Hatsukoi [43]
Jauh di depan sana teman-teman mereka berjalan berpasangan dengan langkah sejajar. Jimin mengamati bagaimana sedari tadi Jungkook berusaha menempeli Taehyung dengan berbagai cara, sementara tidak jauh dari mereka Hoseok berdampingan dengan Jaehyung sembari meneguk boba ukuran sedang yang sudah tidak sedingin beberapa saat yang lalu.
Sementara dirinya... berjalan bersebelahan dengan Yoongi, memberikan jarak sekitar lima belas sentimeter, tidak lupa dengan kecanggungan yang begitu kental. Ah, apa cuma dirinya yang merasakan ini? Karena jelas Yoongi di sebelahnya hanya melangkahkan tungkai kakinya sembari menatap lurus ke arah teman-temannya.
Apa cuma dirinya yang merasa aneh dengan atmosfir yang terbangun di sekitar mereka? Kini ditambah kepalanya terasa amat pusing sebab perasaan mendebarkan di dalam dirinya yang tidak kunjung hilang.
“Bosen, ya?” Suara rendah yang teredam masker itu begitu jelas terdengar di telinga kanannya. Di sana Yoongi menurunkan maskernya sebelum menarik tangan Jimin berniat memisahkan mereka dari kelompok.
Jimin yang bingung serta terlalu lemas pun hanya mengikuti kemana arah kaki Yoongi membawa tubuh mereka. Tubuhnya sedikit limbung saat menaiki eskalator, beruntung dengan sigap Yoongi menahan tangannya hingga mereka berdiri bersebelahan di atas tangga berjalan itu.
Manik mata hitamnya digulirkan menelusuri bagaimana megahnya pusat perbelanjaan ini dibangun. Mengamati begitu ramainya mall itu dengan beragam pengunjung di dalamnya.
Ugh.. jika dipikir lagi dengan mereka memisahkan diri, malah membuat mereka tampak seperti sedang kencan. Aneh. Namun kumpulan kupu-kupu terbang di dalam perutnya tak ingin diam.
Jimin menggendong tas ranselnya erat, berusaha mengikuti langkah kaki lebar Yoongi yang semakin memimpin di depan. Pria ini jalannya begitu cepat, beda sekali dengan dirinya.
Lelaki itu menghentikan langkah kakinya saat melihat tangan putih dengan urat menonjol terulur di depannya. Telapak tangan Yoongi yang kasar dengan kapalan yang hadir di berbagai sudut itu menggenggam tangannya erat seolah ingin berbagi kehangatan di dalamnya.
Satu hal lagi yang ia tahu tentang Yoongi. Tangan pria itu tidak sedingin kelihatannya.
Jimin bersemu merah saat merasakan tangan kecilnya terbungkus sempurna oleh tangan lebar Yoongi. Ia malu, namun juga menikmati rasa berdesir hangat yang timbul di dadanya.
Tanpa berucap sepatah kata pun, serta tanpa mengatai jalannya yang lebih lambat, Yoongi membawa Jimin hingga berjalan berdampingan dengan dirinya. Langkah pria itu yang tadinya begitu cepat kini sedikit dipelankan guna menyamai langkah kakinya yang kepalang santai.
Lebih banyak juga waktu yang mereka habiskan bersama hanya untuk melewati lorong panjang serta deretan toko baju di lantai itu.
Senang? Entahlah. Perasaannya begitu rusuh berputar berantakan di dalam kepalanya.
“Gue tau tadi lo mau mampir ke toko buku. Cuma karena yang lain mau makan duluan jadinya lo gak enak, kan?” Yoongi lanjut mengeratkan genggamannya pada tangan Jimin. Senyum gusinya muncul saat melihat Jimin mengangguk malu menyetujui ucapannya barusan.
Sial, kini Jimin benar-benar memerah.
Tiga hal yang Jimin pelajari tentang Yoongi pada hari ini. Yoongi itu jalannya cepat melebihi dirinya. Yoongi itu tangannya hangat dengan kapalan dimana-mana. Dan yang terakhir, Yoongi itu seorang pengamat yang baik.[]