Trash Talking [151]
Gelas soju itu diletakkan dengan kasar menghantam meja kaca di bawahnya. Sementara pria di seberangnya hanya memegang gelas miliknya tanpa minat.
Total sudah tiga botol alkohol yang mereka habiskan, entah ingin minum seberapa banyak. Pastinya, malam ini minum tanpa mabuk.
Hanya pembicaraan panjang, dengan topik yang tidak terlalu berat menemani malam mereka. Setelah sekian lama tidak keluar hanya berdua, kini dipuaskan minum bersama di bar yang dulu sering mereka kunjungi.
“Jadi, lo maunya gimana, Gi?”
Pria dengan surai hitam dan poni yang menutupi dahinya itu berbicara dengan nada rendah dan pelan. Antara ingin menahan perasaan yang bergejolak dalam dirinya, atau memang terlalu lelah hanya sekadar untuk mengeluarkan suara.
Yoongi mengangkat kepalanya menatap Seokjin dengan lurus. Dagunya ditopang dengan tangan kanan, sementara sudut bibirnya tertarik menghasilkan sebuah senyuman hangat penuh mimpi.
Dua orang pria yang duduk bersama, namun dengan perasaan yang sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.
“Gue mau jadi pianis.”
Sepasang mata dengan bola mata berwarna gelap milik Seokjin membola lebar. Baru lanjut mengalihkan tatapannya kearah lain, menatap apa pun selain Yoongi yang berada di depannya.
Perasaannya sungguh bercampur aduk. Senang, tentu karena akhirnya Yoongi berani memperjuangkan mimpinya. Sedih, karena akhirnya ia harus melepas pria itu.
“Oh...”
Hanya jawaban sekilas dan terkesan mengambang yang ia berikan. Bingung ingin menunjukkan ekspresinya seperti apa di hadapan Yoongi.
“Gue juga... mau lamar Jimin.”
“Hah?”
Kalimat singkat yang diucapkan Yoongi sukses membuatnya memutar kepala. Matanya kembali membola kaget dengan semua keputusan yang pria itu ambil.
Melamar, katanya.
Tangannya yang terasa kaku dipaksa untuk meletakkan segelas soju yang belum ia sentuh ke atas meja. Kembali mengarahkan pandangannya ke atas lantai dengan ubin gelap di bawahnya.
Sedih? Entahlah. Tidak jelas.
“Gue mau lamar Jimin.”
“Bukannya terlalu cepat, Gi?”
“Engga, gue rasa. Bulan depan, iya, bulan depan gue mau lamar dia. Cincin juga udah gue pegang, beruntung gue masih punya pegangan dari pesangon yang kantor kasih.”
“So, he's the one?”
“He's the one.”
Yoongi semakin melebarkan senyumannya. Bahkan pria itu sudah menyentuh serta mengusapi bagian jari manisnya yang masih kosong.
Aura kebahagiaan memancar dari pria itu. Terang benderang, hingga membuat Seokjin sedikit menyipitkan matanya guna menghalau aura terang yang Yoongi keluarkan.
Terlalu silau, untuk dirinya yang masih berada di kegelapan seperti saat ini.
“Congrats, Gi. Lo udah nemu seseorang itu, akhirnya. The one yang akhirnya bisa lo ajak komitmen bareng.”
'dan itu bukan gue.'
Seokjin menelan kalimat terakhirnya di dalam hati. Menekan perasaan sakit yang ia terima secara bertubi-tubi.
Kedua pria yang terpaut perbedaan umur satu tahun itu saling menatap. Melempar senyum hangat dan yang lain dengan senyum palsu guna menyembunyikan kesedihan yang menghampiri dirinya.
Malam ini, malam di mana akhirnya Yoongi menyatakan ada seseorang yang memenuhi perasaannya. Malam di mana kembali Seokjin menjadi pengecut terhadap perasaannya. Malam di mana akhirnya ia akan melepas Yoongi ke dalam pelukan orang lain.[]