That Should Be Me [2]

Jimin merapikan pakaiannya. Jaket denim biru dongker, celana levis hitam, serta kaus putih sebagai layer pertama outfitnya hari ini. Sangat kasual dan nyaman karena hari ini bisa dipastikan ia akan berdesakan saat di konser amal nanti.

Lelaki itu memasuki arena konser yang sangat padat dan ramai. Berdesakan untuk sampai ke bagian tengah. Beruntung konser itu baru saja mulai.

Jujur ia hampir saja telat karena menangisi kekasihnya yang terlihat cuek itu. Terlalu lelah sebab beberapa kali di kecewakan oleh Yoongi. Berkali-kali juga hatinya sakit menahan rasa rindu dan menahan semua sikap dari pria itu yang lama kelamaan tampak berbeda.

Selama berpacaran pun rasanya akhir-akhir ini hanya dia yang berjuang sendirian. Kini dirinya bagai permen karet yang sudah sepah lalu dibuang.

Jimin menggenggam kedua tiketnya itu dengan tangan gemetar. Sedih sekali, padahal ia sudah merencanakan hal ini dari bulan lalu. Padahal ia sudah membayangkan hal-hal manis seperti berpegangan tangan saat di konser sembari menikmati lagu yang ditampilkan.

Jimin lanjut menatap keatas panggung ketika MC selesai membacakan rundown acaranya. Berusaha untuk fokus menikmati semua yang ditampilkan oleh artis atau pun tamu yang di undang.

Ada yang meng-cover lagu artis dunia, ada pula yang menyanyikan lagu mereka sendiri. Namun, atensi Jimin sepenuhnya teralihkan ketika seseorang diatas sana mulai memainkan gitarnya dan bersenandung pelan. Laki-laki itu mulai menyanyikan bait awal yang Jimin sangat tahu judulnya.

'That Should Be Me' yang penyanyi aslinya adalah Justin Bieber.

“Rumours spreading 'bout this other guy.”

Kalimat tersebut seperti menyihir Jimin secara tiba-tiba. Mengingat beberapa bulan yang lalu seseorang mengatakan kepadanya jika melihat Yoongi dengan laki-laki lain di dalam bioskop.

Jimin awalnya enggan untuk menerima fakta tersebut. Terus denial terhadap hal tersebut adalah hal yang akhirnya ia lakukan.

Keyakinannya hanya berdasar pada kepercayaannya pada Yoongi yang ia pupuk sejak dulu.

“That should be me holding your hand.”

Tiba-tiba saja matanya teralihkan pada bagian kanannya. Menatap semua penonton hingga matanya menangkap Yoongi sedang bergurau ria dengan orang lain.

Pria itu dengan senyumnya yang harusnya hanya untuknya ditunjukkan kepadanya. Bahkan tangan yang besar itu, tangan yang biasanya menggenggam tangannya dengan lembut kini menggenggam tangan laki-laki itu dengan hangat.

Jimin menatap tidak percaya. Sontak seketika telinganya berdengung kencang sampai-sampai matanya berair hingga ingin meneteskan air mata.

“That should be me feeling your kiss.”

Kakinya yang melangkah secara perlahan semakin bergetar dirasanya ketika melihat Yoongi mencium bibir laki-laki itu tepat di depan matanya. Saking sakitnya, ingin rasanya ia berharap itu hanya mimpi.

Yoongi, seseorang yang ia percayai akan semua cintanya. Ciuman manis yang dulu hanya untuknya, kini dibagi dengan orang lain.

Langkah Jimin terhenti tepat di depan pasangan yang sedang bermesraan tersebut. Pasangan yang sayangnya salah satu orangnya merupakan kekasihnya. Padahal tidak ada yang mengucap kata putus, padahal Jimin masih ingin berusaha dan meminta maaf akan semua kesalahannya karena telah membuat pria itu bosan dengan dirinya.

“Kak Yoongi.”

Suaranya bergetar menahan tangis. Tatapannya kabur terhalang air mata yang ingin terjatuh.

Yoongi melepas ciumannya setelah mendengar suara yang sangat ia kenal itu. Dengan wajah terkejut Yoongi menatap kearah Jimin yang menatap kecewa dirinya.

Tangannya mencoba menggapai tubuh lelakinya yang bergerak mundur menjauhi dirinya. Jimin menatap kearah buket bunga yang berada di dalam pelukan laki-laki itu dengan mata menyipit, berusaha membaca tulisan apa yang tertera di buket itu.

'Happy 1st anniversary!”

1st anniversary? Jimin semakin menatap tidak percaya kearah pria itu. Berselingkuh satu tahun penuh di belakangnya dengan orang lain.

Brengsek.

Tubuhnya semakin mundur menjauh menghindari uluran tangan Yoongi. Tubuhnya gemetar hebat menahan semua isakan yang ia tahan.

“That should be me, this is so sad.”

Dirinya semakin terlihat menyedihkan sebab tidak tahu menahu tentang semua ini. Merasa bodoh karena bisa-bisanya tindakan Yoongi yang sudah keterlaluan ini lolos dari pemantauannya.

Air matanya semakin deras berjatuhan membasahi pipi gembilnya. Apalagi setelah melihat kemeja kotak-kotak yang Jimin berikan untuk pria itu pada anniversary pertama hubungan mereka. Sakit hati karena kini pria itu mengenakan baju spesial darinya untuk berselingkuh dengan laki-laki lain.

“Jimin aku bisa jelasin.”

“Jelasin apa?! Kamu ciuman di depan mataku, kak. Ini proyek yang kamu bilang? Gara-gara dia juga kamu gak bisa luangin waktu kamu buat aku?”

“Ji-”

“Sumpah, kak. Aku cuma mau waktu kamu. Aku gak minta lebih dari itu. Aku mau kamu peluk aku, aku mau kamu cium aku, aku mau kamu ucap kalimat sayang ke aku. Tepat seperti yang kamu lakukan dengan laki-laki ini,”

Jimin berucap dengan nada marah diikuti isakannya yang semakin keras. Tangannya menghapus air matanya pelan, menghela napasnya yang tidak beraturan mencoba untuk menenangkan dirinya.

“Aku gak pernah minta hadiah dari kamu, aku gak pernah minta fine dining di resto mewah sama kamu, aku gak pernah minta barang mahal yang belum bisa kamu kasih. Aku cuma mau waktu kamu, tapi waktu yang harusnya menjadi hak-ku itu diambil sama laki-laki ini.”

“Jimin-”

“Aku marah kak. Aku marah, sama diriku sendiri. Apa aku terlalu ngebosenin ya buat kamu? Aku kurang apa sih, kak? Ternyata emang dasarnya aku yang gak ada apa-apanya sama kamu ini gak pantas kan bersanding sama kamu.”

“Jimin aku-”

“Kita putus. Aku gak mau liat kamu lagi. Mungkin aku udah maafin kamu, tapi engga dengan hilangkan luka yang kamu buat.”

Jimin melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari area konser. Berjalan menunduk berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang jatuh di pipinya.

Disobeknya kertas tiket yang sebelumnya ia beli dengan hati berbunga-bunga sebelum dimasukkan ke dalam salah satu tempat sampah disana. Ia meninggalkan tempat itu dengan sejuta kesedihan yang ia masih tidak percaya bisa hadir di hidupnya.

Kini hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya, malah menjadi hari yang paling ia benci seumur hidupnya.[]