Trash Talking [55]
“Halo, Jimin-ssi.”
Yoongi menyapa Jimin dengan intonasi suara yang terdengar bahagia. Entah karena gajinya yang sudah cair atau karena menemukan lelaki itu di kafetaria kantor pada hari-hari seperti ini.
Sudah beberapa hari mereka tidak bertegur sapa atau pun berbalas pesan di ruang obrolan. Ya, rasanya Yoongi tidak sudi juga untuk berbicara dengan lelaki itu. Terlalu malas dan buang-buang waktu.
Jimin yang sebelumnya dengan tenang mengaduk teh beraroma melati yang masih panas pun segera menghentikan pekerjaan yang ia lakukan. Sepenuhnya mengalihkan atensi kearah Yoongi yang sedang berjalan mendekati pantry.
Senyum pria itu terlihat mengejek. Bahkan cenderung menyebalkan di banding menyejukkan hati. Jimin pun merasa sedikit was-was dengan kalimat apa pun yang akan Yoongi lontarkan pada dirinya nanti.
“Kantor jadi lebih sejuk ya kalau gaji udah cair.”
Basa-basi. Pria itu disana hanya menyandarkan tubuhnya di meja, menatap kearah Jimin sembari melipat tangan di depan dada. Jelas sekali maksud dan tujuan dari Yoongi adalah untuk mengatainya.
Jimin pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sekilas. Setidaknya tetap menjaga kesopanan karena seseorang yang tengah mengajaknya bicara ini lebih tua darinya.
Tanpa disadari, Yoongi bergerak semakin mendekat kearah Jimin. Bibirnya yang tipis diarahkan ke telinga seseorang yang terdiam kaku di depannya.
“Anak lo, sehat kan?”
Pria itu berucap pelan dengan nada mengejek, bahkan diiringi suara tawaan yang cenderung terdengar seperti sedang mencemooh Jimin.
Dengan gugup Jimin memutar tubuhnya kearah Yoongi. Menatap nyalang pria itu dengan tatapannya yang tajam.
“Sehat.”
Yoongi tertawa puas dengan respons balik yang Jimin lontarkan. Bahkan mimik serius dari lelaki itu kini juga terlihat lucu di matanya.
Entahlah. Sebal sekali rasanya.
“Ahh.. begitu ya? Ayahnya—siapa itu? Jungsoo? Lo penasaran gak sih ayahnya itu siapa?”
Jimin mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Lelaki itu tampak geram dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Yoongi kepadanya. Seseorang boleh mengacaukan atau menganggu hidupnya, tetapi tidak dengan hidup anaknya.
“Ya, maksud gue kan, pasti lo setiap malam digilir kan? Masa lo—”
“Yoongi-ssi.”
Panggilan singkat dari Jimin itu membuat Yoongi menghentikan ucapannya sejenak. Melihat Jimin yang berdiri disana dengan mimik datar menahan emosi yang baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya.
Intensitas ketegangan pada mereka berdua meningkat. Menghasilkan Yoongi yang berdiri tegap dengan kaku disana.
“Maaf kalau Jungsoo merepotkan Anda. Berapa uang yang Anda beri kepada Jungsoo pada waktu itu? Saya akan mengembalikannya pada Anda.”
“Itu gak per—”
“Perlu. Saya tidak ingin ada urusan yang belum selesai dengan Anda.”
Yoongi menghela napasnya yang sempat ia tahan beberapa saat. Pria itu mengalihkan tatapannya kearah lain sebelum menyebut nominal uang yang ia beri pada Jungsoo waktu malam itu.
Padahal ia tulus memberinya. Entah kenapa menjadi disalah artikan oleh Jimin.
Dengan cepat lelaki itu merogoh kantung celananya. Meraih dompet hitamnya dari sana sebelum mengeluarkan satu lembar lima ribu won dan menyerahkannya kearah Yoongi.
“Tolong diterima.”
Jimin meletakkan lembaran uang itu diatas meja pantry karena Yoongi tak kunjung mengambilnya. Dengan tergesa lelaki itu membawa cangkir berisikan teh hangat yang ia buat sebelumnya dan kembali berjalan keatas, ke meja kerjanya.
Lelaki itu meninggalkan Yoongi yang terdiam disana sembari memegang lembaran uang yang sebetulnya tidak perlu Jimin keluarkan. Entah kenapa, rasanya sesak. Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya penyesalan.[]