.
Kini saatnya ia melepas cintanya untuk orang lain yang akan membuat pria itu lebih bahagia dibandingkan bersama dirinya di sini.[]