CLBK Kost [130]

Keheningan selama perjalanan begitu kentara di tengah mereka. Yang berada di bangku penumpang berusaha keras memalingkan wajahnya agar tidak menghirup aroma khas sang mantan kekasih hati, sementara si pengemudi terlalu canggung untuk memulai sebuah percakapan.

Terhitung entah sudah berapa hari mereka menolak untuk berbicara dengan satu sama lain meski berada di tempat yang sama. Biasanya mereka hanya akan sekadar mengalihkan wajah, atau Yoongi yang biasanya menatap ke bawah sembari merokok.

Terus begitu hingga puncaknya beberapa hari yang lalu Taehyung berbuat usil demi menyatukan dua orang yang sedang perang dingin itu secara sukarela.

“Itu/Lo.” Suara Yoongi dan Jimin bertabrakan. Jimin memerah malu sementara Yoongi menyembunyikan wajah malunya di balik kaca helm yang gelap.

Sial, lampu merah. Maka semakin lama mereka dalam keadaan canggung seperti ini. Padahal niat hati ingin segera tuntas dan kembali pada rutinitas sebelumnya.

Yah, mungkin dunia berkata lain. Mungkin semesta juga sedang berusaha untuk menyatukan dua kepala yang sangat keras kepala ini.

“Lo—ekhem! Motor lo, udah diservis, ya?” Yoongi tertawa pelan saat mendengar suara Jimin yang tiba-tiba saja serak dan bergetar. Begitu lucu melihat lelaki itu dalam keadaan seperti sekarang, sebetulnya.

Sebagai jawaban, Yoongi pun hanya mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan yang lebih muda.

Lengan kemeja kotak-kotaknya di singkap sampai ke siku, membiarkan tangan yang sebelumnya sudah ia balurkan tabir surya terpapar panas matahari sore. Telapak tangannya diistirahatkan memegangi lutut Jimin di belakang, seperti biasa. Seperti saat pertama kali Jimin dibonceng olehnya saat di Surabaya ketika dulu.

Sontak memori indah membawa mereka bernostalgia. Menikmati bagaimana waktu-waktu lampau itu terputar bagai kaset film rusak di kepala masing-masing. Turut mengabaikan keadaan mereka yang saat ini sedang berdiam canggung.

“Nanti lo langsung pulang atau nunggu dulu?”

“Langsung pulang aja.”

“Emangnya lo udah makan siang?” Jimin membawa tangannya melingkar ke perut yang lebih tua. Kembali dengan rasa tidak tahu malunya, ia mengistirahatkan dagunya diatas bahu sang mantan kekasih dengan nyaman. Menikmati bagaimana aroma lembut dan kuat khas Yoongi menguar bebas menghalau asap kendaraan yang berbau tidak sedap.

Sontak mereka melupakan perang dingin mereka beberapa saat yang lalu. Serangan nostalgia begitu kuat menghantam tubuh mereka yang masih berkata rindu akan satu sama lain.

Yang memang kenyataannya, rasa kasih sayang sebagai cinta itu masih ada tidak pernah hilang meski sempat dibuat kecewa.

“Uda—” Yoongi menghentikan ucapannya saat merasakan perutnya berbunyi keroncongan. Tanda jika kalimatnya itu bohong.

Seketika tawa lembut Jimin memasuki rungunya. Menikmati tawa lembut itu berputar-putar di dalam kepalanya hingga membuat perutnya berisikan kupu-kupu yang membuatnya terbang ke langit ketujuh.

“Nanti kita mampir dulu ke resto, ya. Canvas sama wacol gue bisa nunggu kok.”

“Oke,” ucap Yoongi final. Tidak berniat membantah lelaki itu karena setidaknya nanti ia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Jimin.

Yah, mungkin memang dirinya harus berterima kasih nanti kepada Taehyung. Lelaki dengan sejuta rencana untuk mendekatkannya dengan Jimin.[]