CLBK Kost [47]

Siang bolong paling panas biasanya jatuh pada hari Rabu atau Jumat. Entah apa alasannya, di hari-hari itu apalagi ketika waktu telah menunjukkan jam dua belas siang, pastilah udara akan sangat menyengat rasa panasnya.

Buruknya untuk Jimin, dirinya suka dan lebih cenderung merasa lapar ketika matahari sedang tinggi-tingginya. Kalau di daerah kost-annya yang lama, ia tentu sudah menguasai letak dan tempat semua pedagang kaki lima. Namun karena faktor daerah baru dan kost-an baru, ia tentu belum sehafal itu dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

“Ji, sayang.”

“Sayang sayang pala lo meledak.”

“Serem banget kepala gue meledak.”

“Lebih serem lo manggil sayang gitu anjing.”

Yoongi tertawa sekilas ketika mendengar umpatan yang dilontarkan oleh Jimin dengan santainya. Baru pria itu mengikuti Jimin duduk tepat di sebelah si mantan kekasih yang tengah menunggu gerobak batagor lewat di depan kost-an mereka.

Dengan santai, Yoongi meraih gitar yang ditempatkan dengan nyaman di sudut ruangan. Pelahan pria itu menyetem senar gitar hingga menemukan nada kunci yang pas, sebelum memainkan beberapa kunci sebagai pemanasan untuk memainkan sebuah lagu.

“Lo mau liat gue main gitar gak?”

“Nggak.”

Singkat, padat, dan jelas. Namun dapat membuat Yoongi tertawa hanya dengan satu kata yang diucapkan oleh Jimin tersebut. Senang sekali rasanya menggoda lelaki itu, selalu respons lucu yang diberikan oleh Jimin.

Meskipun Jimin menolak dengan keras tetap saja Yoongi duduk sembari memangku gitarnya dengan nyaman. Pria itu memainkan lagu celengan rindu tanpa vokal, mengingat masa-masa ketika dirinya masih berpacaran dengan Jimin dan sering menyanyikan lagu ini bersama-sama.

Sekali lagi bernostalgia akan masa lalu yang tidak mungkin mereka lupakan. Jimin yang tadinya fokus menatap kearah gerbang kost-an pun mulai memusatkan atensinya kepada Yoongi.

“Lo inget gak waktu kita nyanyi lagu ini di kamar lo?”

“Yang lo ditendang keluar sama bokap gara-gara ketauan mau nyium gue?”

Yoongi tertawa pelan sembari berdeham singkat. Jelas sekali waktu itu ayah Jimin sangat marah, karena pas sekali waktu pria itu masuk bertepatan dengan Yoongi yang ingin mencium Jimin. Waktu itu keluarga Jimin pun sudah tahu jika anaknya menyukai laki-laki, namun untuk berciuman dianggap melebihi batas antara anak menengah atas yang sedang berpacaran.

“Bokap gimana kabarnya?”

“Sehat.”

“Gak ikut ke Jakarta?”

“Enggak sih, gue ngampus sendiri disini.”

Kembali kedua insan itu terdiam. Hanya terdengar suara petikan gitar yang dimainkan oleh Yoongi dan kicauan burung yang lewat sekilas.

Jimin kembali memusatkan atensinya kearah gerbang. Enggan untuk membalas tatapan Yoongi yang terlihat minta untuk dibalas. Entahlah, rasanya aneh ketika sudah berpisah selama satu tahun namun kini kembali di hadapkan satu sama lain. Herannya lagi kini mereka satu kost dan tinggal di satu gedung yang sama.

“Gue gak tau lo balik ke Jakarta. Lo bilang lo keterima di Malang.”

“Iya, maaf.”

Suasana dan atmosfir canggung kembali menemani mereka berdua. Bahkan Yoongi menghentikan permainan gitarnya.

Tidak berusaha untuk mencari topik obrolan agar kembali terkoneksi antara satu sama lain. Hanya diam, sembari tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ingin menghilangkan rasa canggung pun sudah terlanjur. Diam-diam Jimin menyesal membawa salah satu topik yang adalah salah satu alasan putus mereka.

Tiba-tiba saja suara dentingan dari pagar besi yang diketuk memasuki indra pendengaran mereka. Membuat kedua insan itu memusatkan perhatiannya kearah gerbang.

Terdapat seorang laki-laki berusia di tengah dua puluh tahunan berdiri disana dengan senyuman lebarnya. Tangannya melambai heboh kearah Yoongi.

“Mas Yoongi! Tadi manggil saya ada apa, ya?”

“Oh ini bang, ada yang mau beli batagor. Ji, nih batagornya.”

Yoongi menepuk pundak Jimin dengan lembut. Sementara lawan bicaranya itu hanya terdiam sembari memproses kejadian tersebut. Baru ingin menanyakan kejelasan, namun pria itu sudah terlanjur naik ke lantai atas. Yah, mungkin bisa nanti ia tanyakan di ruang obrolan mereka. Yang pasti sekarang tujuan utamanya adalah membeli sebungkus batagor yang akan ia makan nanti.[]