CLBK Kost [28]

Jimin menemukan Yoongi sedang nyebat, atau merokok, di sudut dekat mesin cuci. Benar kata Taehyung. Entah telah menjadi tempat tetapnya atau bagaimana hingga Taehyung hafal.

Perlahan lelaki itu melangkahkan kakinya mendekati Yoongi, menepuk pelan pundak si pria agar mengalihkan atensi kearahnya. Sontak asap rokok yang mengepul lumayan tebal mengenai wajahnya. Dengan sigap ia pun mengipas-ngipaskan tangan di depan wajahnya untuk menghilangkan asap rokok yang menganggunya.

“Nih.”

Jimin menyodorkan sekotak pizza itu kearah Yoongi, sebelum membalikkan badannya untuk segera pergi dari sana. Beruntung Yoongi sempat menahan lengan lelaki itu agar tidak pergi begitu saja dari sana.

“Masih laper gak?”

“Kenapa sih?”

“Gue gak mungkin bisa habisin satu kotak sendirian. Kalau gak mau ikut makan gapapa. Tapi, temenin gue disini.”

“Lo kan tau gue gak bisa kena asap rokok, Gi.”

Lantas setelahnya Yoongi mematikan rokoknya dan meniup-niup asap yang tersisa. Bahkan pria itu melakukannya selama beberapa saat sebelum menoleh kearah Jimin dengan sebuah senyuman yang menyatakan jika daerah itu sudah bersih dari asap rokok.

Jimin pun duduk di sebelah Yoongi setelah mencari-cari bagian yang bersih dari debu. Hening menyapa mereka sesaat, menemani siang bolong khas kota Jakarta yang panas di kost-an khusus laki-laki itu.

“Gue gak tau lo ngerokok.”

“Baru-baru ini sih gue kenal sama rokok. Kayaknya semenjak skripsian.”

Respons yang diberikan oleh Jimin hanya anggukkan kecil. Lelaki itu memperhatikan Yoongi yang tengah memakan sepotong pizza. Begitu paham jika Yoongi belum makan sedari pagi tadi.

Jimin mengamati Yoongi yang terlihat lebih kurus dari saat terakhir mereka bertemu. Saat terakhir mereka bertemu... berarti saat dirinya kelas dua belas SMA dan Yoongi yang telah sampai semester dua bangku perkuliahan. Tepat sebelum Jimin mengucap kata putus di depan rumah pria itu, bahkan Jimin masih bisa merasakan air hujan yang membasahi wajah mereka.

Benar-benar sebuah kenangan yang tidak bisa ia lupakan. Rasanya benar-benar seperti sedang diajak bernostalgia ke waktu yang lampau.

“Bang Brian itu orang kaya, ya?”

“Iya, sering banget nih ngasih beginian.”

Sekali lagi Jimin hanya ber-'oh' ria guna menanggapi jawaban Yoongi. Beberapa kali pandangannya jatuh kepada telapak tangan si pria yang penuh dengan kapalan, entahlah, mungkin disebabkan oleh terlalu lama memegang alat tulis atau terlalu sering berlatih gitar.

Mantannya itu termasuk seseorang yang pekerja keras. Bisa melakukan banyak hal dan bisa belajar banyak hal dengan cepat. Bahkan terkadang dirinya iri dan minder sekali jika disandingkan dengan seorang Min Yoongi.

“Lo kuliah ambil jurusan apa Ji?”

“DKV, sejurusan sama Taehyung.”

“Taehyung gebetan baru lo, ya?”

“Sinting lo, ya nggak lah. Lo kan tau dari dulu gue temenan sama Taehyung.”

Jimin memukul pelan lengan yang lebih tua. Merasakan ukuran lengan yang terasa lebih besar dibandingkan dengan yang dulu.

Ah, hal-hal seperti inilah yang membuatnya malas untuk bertemu Yoongi. Nostalgia akan kenangan masa lalu. Belum lagi rasa rindu yang dengan perlahan memasuki dada.

“Gue arsi.”

“Dari dulu lo emang pinter sih. Gak heran gue.”

Anak OSIS bagian kedisiplinan, ketua ekskul basket, belum lagi juara satu paralel secara berturut-turut. Kembali dirinya merasa minder dengan segala pencapaian yang Yoongi punya dari dulu hingga sekarang.

“Lo itu juga pinter. Semua orang pinter kok pada dasarnya, cuma bidangnya aja yang beda. Lo pinter gambar sama imajinasi lo bagus, sementara gue pinter hitung-hitungan. We're not different at all. Yang beda mah perasaannya aja.”

“Sempet-sempetnya gitu ya, lo? Pasti lo disana udah punya pacar baru lah, gak mungkin manusia itu setia. Orang goblok yang masih sayang sama mantan.”

“Mungkin aja, gue buktinya. Gue goblok, masih sayang sama lo. Sejak putus sama lo, gue gak pernah pacaran lagi.”

Sebuah kalimat tersirat yang Yoongi sampaikan tepat di depannya. Jika ia boleh sedikit merasa pede, bolehkah ia mengambil kesimpulan jika ternyata Yoongi masih menunggu dirinya?

Menunggu mereka berdua sama-sama dewasa. Bukan hanya umur, begitu juga dengan dewasa mental dan pikiran. Bukan berpacaran hanya karena cinta monyet, tetapi pacaran yang didasari oleh sebuah komitmen.

“Dah yuk, nanti pizza nya gue taruh di kamar aja. Katanya lo mau tidur, kan?”

“Lho, katanya manggil gue biar lo bisa habisin pizza-nya. Sekarang kok belum habis lo malah udahan?”

“Alesan doang sih, gue pengen ngobrol berduaan aja sama lo. Itu kenapa juga gue pindah ke belakang, Yeonjun kepoan orangnya.”

Memang Min Yoongi dengan segala otak pintar dan rencana yang matang. Ia sendiri pun tidak menyadari jika waktu sudah berlalu selama satu jam penuh. Mengobrol bersama pria itu, hanya berdua saja.

Jimin pun tertawa sekilas. Menyadari dirinya yang terlalu terbawa suasana.

“Sekarang ada gue nih diatas. Kalo ada dedemit panggil gue aja.”

“Emang lo berani? Waktu itu ditempelin cicak aja lo teriak.”

“Ya engga sih. Siapa tau lo bisa nginep di kamar gue semaleman. Kalo akhirnya kayak gitu mah gue mau terima kasih sama itu setan.”

“Sifat ngardus lo masih belum ilang ya....”

“Cuma buat lo.”

Sekali lagi Jimin dibuat tersipu malu olehnya. Tidak menyangka jika kata-kata Yoongi bisa menyentuh hatinya seperti itu. Yah, mungkin nanti ia harus berterima kasih kepada Taehyung.[]