Jimin memeluk buket bunga yang ia bawa dari rumah dengan posisi tepat seperti sedang menggendong bayi. Ia sudah membaca keseluruhan surat yang ada di dalamnya, surat yang berisi ajakan makan malam di restoran ternama yang terletak tidak jauh dari tempat kerjanya.
Sumpah dan janji telah diucapkan, suara tepuk tangan dari keluarga dan ketiga teman dekatnya menyapa pendengaran mereka. Angin London pada sore itu berhembus hangat menerpa wajah mereka, menyapu pipi kemerahan dua insan yang tengah dimadu cinta.
Ruang tengah CLBK Kost pada malam itu hanya diisi oleh suara dentingan sendok dan piring. Kelima mahasiswa dengan perbedaan umur yang tidak terpaut jauh itu melahap nasi serta mie goreng yang Jimin beli bersama Yoongi beberapa menit yang lalu.
Jalannya pertandingan pada hari itu lebih sengit daripada pertandingan yang lalu. Tim Redhigh yang dipimpin oleh Jimin menjadi lebih serius dari biasanya. Bahkan seorang Jimin yang bertanding dengan senyuman di wajahnya kini rautnya berubah, hilang digantikan wajah tegang.
Keheningan selama perjalanan begitu kentara di tengah mereka. Yang berada di bangku penumpang berusaha keras memalingkan wajahnya agar tidak menghirup aroma khas sang mantan kekasih hati, sementara si pengemudi terlalu canggung untuk memulai sebuah percakapan.
“Hahh... what a hectic day,” keluh Yoongi sembari duduk di kursi counter yang telah disediakan sedari awal di sana. Tangannya dilipat diatas meja keramik itu, sementara kepalanya di tenggelamkan ke atas lipatan tangannya sembari mengeluarkan keluhan singkat perihal betapa sibuknya ia hari ini.
Pagi hari yang cukup tenang dan sepi di hari itu. Yoongi bahkan sedikit merasa janggal dengan apa saja yang terjadi seharian itu. Rasanya terlalu sepi dan aneh.