Trash Talking [102]
Kedua insan itu berdiri di depan stand odeng yang sama dengan yang terakhir kali Yoongi kunjungi saat bertemu dengan Jungsoo. Namun, kali ini Jimin yang menemani di sampingnya.
Seperti yang Yoongi bilang pada ruang obrolan tadi pagi, ia ingin mentraktir Jimin apa pun itu. Menyerahkan semua keputusan akhir pada lelaki itu. Tidak ada maksud spesial, hanya... entahlah mungkin dari dorongan dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Cuaca malam yang cenderung sejuk daripada dingin atau panas. Cocok untuk ditemani dengan enam tusuk odeng yang mereka makan satu per satu.
Sebetulnya, pada awalnya Yoongi ingin sekali mengajak Jimin untuk makan malam formal di restoran menegah atas. Sayangnya pekerjaan mereka selesai lebih larut pada hari itu. Hingga kebanyakan restoran telah tutup dan tidak menerima pesanan lagi.
“Jungsoo kelas berapa, Jimin?”
“Tahun ini masuk sekolah dasar.”
“Kalo pulang sekolah, dia gak lo jemput”
Jimin memberikan gelengan singkat sebagai jawaban. Menghabiskan satu tusuk odeng yang berada di tangannya dengan perlahan.
Sementara disana Yoongi memperhatikan gerak-gerik lelaki itu dengan intens. Sedikit risih sebetulnya, malu juga ditatap sebegitunya oleh pria itu.
“Biasanya sih aku jemput, cuma hari ini dia ada les piano sampai malam. Jadinya ibuku yang jemput karena biasanya aku lembur,”
Sebenarnya tidak sepenuhnya bohong. Memang biasanya Jimin yang menjemput Jungsoo pulang sekolah mau pun pulang les, namun untuk hari ini karena jam kerja padat sekaligus punya rencana bersama Yoongi yang membuatnya tidak bisa menjemput putranya.
“Kenapa sih lo lembur terus? Jam kerja seperti biasa mau pun jam kerja nambah ya sama aja toh gajinya. Yang ada lo drop, ke rumah sakit, keluar uang lagi.”
Yang dijatuhi kalimat panjang oleh Yoongi hanya tersenyum sekilas. Kepalanya menunduk menatap jalanan berbatu di bawahnya.
Yoongi yang melihat itu turut bingung dengan respon yang diberikan oleh Jimin. Dimana letak salah pada kalimatnya? Mau kerja sampai mati pun pada akhirnya perusahaan hanya akan memberikan gaji yang sama, dan ketika sudah tidak dibutuhkan maka kamu akan dibuang digantikan dengan yang baru.
“Perusahaan itu melihat etos kerja pegawainya, Yoongi-ssi. Kalau aku tidak melihatkan kerja kerasku bagaimana bisa aku mendapatkan jabatan yang lebih baik?”
“Tapi ya, lo kerja terlalu keras juga gak bagus. Toh kalau lo tipes trus mati, perusahaan bakal cuma tempel sebar brosur 'dicari karyawan baru'. Poin lo lembur disana gak sepenuhnya benar.”
“Memang betul, aku cuma membenarkan persepsi Yoongi-ssi tentang digaji dengan nominal yang sama.”
Yoongi mengangguk mengerti. Perdebatan mereka berujung pada tidak ada yang salah tidak pula yang sepenuhnya benar.
Memang benar adanya harus mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu. Baru mencapai satu persetujuan yang mufakat dan disetujui bersama.
Pria itu tertawa hambar. Menikmati dirinya yang mulai hidup dengan sifat yang berbeda.
Dirinya yang mudah naik pitam, digantikan dengan dirinya yang sabar sekali pun sering terkena kritik pedas dari atasannya. Dirinya yang malas mendengarkan opini orang lain, kini secara perlahan mulai menghilangkan sifat buruk itu.
Siapa lagi penyebabnya jika bukan tentang Jimin. Sekali lagi dunia memberitahunya jika menjadi orang baik bukanlah hal yang buruk. Terutama ketika dirinya tahu, Jimin telah melewati hal-hal tidak mengenakkan di dalam hidupnya.
Perlahan ia suka berada di sekitar lelaki itu. Ikut terkena pancaran sinar hangat yang menyejukkan hatinya. Ah, dahsyatnya kekuatan seorang Park Jimin memang benar adanya.[]