Trash Talking [192]
Seokjin mengaduh pelan saat gaungan musik klub malam mulai memasuki gendang telinganya. Matanya menyipit berusaha menajamkan penglihatannya di dalam sana.
Aliran darah yang berjalan lancar di sekujur tubuhnya berdesir halus saat mendapati bagaimana 'kacau'nya klub malam itu saat pertama kali kakinya diinjakan ke dalam sana. Silakan sebut dirinya orang yang tidak berpengalaman, karena memang dirinya baru saat ini berani berkunjung ke tempat para makhluk malam itu.
Biasanya ia beserta kedua rekan kerjanya hanya minum-minum ringan di bar kecil yang bahkan ahjumma penjaga tokonya saja sudah mereka kenal dengan baik. Hanya minum, tanpa mencari teman tidur.
Mungkin tidak semua tempat seperti ini, pastinya hanya beberapa di antara puluhan klub malam yang tersebar di distrik kantornya. Namun, ia salah satu orang yang 'tersesat' masuk ke dalam tempat yang salah, hanya karena dekat dengan kantor. Lagipula Seokjin mana tahu tempat mana yang bagus dan tidak. Yang ada di dalam kepalanya pada saat ini hanyalah ingin mencoba nakal guna melepaskan beban di dalam kepalanya.
Seokjin melangkahkan tungkainya dengan kaku sebelum duduk tepat di atas kursi yang disediakan di dekat meja bartender. Berulang kali ia berusaha mengacungkan tangannya untuk memesan, tetapi hanya tatapan abai yang ia terima.
Apa tampangnya terlalu cupu dan terlihat miskin? Sampai-sampai dirinya tidak dilayani seperti orang kebanyakan di sini?
Sungguh pelayanan yang benar-benar buruk. Ia benci.
Seokjin memutar tubuhnya hingga manik mata hitamnya bertatapan dengan lantai dansa yang ramai akan orang berdesakan menari tanpa tahu malu di sana. Dari pakaian minim hingga tidak berbusana hadir di pandangannya, bahkan dirinya sempat menangkap beberapa orang melakukan hal tak senonoh yang membuatnya tergagap singkat.
Tidak, terlalu liar. Bisa-bisa dirinya menjadi gila hanya karena ingin melupakan gambaran tentang Yoongi yang menyiraminya dengan kata-kata buruk saat di pantry.
Menyebalkan, masih teringat saja. Rasanya memori tentang beberapa minggu yang buruk bersama Yoongi akan terus terulang di dalam kepalanya.
Langkah kaki Seokjin yang sebelumnya berniat ingin segera beranjak dari sana terhenti saat mendengar suara berat nan rendah yang terasa sangat familiar di telinganya. Suara seseorang yang saat ini sangat ia benci hingga ke ulu hati.
“Gue mau yang gak berat, Sohn. Kayak biasa.”
“Today was a rough day to you, ya?” Bartender yang Yoongi panggil sebagai 'Sohn' itu membalas permintaan Yoongi dengan senyum mengembang yang terlihat begitu menyebalkan di mata Seokjin. Yah, pokoknya tidak terlihat ramah.
Bagaimana bisa orang seperti Yoongi terlihat akrab dengan bartender yang baru saja mengabaikan dirinya beberapa saat lalu? Seorang Yoongi yang bahkan hanya bisa berucap kasar pada teman-temannya di kantor setiap hari. Lelaki kasar yang begitu Seokjin hindari.
“Yak! Kenapa tadi lo gak hampirin gue? Padahal di sini gue juga pelanggan!” seru Seokjin berapi-api sembari memukul meja dengan kencang. Beberapa saat tatapan mata semua orang tertuju pada pria itu sebelum kembali mengabaikannya seolah tidak ada hal penting yang sedang terjadi saat ini.
Sohn sang bartender yang menyadari Seokjin tengah memarahi dirinya pun terlihat naik pitam hingga menggulung lengan kemejanya sebatas sikut. Sebelum sang bartender sempat melayangkan pukulannya, Yoongi terlebih dahulu menarik keluar Seokjin dari sana. Mengabaikan segelas minuman beralkohol yang baru saja ia pesan.
Sial, baru saja Seokjin ingin mempertahankan harga dirinya di dalam sana, Yoongi tiba-tiba saja menariknya keluar tanpa penjelasan yang lebih lanjut. Menyebalkan.
Seokjin memasrahkan langkah kakinya mengikuti kemana arah langkah kaki Yoongi membawanya. Baru setelah beberapa meter mereka menjauh dari klub malam itu, Yoongi duduk di trotoar jalan sembari meremat kepalanya dengan erat.
“Lo Seokjin, kan?”
“Seokjin?! Enak aja, gue nih-”
“Berisik. Liat, gara-gara lo, habis ini keanggotaan gue dicabut dari sana,” gerutu Yoongi sembari mengusak rambut hitamnya dengan kasar.
Seokjin yang merasakan sedikit rasa simpati hadir di dalam dirinya pun ikut duduk tepat di samping Yoongi yang terlihat sama hancurnya seperti beberapa hari terakhir. Tatapan tajam lelaki itu terarah lurus menatap barisan toko yang sudah tutup dalam diam.
“Maaf,” gumam Seokjin dengan nada rendah. Sejujurnya ia ingin sekali menertawai Yoongi yang saat ini terlihat seperti sedang merajuk dengan bibir bawah yang maju beberapa senti. Terlihat begitu lucu, di matanya. “Nanti gue kasih tau bar yang enak aja, daripada lo nongkrong gak jelas di klub kayak gitu. Lo bisa terjerumus.”
“Tahu apa lo soal gue?”
“Gue mungkin gak tahu apa-apa tentang lo. Tapi gue tahu, lo gak lagi dalam keadaan terbaik lo saat ini. Gue minta maaf karena udah ngacauin healing lo malam ini.” Seokjin mengepalkan kedua tangannya yang mendingin sebab ia melupakan hotpack miliknya di laci kantor. Asap putih keluar dari bibirnya yang mulai menggigil kedinginan.
Beberapa saat udara dingin yang sarat akan keheningan menjumpai mereka hingga akhirnya suara sepatu kets belel milik Yoongi terdengar bergesekan dengan aspal di bawahnya memecah rasa hening nan canggung yang mereka ciptakan. Tiba-tiba saja Seokjin merasakan lehernya terlilit asal oleh syal merah bermotif kotak-kotak, serta tangannya mulai menghangat karena sebuah hotpack diletakan terapit di antara telapak tangannya.
Bahkan saking tidak percayanya Seokjin kepada kejadian yang baru saja terjadi, pria itu tetap terdiam dalam posisi awalnya. Berusaha berpikir sedemikian rupa, berusaha menampik jika kedua hal yang sebetulnya terasa manis itu dilakukan oleh orang kasar seperti Yoongi.
Seokjin mendongak menatap dagu dan rahang tajam Yoongi dari bawah, perlahan manik matanya meneliti bagaimana leher Yoongi tampak kosong karena syal yang sebelumnya terikat manis di leher lelaki itu kini bergelung rapi menghangatkan area lehernya. Tidak lupa kedua tangan Yoongi yang disembunyikan di dalam kantung padding hitamnya yang sekilas terlihat gemetar karena rasa dingin.
Perhatian kecil yang kini membuat wajahnya memanas. Perhatian kecil yang berasal dari seseorang yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
“Ayo, katanya mau anterin gue ke bar yang enak. Kalo birnya manis, lo hutang sepuluh ribu won sama gue.” Yoongi menundukkan wajahnya menatap wajah Seokjin yang memerah serta tersamarkan oleh lampu jalan yang redup. Senyum gusi yang sebelumnya tidak pernah Seokjin lihat kini terukir indah di wajah seorang lelaki yang berbeda satu tahun dengannya itu.
Saat itulah ia tahu, jika dirinya jatuh cinta kepada Min Yoongi. Teman kerjanya yang belum genap sebulan bergabung di kantornya. Teman kerjanya yang suka sekali mengatai dirinya dengan ucapan kurang ajar.
Min Yoongi dengan seribu bayang-bayang gelap yang belum ia ketahui sepenuhnya. Min Yoongi yang hancur. Min Yoongi yang diselimuti warna hitam dan putih. Min Yoongi yang penuh akan perhatian kecil dan manis pada hari ini.
Sial, dirinya telak jatuh cinta pada lelaki ini.[]