Trash Talking [181]
Seokjin mematikan ponselnya sebelum melempar benda malang itu ke atas sofa kamarnya sembari mendengus pelan. Setelah keluar dari grup ia tidak tahu harus apa lagi.
Benar kata teman-temannya, ia egois, untuk sebuah cinta. Untuk sebuah perasaan yang bahkan tak terbalas.
Ia tahu semua perkataan Mingyu yang dilontarkan untuk dirinya adalah sebuah fakta yang tidak bisa ditampik dengan argumen apa pun. Maka, dirinya di sini hanya bisa mengabaikan itu semua, menutup telinga dan matanya dengan cara keluar dari grup mereka.
Menyedihkan. Hancur karena cinta. Egois karena cinta. Tanpa sadar dirinya memang berubah menjadi seseorang yang menyedihkan dan jahat.
Seokjin merebahkan tubuhnya di atas sofa putihnya dengan lemas. Lengan menutup matanya membuat kegelapan seketika menarik dirinya ke dalam sana.
Kembali ingatannya berputar kepada saat-saat dirinya pertama kali bertemu dengan Yoongi. Pria kasar yang begitu menyedihkan. Pria dengan masa lalu yang kelam. Pria yang hancur, karena cinta.
Dulu baginya, Yoongi adalah seseorang yang payah, pengecut. Pria itu hanya bisa membicarakan orang dari belakang. Pria itu bodoh dan dibutakan hanya karena sebuah cinta palsu.
'Aku tidak ingin menjadi orang bodoh seperti dia,' ucapnya beberapa tahun lalu saat melihat Yoongi. Kini malah dirinya yang terjerat dalam hal semu itu.
Beberapa bulan ia mengamati bagaimana Yoongi berubah secara perlahan. Pria itu berubah menjadi Min Yoongi yang baru seperti terlahir kembali. Min Yoongi berubah menjadi pria romantis berkepribadian baik yang begitu peduli akan orang yang ia sayang.
Tidak, bukan berubah. Karena sebetulnya, sifat yang ditunjukkan oleh Yoongi akhir-akhir ini adalah sifat asli yang disembunyikan oleh pria itu. Dan Jimin adalah satu dari satu juta orang yang membuat Yoongi kembali memunculkan sifat itu kembali ke permukaan.
Jimin, hanya Jimin yang dilihat pria itu. Bukan dirinya. Tidak ada Kim Seokjin sedikit pun di hati pria itu.
Pintu kamar mandi di dalam kamarnya berbunyi, tanda jika seseorang baru saja keluar dari sana. Seokjin sedikit mengangkat kepalanya guna melihat ke arah seseorang yang kini tengah memenuhi isi kepalanya. Pria itu berjalan menuju nakas terdekat sembari memakai kaus oblong yang beberapa menit lalu Seokjin siapkan untuk dipakai.
Yoongi di sana berdiri sembari mengeringkan rambutnya yang basah akibat guyuran air dari shower. Ya, benar, Yoongi. Min Yoongi yang sama dengan yang tadi ia bicarakan.
Miris, karena ia masih bisa membuka pintu rumahnya saat melihat Yoongi dengan tatapan kosong serta tubuh yang basah karena hujan berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Tatapan pria itu hancur, seperti beberapa tahun yang lalu.
Sekali lagi, karena cinta.
Kini ia merasa lebih jahat karena berbohong kepada Jimin perihal Yoongi yang tidak ada di tempatnya. Lebih jahat saat ia mempunyai pikiran untuk menjadi sebuah healing bagi Yoongi yang kini tengah hancur karena cinta.
Namun, melihat Seokjin dengan tatapan lurus pun pria itu enggan. Yoongi terlalu patah.
Sudah sedekat ini pun mereka tetap berdiam diri di masing-masing posisi. Seokjin yang berada di posisi awalnya, sementara Yoongi berbaring di ranjang double bed kepunyaan Seokjin.
Keadaan begitu hening dengan diiringi suara pendingin ruangan yang setidaknya berusaha membuat keadaan menjadi lebih sedikit mencair. Meskipun tidak berguna.
“Jimin—ada yang cari gue?” Suara itu begitu serak untuk dikatakan sebagai suara normal biasa. Terlalu menyedihkan.
Seokjin menggeleng pelan menjawab pertanyaan Yoongi. Pria itu menggumamkan kata 'tidak' dengan pelan, sembari menahan suaranya yang bergetar menahan tangis.
Sulit melihat cintanya hancur karena orang lain di depan matanya sendiri. Tanpa sadar, kini ia pun kembali berbohong kepada Yoongi. Berbohong, demi keegoisannya semata.
Meskipun Yoongi sedikit mengoreksi perihal menjadikan teman-temannya sebagai objek, tetap saja hanya Jimin dan Jimin yang ada di pikiran pria itu.
Sekali lagi, dirinya kalah telak dalam mengejar cintanya.[]