Trash Talking [79]
Yoongi mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja pantry. Pria itu menunggu dengan sabar seseorang yang telah membuat janji dengannya pada pagi tadi. Entah dirinya yang terlalu bersemangat atau apa, bahkan ia sudah turun ke bawah lima menit sebelum jam istirahat makan siang.
Tangan kanannya membawa kemeja putih milik Jimin yang telah terlipat rapi. Sementara matanya memindai ke seluruh area kafetaria berjaga-jaga jika saja lelaki itu ternyata telah hadir disana.
Total sudah hampir lima belas menit dirinya menunggu. Tungkainya yang terasa lelah dibawa menuju ke meja yang kosong, memutuskan untuk duduk disana. Dirinya kembali menunggu Jimin sembari duduk dengan tenang. Ia tetap berusaha untuk bersabar karena di pikirannya mungkin saja Jimin sedang sibuk.
Memang sebetulnya ialah yang tidak tahu diri mengajak lelaki itu untuk jauh-jauh bertemu di bawah. Padahal meja kerja mereka pun tidak terlalu jauh jaraknya.
“Yoongi-ssi, maaf. Anda sudah menunggu lama, ya?”
Napas Jimin terdengar berhembus dengan sangat berat. Terlihat jelas jika lelaki itu berlari dari lantai atas untuk sampai kesini. Sebuah effort besar yang dikeluarkan oleh Jimin, dan begitu di hargai oleh Yoongi sendiri.
Yoongi menggeleng pelan, menyangkal jika dirinya telah menunggu lama disana hanya untuk menjaga perasaan Jimin. Memasang senyum terbaiknya yang ditunjukkan kepada lelaki itu. Menyapa seseorang dengan sejuta pesona di depannya secara lembut dan meminta Jimin untuk duduk terlebih dahulu di depannya.
Setidaknya untuk menarik napas walau hanya sejenak.
“Kenapa lari?”
“Saya lupa melihat jam, lalu saya teringat akan janji saya dengan anda. Makanya saya berlari karena mengira pasti anda menunggu lama disini.”
Jimin berucap dengan nada penuh rasa bersalah. Kepalanya menunduk menatapi meja pantry, enggan untuk menatap balik individu di depannya.
Sementara Yoongi pun disana hanya memasang senyum kecil. Berusaha menenangkan Jimin yang terlihat sangat panik. Bahkan kesalahan lelaki itu tidak sebanding dengan semua kesalahan yang ia buat sejak dulu.
Hanya kesalahan kecil bagi Yoongi, namun dapat membuat lelaki itu sebegitu merasa bersalahnya. Yoongi suka bagaimana cara Jimin menghargai sesuatu hal di dalam hidupnya, yang sayangnya baru ia sadari sekarang.
“It's okay, gue gak masalah. Oh iya, ini kemeja lo. Makasih ya, udah pinjamin ini buat gue beberapa hari yang lalu. Maaf juga baru bisa balikin ke lo sekarang.”
“Ah, iya tidak apa-apa, Yoongi-ssi.”
Jimin meraih kemeja miliknya dari tangan Yoongi. Lelaki itu menyimpan kemeja berwarna putih itu di sisi kanan tubuhnya, berusaha untuk tidak membuat baju yang telah terlipat rapi itu menjadi berantakan.
Hening menyapa kedua insan itu. Sama-sama bingung harus membicarakan apa karena jarang bahkan cenderung tidak pernah duduk berhadapan seperti ini. Canggung dan kehabisan topik. Sungguh kombinasi yang sangat pas.
Jimin meremat tangannya dibawah meja. Sedikit merasa gugup karena ditatap intens oleh Yoongi. Aneh saja, rasanya.
“Itu.. kopi. Iya, kopi. Sebaiknya saya buat sekarang, ya?”
“Ajarin gue boleh? Siapa tau nanti bisa gue coba di rumah.”
“Boleh...”
Mereka berdiri bersamaan. Menuju alat pembuat kopi yang telah disediakan kantor. Menuju alat pembuat kopi yang menjadi saksi bisu obrolan mereka beberapa hari ini.
Dengan tegas dan yakin, Jimin mengarahkan sekaligus membantu Yoongi menyeduh kopinya sendiri. Beberapa kali lelaki itu dibuat tertawa oleh yang lebih tua. Atmosfir pun terasa lebih hangat karena rasa canggung yang berangsur-angsur hilang di telan canda tawa.
Suatu pemandangan yang tidak pernah terlihat sewaktu dulu. Sebuah pemandangan yang sangat langka Yoongi rasakan. Bahkan diam-diam Yoongi berjanji untuk terus mempertahankan senyum cantik milik Jimin agar tidak luntur digantikan kesedihan.[]