Trash Talking [198]
Ruangan asing beraroma jeruk manis adalah hal yang ditemui indra penciumannya saat pertama kali tersadar dan membuka mata. Sejenak ia menduga saat ini malam sudah menjumpa karena satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu tidur kecil yang terletak tidak jauh di atas nakas sebelah ranjang yang Yoongi tiduri saat ini.
Yoongi membawa raganya yang terasa berat untuk duduk di atas ranjang itu. Ia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman setelah menyusun beberapa bantal di belakang punggungnya sebagai penyangga. Kembali pikirannya menelisik, berusaha memikirkan kemungkinan terbesar perihal berada di mana dirinya saat ini. Namun, seolah tak ingin diajak bekerja sama dengan baik, secara tiba-tiba rasa pusing mendera kepalanya tepat saat ia mencoba untuk menyusun runtutan kejadian yang ia alami beberapa hari ini.
Pintu kamar terbuka dengan jarak tidak terlalu lebar, membuat seberkas cahaya lampu putih terang yang ia duga berasal dari ruang tengah mulai memasuki kamarnya. Yoongi meraih kompres yang terjatuh dari dahinya baru setelah itu mendongakkan kepalanya, turut penasaran oleh siapa ia dirawat saat ini. Seketika pemandangan nyata yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya tertegun singkat dengan mata kucingnya yang membola lebar.
Bagaimana tidak? Jimin di sana memasuki kamarnya dengan tergopoh-gopoh serta raut penuh khawatir yang sebelumnya tidak pernah ia lihat secara langsung. Lelaki itu masuk sembari membawa baskom berukuran kecil dengan air hangat di dalamnya, yang Yoongi tebak digunakan untuk mengganti kompres di tangannya ini.
“Yoongi—kak, kamu sudah bangun? Ada yang sakit?” Suaranya bergetar penuh rasa khawatir yang begitu dominan. Bahkan mata manisnya terlihat berkilau panik dengan bagian bola mata yang basah sebab menahan tangis.
Yoongi pun hanya menjawab dengan anggukan pelan karena tenggorokannya terlalu sakit dan kering. Rasa tidak nyaman kini mulai mendera seluruh bagian tubuhnya.
Seolah mengerti apa yang Yoongi rasakan, dengan telaten Jimin membantu dirinya untuk merebahkan tubuh di atas ranjang double bed itu. Sungguh terlihat jika lelaki yang beberapa waktu ini mengambil hati dan perhatiannya berusaha menjauhkan tubuhnya dari rasa sakit. Bahkan kini Jimin mengganti kompres yang sudah mengering dengan kompres baru yang sudah diganti sebelumnya.
Telapak tangan Yoongi yang mendingin dicoba untuk meraih tangan kanan Jimin setelah lelaki itu selesai meletakkan kompres di atas dahinya. Perlahan Yoongi meraba jari manis milik Jimin, berusaha menemukan sesuatu yang membuatnya patah hati akhir-akhir ini.
Namun, dahinya mengernyit samar saat tak menemukan sebuah cincin yang seharusnya disematkan Namjoon pada hari itu. Aneh.
“Kenapa,” ucap Jimin dengan nada bergetar menahan tangis. Andai jika sendinya tidak didera rasa sakit, maka dengan sigap ia merengkuh tubuh kecil yang terlihat rapuh itu. Pada akhirnya ia hanya membiarkan Jimin menangis kecil di sana sembari memeluk lengan kanannya. “Kenapa hiks.. kamu taruh buketnya di balik gantungan pakaian?! Aku mau marah sama kamu, harusnya kamu kasih langsung ke aku.”
Yoongi terdiam, masih mendengarkan Jimin yang terdengar begitu patah di depannya. Jimin dengan segala kekuatan di dalamnya, kini menangis dengan wajah pucat sembari memeluk lengannya.
“Hari itu pasti aku lebih memilih untuk pergi sama kamu.. kak. Seminggu ini aku cari kamu, aku tanya kabar kamu ke teman-teman kamu, tapi kamu seolah gak mau ketemu aku lagi.” Jimin menenggelamkan wajahnya di antara perpotongan leher Yoongi, di sana ia menghirup aroma yang sangat ia rindukan. “Kenapa kamu gak tanya aku dulu, kenapa kamu langsung pergi?” Suara teredam yang penuh dengan isak tangis itu perlahan memelan sebelum akhirnya Jimin tertidur di sana dengan kepala bersandar di bahu lebar Yoongi serta wajah yang basah penuh air mata.
Yoongi mengarahkan tangannya untuk mengusap kepala Jimin yang masih bersandar di bahunya. Tentu ia sadar, betapa khawatirnya lelaki itu karena kepergiannya. Tentu ia bisa melihat dengan jelas guratan lelah yang hadir di wajah lelaki itu saat pertama kali Jimin membuka pintu kamar. Tentu ia bisa merasakan bagaimana khawatirnya Jimin beberapa hari ini saat dirinya memutuskan untuk menyerah akan semuanya.
Secara perlahan, Yoongi bangkit dari posisi awalnya. Ia memaksa menggerakkan seluruh sendinya yang terasa kaku hanya untuk membaringkan Jimin tepat di sebelah tubuhnya. Tak apa jika tubuhnya mati rasa sehabis ini, yang penting Jimin tidak bangun dengan rasa sakit ketika hari esok tiba.
“Maaf.” Pada akhirnya memang dirinya ditakdirkan lahir dengan sifat egois yang bahkan membuat orang yang ia cintai merasakan rasa sakit seperti ini.[]