CLBK Kost [67]

Malam semakin larut, mulai memasuki jam dua belas dini hari waktu Indonesia bagian barat. Tidak sadar hari sudah berganti, sementara makhluk di dalam kost-an di jalan Kamboja itu masih terbangun menanti munculnya fajar.

Jam dua belas malam yang terasa ramai. Taehyung bersama Yeonjun bermain PS di kamar si maba, Yoongi yang masih sibuk bersemedi dengan skripsi di lantai tiga, serta Jimin di ruang tengah yang bermain dengan gitar walau hanya asal.

Hari ini termasuk hari Sabtu yang tenang, setelah lima hari penuh mengikuti kegiatan kampus dan UKM yang diikuti oleh masing-masing individu. Ya, mungkin sedikit berbeda dengan Yoongi yang tengah sibuk bimbingan skripsi guna memaksimalkan nilainya nanti.

Turut bersalah juga karena tadi sore ia malah membuat Yoongi menemaninya berkeliling di mall. Padahal harusnya pria itu fokus kepada skripsi saja.

Jimin terlihat memetik senar gitar itu dengan serius. Penasaran juga, karena sejak dulu dirinya jarang bahkan hampir tidak pernah menyentuh yang namanya alat musik. Paling jauh sekiranya pianika atau rekorder yang dimainkan saat pelajaran seni budaya.

Musik bukanlah salah satu bidang yang ia kuasai meski kini jurusannya menyangkut seni dan desain.

“Woi, ngapain sih? Anak kecil jam sepuluh udah harus tidur, dek.”

Yoongi duduk tepat di samping lelaki itu. Meletakkan dua buah teh kotak keatas meja kayu pasangan sofa yang kini mereka duduki.

Sementara yang di panggil pun hanya menoleh sekilas sebelum kembali terfokus pada gitarnya.

Menyerah dengan alat musik bersenar itu, Jimin mengopernya kearah Yoongi. Bermaksud untuk meminta pria itu memainkan lagu apa saja dari si alat musik.

Yoongi yang paham pun menyetem ulang gitarnya sejenak sebelum memetik senarnya hingga mengeluarkan beberapa nada.

“I love you too much, to live without you loving me back.”

Ost dari 'The Book of Life'. Jimin masih ingat, film tersebut adalah film pertama yang mereka tonton di bioskop.

Masih muda, dengan jiwa menggebu yang sangat bersemangat. Bahkan mereka menabung beberapa bulan untuk membeli tiket bioskop yang termasuk mahal bagi mereka pada jaman itu.

“There's love above love and it's ours, 'cause I love you too much.”

Pria itu hanya menyanyikan sepersekian menit dari lagunya yang mencapai dua menit empat puluh empat detik.

Hanya sebentar, namun sukses membangkitkan ingatan lama yang selalu dikenang dan diingat.

“Suara gue jelek ya? Kok lo diem aja?”

Tidak, bukan suara pria itu yang jelek. Ini hanya... dirinya yang sedang merindukan masa lalu. Maka, Jimin memberikan gelengan pelan sebagai jawaban pertanyaan pria itu.

“Ini lo dapet teh kotak darimana? Tau aja gue lagi ngidam teh kotak dari siang.”

Mencoba mengalihkan topik. Karena sungguh sebetulnya kepalanya terasa sangat pusing ketika memikirkan hal-hal itu.

“Maling gue, ya dari warung lah masih lo tanya.”

“Ada gitu warung yang buka jam segini?”

“Ya gue belinya kan tadi sore, gue simpen di kulkas. Lo mau? Mumpung ada dua nih.”

Yoongi menyodorkan satu buah teh kotak yang masih dingin itu kearah Jimin. Yang langsung diterima tanpa pikir panjang oleh lelaki itu.

Teh kotak ditambah ini barang gratis. Mana mungkin ia tolak.

“Lo kok bisa main gitar sih?”

“Ya bisa aja, otodidak ini.”

Kembali hening menyapa. Hanya ditemani suara angin berhembus serta seruputan teh kotak melalui sedotan.

Enak. Entah karena ini gratis, karena ini teh kotak, atau ia meminumnya bersama dengan sang mantan. Kalau kata orang sih mantan terindah, ya kalau indah kenapa putus?

Jimin tertawa geli, menghasilkan tatapan heran dari Yoongi. Takut-takut jikalau Jimin kesurupan karena sudah memasuki jam-jam dimana aktivitas makhluk astral mulai ramai.

“Kok tumben Bang Brian gak skripsian disitu?”

Lelaki itu menunjuk pojokan tempat pewe Brian untuk mengerjakan skripsi. Turut heran karena pria itu tidak terlihat sepanjang hari ini. Padahal biasanya yang paling mencolok mata karena tempatnya yang strategis.

“Kok lo nanyain Brian, sih? Tanyain gue aja kenapa.”

“Gak ada faedah nanyain lo tuh.”

Yoongi tertawa pelan. Sekali lagi, menggoda Jimin adalah salah satu hal yang disukainya. Selalu respon gemas nan mengocok perut yang diberikan oleh lelaki itu secara gamblang.

Satu hari lagi yang dihabiskan dengan saling bertengkar seperti kartun tom and jerry. Satu hari lagi yang terasa indah ketika dihabiskan bersama.[]