Hatsukoi [74]

Suasana yang sama dengan dua atau tiga tahun yang lalu. Suasana cafe bertema klasik yang dulu mencuri perhatiannya. Suasana cafe yang didominasi warna cokelat kayu mahoni memanjakan matanya saat pertama kali melangkahkan kaki setelah beberapa tahun tidak mampir sejenak, serta aroma biji kopi hasil brewing yang memasuki indra penciumannya sangat dalam hingga terasa di atas lidah.

Perbedaannya hanya terletak pada lantai dua yang baru selesai dibangun sejak satu tahun lalu, kondisi cafe yang semakin ramai berbeda dengan dulu, tidak lupa dengan banyaknya barista yang diganti. Namun, satu perubahan yang paling mencolok bagi dirinya.

Tentu, keberadaan Yoongi yang saat ini tengah bersantai sembari meneguk segelas americano dingin begitu mencuri perhatiannya. Melihat pria itu di depannya dengan tenang mengutak-atik laptop guna membuat laporan terasa sangat begitu menarik di matanya.

Kehadiran Yoongi sebagai 'teman'nya di sini begitu berbeda dari alur di saat pertama kali ia menemui Yoongi. Dulu pria itu akan duduk santai bermain gitar di atas panggung kecil di dalam cafe, sembari bernyanyi dengan suara manis dan beratnya tanpa berusaha mencari atensi dari pengunjung. Dulu pria itu bernyanyi di sana, terhanyut dalam lantunan melodi yang dibawakan oleh gitar klasik yang bernamakan, Puma.

Ah, saat pertama kali ia bertemu Yoongi, ya? Prediksi ramalan cuaca pada hari itu meleset dari perkiraan awal. Hujan turun dengan deras menyebabkan Jimin yang saat itu tidak membawa payung diharuskan mencari tempat berteduh guna menyelamatkan seragam putih abu-abunya agar tidak basah terkena air hujan. Bahkan ia masih ingat bagaimana aroma petrichor memasuki indra penciumannya pada saat itu.

Lagu yang dimainkan oleh Yoongi bukan lagu lawas tahun delapan puluhan, mau pun lagu pop yang sedang naik daun pada masa itu. Jimin yang merasa begitu asing dengan lirik serta nadanya pun hanya fokus mengamati petikan serta nada demi nada yang Yoongi mainkan.

Nyanyiannya tidak fals tidak juga terdengar sangat bagus hingga membuat rahang terjatuh. Namun, entah kenapa pada hari itu Jimin begitu terpukau akan penampilan si gitaris. Meskipun tidak tahu menahu lagu apa yang dimainkan, tetap ia dapat merasakan ketulusan si pemain di tengah penampilannya.

Maka ia mendeklarasikan jika hari itu adalah hari pertama saat Yoongi mencuri hatinya. Yoongi, seorang mahasiswa tahun pertama yang kini sedang fokus mengerjakan laporan di laptopnya.

Jimin mengulum bibir tebalnya sebelum kembali menyesap minuman cokelat hangat yang tadi ia pesan. Ia menertawakan dirinya sendiri karena sebuah scene flashback selama sekitar tiga puluh menit membuat minumannya tak lagi hangat seperti semula.

Bodoh, karena cinta. Padahal tidak terbalas. Bahkan sebelumnya pun Yoongi tidak tahu eksistensinya ada di dunia ini.

“Maaf, main sama gue bosen, ya? Gue gak kayak Jungkook yang banyak omong. Jadi, maaf karena emang gue gak semenarik itu.”

No, you're totally okay, kak. Lo keren.. kok.” Jimin memelankan nada bicaranya saat ia sampai pada kalimat kedua. Diam-diam merutuki dirinya sendiri saat mulutnya mengucap lantang isi hatinya.

Ia yakin, kini area pipinya yang panas sudah memerah seperti cabai rawit. Memerah seperti permen kaki yang begitu disukainya saat masih kecil.

“Lo juga keren, kok. Dengan cara lo sendiri. Gak tau ya, tapi lo emang positive vibes banget.”

“Alias gue cerewet ya?”

“Cerewet, tapi gue suka cerewet lo,” jawab Yoongi tanpa aba-aba hingga membuat napas Jimin seperti berhenti sejenak.

Sial beribu sial, kini wajahnya semakin memanas. Bayangkan saja dirimu dipuji sebegitu dalamnya oleh orang yang kamu sukai. Bahkan kini jantungnya sudah berdegup begitu cepat tanpa memberikannya sebuah istirahat.

“Gue—gue masih gak nyangka anak-anak kampus julukin lo cuek, tapi di chat sama ngobrol empat mata gini lo gak cuek, tuh?” Ya, ucapan retoris. Karena sejujurnya ia tidak pernah menganggap Yoongi sebagai pribadi yang cuek.

Justru seniornya ini begitu hangat dan penuh perhatian.

Nah, gue gak pernah peduli sama pandangan orang lain. Kalau mereka julukin gue sebagai orang yang cuek ya, yaudah. Life goes on.” Yoongi mematikan daya laptopnya sebelum melipat tangan di atas meja sembari menatap lurus kearah Jimin. Mata kucingnya yang begitu tajam mengamati Jimin dengan saksama untuk kesekian kalinya. “Kalo lo, lo julukin gue sebagai apa?”

Musisi yang perasa. Namun Jimin hanya menelan jawabannya dan hanya memberikan senyum kecil untuk pria di depannya.

Beberapa saat hanya percakapan melalui tatapan mata yang mereka lakukan. Berkali-kali saling melempar senyum tanpa mengeluarkan sebuah suara. Oh, mungkin hanya Yoongi yang terkadang mengeluarkan suara dehaman pelan akibat kecanggungan yang menyerang mereka berdua.

By the way, katanya lo mau nyanyi khusus buat gue. Bohong, ya?”

“Gak bohong,” jeda Yoongi sejenak guna melebarkan senyumnya. Membiarkan sudut bibirnya tertarik ke lain arah membentuk sebuah lengkungan manis. “Gue mau latih suara dulu, biar nantinya perhatian si tamu eksklusif sepenuhnya buat gue.”[]