Sugar Baby [14]
“Hahh... what a hectic day,” keluh Yoongi sembari duduk di kursi counter yang telah disediakan sedari awal di sana. Tangannya dilipat diatas meja keramik itu, sementara kepalanya di tenggelamkan ke atas lipatan tangannya sembari mengeluarkan keluhan singkat perihal betapa sibuknya ia hari ini.
Pagi ini restoran tampak seperti medan perang karena datangnya seorang kritikus makanan yang akan mengulas restoran mereka ke dalam koran. Para koki sibuk, maka para pelayan juga sama sibuknya mencatat serta menerima pesanan dari pelanggan.
Cafe pun tampak mengejutkan karena terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Entah karena ada selebgram yang baru saja me-review bagus cafe mereka, atau memang kabar burung dari satu mulut ke mulut lainnya.
Perbedaannya hanya, lelaki CEO menyebalkan itu belum datang. Biasanya tepat jam lima sore, lelaki itu akan mampir hanya sekadar membeli bagel serta milkshake cokelat andalan pengunjung, atau bahkan memesan sepiring cheesecake dengan teh chamomile yang menenangkan.
Entah dirinya harus senang karena dirinya tak lagi merasakan tatapan tajam yang seolah membolongi kepalanya atau dirinya harus sedih karena 'kehilangan' satu pelanggan tetap.
Aneh, ia masih tidak mengerti, apa sih yang menarik dari dirinya? Wajah tampannya yang diatas rata-rata, kepiawaiannya dalam melayani pelanggan, atau dari gaya bicaranya kepada setiap pelanggan yang datang? Bro, ia hanya ingin bersikap profesional dalam bekerja.
Karena tentu, nyatanya ia tidak semenarik itu.
“Selamat datang!” Suara berat Taehyung yang menyapa pelanggan dalam intonasi bahagia menyapa telinganya. Seketika membuat kepalanya terangkat kembali dari posisi sebelumnya.
Yoongi menepuk-nepuk leher belakangnya yang terasa pegal, sebelum bersiap menuju mesin kasir guna mencatat apa saja yang pelanggan ini inginkan.
“Saya ingin bagel, dengan milkshake cokelat seperti biasa, ya.” Suara manis itu menyapa gendang telinganya. Manis seperti cokelat belgia yang meleleh saat digigit, manis seperti selai stroberi yang ia oleskan di atas roti pagi ini, manis seperti—
“Permisi?”
“Ah, iya, maaf tuan—” tenggorokannya tercekat. Melihat bagaimana figur yang baru saja ia bahas di dalam hati muncul begitu nyata di depannya.
Ia sangka, kini harinya baik-baik saja. Atau memang dirinya yang berlebihan, ya? Ahh.. Yoongi, ingatlah, orang itu yang ingin membeli tubuhmu.
Yoongi menyerahkan struk pesanan serta bel yang akan berbunyi saat pesanan sudah siap kepada lelaki itu. Matanya bergulir dari surai kehitaman yang tertata rapi, sepasang mata yang mengerling indah, serta terakhir sampai ke bibir tebal mengkilap dipenuhi bintang-bintang.
Yah, standar orang kaya sekali. Mana mungkin orang seperti CEO ini tidak melakukan perawatan ekstra untuk tubuhnya. Berbeda dengan dirinya yang bahkan untuk makan saja perlu memutar otak.
“Lo yang nganter, Yoongi.” Taehyung menghampiri dirinya dengan segelas milkshake dan sepiring bagel di tangannya. Lelaki yang berbeda beberapa tahun di bawahnya itu terlihat menatap dirinya dengan raut menyebalkan khas meledek, tahu sekali jika dirinya sedang menjauhi siapa pun itu yang menunggunya di sana.
Bahkan agaknya semua orang tahu jika kini dirinya sedang diamati dengan tajam oleh orang itu.
“Gue gak—”
“Gak ada ruginya lho, siapa tahu dapat teman baru.”
“I don't need a fuckin' friend.” Yoongi berucap tajam. Tatapannya beradu pandang dengan Taehyung.
Sialnya, kini lelaki itu mengeluarkan jurusan mimik memohonnya. Yang sama sekali tidak dapat ia tolak dengan keras. Yah, mau bagaimana lagi.
Pada akhirnya, dirinya yang mengalah pun merebut dua menu itu dari tangan juniornya. Tungkainya melangkah kasar menuju kearah seseorang yang tengah menunggu pesanannya di meja pick up.
Sial beribu sial, bahkan mata berbinar terang dengan gemerlap cahaya itu benar-benar menggoda dirinya untuk terus menatap tanpa henti. Kembali menghantarkan rasa geli serta terbayang ucapan CEO ini beberapa hari yang lalu.
“Pesanan Anda, selamat menikmati.”
“Saya suka suara dan cara bicara kamu yang penuh wibawa.” Lelaki itu berucap dengan nada lembut serta mencoba keras untuk menatap kedua matanya yang dialihkan ke arah lain.
Muak.
“Terima kasih, tuan.” Yah, meskipun begitu, ia bisa apa memangnya? Sosok itu adalah seorang pelanggan yang adalah raja, dirinya hanya seorang pelayan di sini.
Bekerja terus menerus, demi lembaran uang yang sangat ia butuhkan. Bekerja demi mendapat uang guna membayar kebutuhan hidupnya yang semakin hari nominalnya semakin melonjak pesat.
“Soal tawaran saya kemarin—”
“Maaf, saya tidak tertarik untuk menjadi sugar baby Anda. Saya memang miskin, namun saya tidak serendah itu untuk menjual tubuh saya,” ucap Yoongi dengan berani. Matanya bolak-balik mengamati jam dinding yang seolah berdetak dengan sangat lama, ia begitu menanti jam pulangnya untuk segera pergi dari situasi ini.
“Yang saya maksud bukan soal seks, kok. Jika itu yang kamu tangkap, Yoongi-ssi.” Lelaki itu menyebut namanya, berbicara seolah tahu apa saja yang ada di pikirannya saat ini.
Beberapa menit mereka hanya berdiam diri, menutup mulut hingga sekiranya bagel yang tadinya panas berubah menjadi dingin. Iringan musik jazz turut menemani kekosongan di antara mereka, memaklumi suasana yang berubah menjadi canggung.
”... Saya bisa beri sesuai nominal berapa pun yang kamu mau. Mungkin uang itu akan sangat berguna untuk urusan Yoongi-ssi yang lainnya. Jika tertarik, tolong hubungi nomor saya di kartu ini.” Lelaki itu menyodorkan selembar kertas putih dengan tulisan hitam yang berisi nama serta nomor telefon yang Yoongi yakini adalah milik lelaki itu.
Serabut benang hitam imajiner terbentuk di kepalanya setelah kepergian lelaki itu. Matanya menatap kosong nama serta deretan nomor yang tertera di atas kartu itu.
Kembali melayang pikirannya yang begitu membutuhkan uang untuk saat ini. Bukankah tawaran lelaki itu adalah tawaran yang sangat bagus? Yang akan membantunya mendapatkan uang tanpa harus melakukan seks.
“Park Jimin, CEO Park industry. I really didn't know anything about your intention.” Yoongi memasukkan selembar kertas itu ke dalam kantung celananya, dirinya kembali fokus pada pekerjaannya saat ini melayani pelanggan yang datang.
Yah, setidaknya melupakan urusan sugar baby dan Park Jimin yang menyita perhatiannya beberapa hari ini. Membiarkan dirinya sibuk adalah jalan keluar ternyaman yang bisa ia pikirkan untuk saat ini.[]