Trash Talking [89]
Hujan turun deras malam itu. Berawal dari rintik kecil yang turun keatas jalan ber-aspal, sampai guyuran besar disertai guntur dan kilat yang ikut serta menemani malam yang dingin itu.
Aroma petrichor menguar, menyapa indra penciuman dengan sopannya. Suhu yang sebelumnya dua puluh dua derajat celsius, kini turun ke angka yang menunjukkan dua puluh satu derajat. Cukup dingin, jika dibandingkan hari-hari sebelumnya memang.
Jalanan dipenuhi orang berpayung yang menghindari tetesan air hujan. Menolak baju mereka yang rapi untuk terbasahi air itu.
“Yoongi-ssi, kemeja-mu basah kuyup....”
Beruntung kedua insan itu berhasil berteduh di dalam lobby gedung apartemen Jimin. Beruntung juga karena ternyata lelaki itu tidak tinggal jauh dari destinasi terakhir mereka.
Tubuh Yoongi yang terlapisi oleh kemeja putih yang kini basah kuyup sedikit bergetar karena tiga pendingin ruangan yang ada di dalam ruangan tertutup itu. Belum lagi rambutnya yang lepek sebab terguyur air hujan yang lumayan banyak saat berlari tadi.
Jimin disana berdiri dengan rasa panik, memegangi bagian lengan atas si pria. Begitu sulit karena dirinya pun harus juga menjaga pandangan karena tubuh putih Yoongi yang tercetak jelas dibawah kain itu.
Terlihat tampan, namun ia juga merasa bertanggung jawab karena dirinya lah Yoongi menjadi seperti ini. Karena pria itu yang memberikan jaket levisnya untuk Jimin pakai agar tidak terbasahi air hujan. Aksi heroik yang akhirnya membuat Jimin khawatir karena bibir pria itu mulai memucat.
“Gue gapapa.”
“Yoongi-ssi aku pinjamkan baju, ya?”
“Lagi? Gue takut nge-repotin lo.”
Jimin menggeleng pelan, menandakan jika dirinya pun tidak merasa di repotkan oleh pria itu. Karena wajar saja, manusia adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri, pastilah ada saatnya kita membantu dan dibantu oleh orang lain.
Yoongi yang melihat respon Jimin hanya menundukkan kepalanya, menatap lantai putih di bawahnya dengan senyum sendu. Terlanjur merasa tidak enak hati karena telah merepotkan lelaki itu meski yang terkait pun tidak merasa direpotkan sama sekali olehnya.
Pada akhirnya, Yoongi disana mengikuti Jimin naik ke lantai atas. Menuju unit apartemen si lelaki yang akhir-akhir ini masuk ke dalam buku cerita hidupnya.
Lelaki itu turut hadir membantu segala kesulitannya dalam hidup. Bahkan kini ia rasanya sudah berubah delapan puluh persen dari dirinya yang lampau karena Jimin.
Jimin. Lelaki dengan sejuta pesona yang ternyata terlambat untuk Yoongi sadari. Lelaki dengan hati paling baik dari semua orang yang pernah Yoongi temui dalam hidupnya.
“Silakan masuk, Yoongi-ssi.”
Jimin mempersilakan Yoongi untuk masuk ke dalam apartemennya setelah ia membuka pintu itu. Wangi khas dari Jimin pun turut menyapa indra penciumannya. Rasa hangat kembali menyapanya sejak langkah pertamanya masuk ke dalam salah satu unit apartemen itu.
Nyaman. Kata pertama yang hinggap di kepala Yoongi. Sangat melambangkan seorang Park Jimin.
Dirinya di sapa pemandangan ruang televisi dengan sofa berwarna putih tulang yang berdiri kokoh menghadap layar. Hiasan pot kecil berisi tanaman yang nampak segar di pandang mata. Serta beberapa figura foto yang di gantung kuat di dinding.
Setelah Jimin meminta izin untuk membawa pakaian ganti untuk Yoongi, pria itu mampir untuk melihat satu per satu foto yang tergantung disana. Terdapat dua figur manusia yang saling berpelukan erat di dalamnya, Jimin dan Jungsoo.
Senyum terlukis tipis di wajah tegasnya keyika melihat Jimin dan Jungsoo yang tersenyum bahagia disana. Hangat sekali.
Namun, senyum itu seketika hilang ketika matanya menangkap satu figur lain yang ikut menemani di salah satu foto. Seorang pria sekitar umur dua puluhan, berdiri di sebelah Jimin sembari merangkul pinggang lelaki itu.
“Ah, foto itu lupa aku buang. Terlalu sibuk di kantor.”
“Ini—”
“Ayah biologis dari Jungsoo.”
Yoongi mengerjap kaget ketika empat kata tersebut keluar dari bibir Jimin. Sedikit tidak percaya jika ternyata dugaan utamanya benar.
Ayah biologis dari Jungsoo. Yang berarti adalah, pria ini yang menghamili Jimin.
“Terkejut, ya? Bagiku ini semua juga kejutan. Kasus male pregnant apalah, aku mengelak sampai akhirnya dua garis biru itu muncul dan dokter sudah berkata pasti.”
Jimin menjeda ucapannya sejenak untuk menarik napas. Tangannya mengusap lembut sosok Jungsoo kecil yang berdiri dengan bangga disana sembari menunjukkan sebuah piagam yang anak itu dapatkan saat kelulusan TK-nya.
Senyum lembut itu hadir kembali, menatap haru sang putra yang kini kehadirannya sangat ia syukuri.
“Stres di awal, di tambah ayahnya yang tidak mau bertanggung jawab. Haruskah aku panggil dia ayah dari Jungsoo? Rasanya tidak adil, tahu? Aku yang besarkan Jungsoo, aku yang biayai Jungsoo sampai sekarang, aku yang berjuang sendirian, aku yang—”
Sontak Yoongi segera meraih tubuh yang rapuh itu ke dalam pelukannya. Mengusap lembut bahu seseorang yang tengah menunjukkan kelemahannya yang telah ditahan sekian lamanya.
Pria itu membiarkan si lelaki tenang di dalam pelukannya. Membiarkan Jimin bernapas sejenak, dan kembali mengumpulkan kekuatannya.
Pertahanan Jimin yang hampir roboh telak hancur di depan Yoongi. Pria yang dulunya sering memfitnah dan menjelek-jelekkan dirinya. Entah kenapa kini pelukan pria itu menjadi tempat yang nyaman walau hanya untuk bersandar sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.[]