Jimin merapikan pakaiannya. Jaket denim biru dongker, celana levis hitam, serta kaus putih sebagai layer pertama outfitnya hari ini. Sangat kasual dan nyaman karena hari ini bisa dipastikan ia akan berdesakan saat di konser amal nanti.
Malam semakin larut, mulai memasuki jam dua belas dini hari waktu Indonesia bagian barat. Tidak sadar hari sudah berganti, sementara makhluk di dalam kost-an di jalan Kamboja itu masih terbangun menanti munculnya fajar.
Kedua insan itu berdiri di depan stand odeng yang sama dengan yang terakhir kali Yoongi kunjungi saat bertemu dengan Jungsoo. Namun, kali ini Jimin yang menemani di sampingnya.
Hujan turun deras malam itu. Berawal dari rintik kecil yang turun keatas jalan ber-aspal, sampai guyuran besar disertai guntur dan kilat yang ikut serta menemani malam yang dingin itu.
Siang bolong paling panas biasanya jatuh pada hari Rabu atau Jumat. Entah apa alasannya, di hari-hari itu apalagi ketika waktu telah menunjukkan jam dua belas siang, pastilah udara akan sangat menyengat rasa panasnya.
Yoongi mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja pantry. Pria itu menunggu dengan sabar seseorang yang telah membuat janji dengannya pada pagi tadi. Entah dirinya yang terlalu bersemangat atau apa, bahkan ia sudah turun ke bawah lima menit sebelum jam istirahat makan siang.
Jimin menemukan Yoongi sedang nyebat, atau merokok, di sudut dekat mesin cuci. Benar kata Taehyung. Entah telah menjadi tempat tetapnya atau bagaimana hingga Taehyung hafal.
Yoongi membuka pintu kamarnya untuk melihat keadaan sekitar di lantai tiga itu secara diam-diam. Sudah jam sebelas malam, harusnya orang-orang telah masuk dalam dunia mimpinya masing-masing. Ya, betul sih. Namun, dengan keadaan kost ini yang semua individunya berstatus mahasiswa, jam sebelas malam lebih terlihat seperti jam sebelas pagi.