Tenda Biru [5]
Pagi hari yang cukup tenang dan sepi di hari itu. Yoongi bahkan sedikit merasa janggal dengan apa saja yang terjadi seharian itu. Rasanya terlalu sepi dan aneh.
Jarak antar rumahnya dan rumah Jimin terbilang cukup dekat. Dengan hanya memakan waktu total dua puluh menit yang ditempuh dengan mobil sedan hitamnya. Namun hari ini rasanya waktu sepuluh menit saja sudah cukup karena faktor dirinya yang tidak sabar serta jalanan yang sepi dan kosong.
Yoongi merapikan bagian rambut depannya dengan cermat, baru setelahnya membetulkan jas hitam yang biasa ia pakai untuk menghadiri acara formal. Ya, tekadnya sudah bulat untuk melamar Jimin, maka penampilan rapi lah yang akan ia tunjukkan nanti.
Berkali-kali ia menyentuh bagian dadanya yang berdegup begitu cepat. Entah karena terlampau rindu dengan kekasihnya, atau memang dirinya yang gugup karena akan melamar cinta pertamanya secara langsung.
Jujur, ia sudah merencanakan hal ini sejak satu tahun lalu. Namun apa daya, pekerjaan membuatnya diharuskan pindah sementara ke London, memaksanya untuk meninggalkan Jimin di Jakarta sendirian tanpa dirinya. Mungkin ada Sohye yang bisa menemani lelaki itu, tetapi bahkan beberapa bulan ini wanita itu tidak bisa dikabari sama sekali.
Seketika perasaan tidak tenang mulai memasuki pikirannya. Entah apa itu. Rasa yang aneh seperti suasana pada hari ini.
Yoongi pun segera beranjak dari posisi awalnya. Pria itu keluar dari mobilnya membawa sebungkus terang bulan yang Jimin sukai sekaligus sebuket bunga yang ia genggam dengan erat. Perasaannya begitu menggebu ingin bertemu sang kekasih yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui.
Yoongi meraba kantung celananya, menemukan kotak cincin yang ia bawa untuk melamar Jimin. Senyumnya mengembang dengan aura kebahagiaan memenuhi raganya.
Pria itu berjalan memasuki komplek perumahan Jimin dengan langkah pelan. Mungkin juga sedikit heran dengan lagu khas acara pernikahan yang biasa ia temui.
Ia berusaha keras menepis pikiran buruk yang mulai memenuhi kepalanya saat melihat sebuah tenda biru berdiri kokoh tepat di depan rumah kekasihnya. Disertai keadaan yang sangat ramai, tepat seperti pesta pernikahan.
“Pernikahan siapa?”
Senyum Yoongi luntur saat membaca karangan bunga yang bertuliskan nama Jimin serta Sohye. Mengucapkan selamat atas pernikahan mereka dari berbagai kolega ayah Park. Sedikit tidak percaya namun dirinya memaksa masuk ke dalam sana setelah mengisi daftar hadir yang ada pada jalan masuk.
Sontak matanya membola serta perlahan berair karena melihat Jimin di atas pelaminan bersanding dengan Sohye. Apalagi disertai senyuman lembut favoritnya yang muncul pada kedua bilah bibir itu.
Hancur. Angannya hancur saat mengetahui fakta baru ini. Tiga tahun ia di London, berusaha memperbaiki karirnya hingga pantas untuk bersanding nantinya dengan Jimin di atas sana. Harusnya, ia yang berada di atas sana.
Dengan raut yang berusaha terlihat tegar, ia melangkahkan tungkai kakinya menuju pelaminan. Di depan matanya sendiri, ia melihat bagaimana Jimin dan Sohye bermesraan, tanpa tahu di sini dirinya bahkan datang tanpa undangan.
Sakit, marah, dan sedih mendominasi perasaannya. Bahkan kini rasa pusing ikut mendera kepala belakangnya.
“Congrats on your wedding,”
Ucap Yoongi saat sampai tepat di depan kedua mempelai. Beruntung saat itu keadaan terlihat sepi, hanya dirinya dan keluarga sang mempelai yang berada di atas sana.
Tatapannya menajam saat melihat wajah terkejut Jimin. Bahkan lelaki itu berusaha meraih tangannya untuk menjelaskan semua hal ini.
“Kak Yoongi aku—”
“Kamu mau jelasin sesuatu? No, bahkan gak ada yang perlu dijelaskan, Jimin. Kamu khianati cinta yang sudah aku kasih, serta kamu putuskan rasa percayaku. Udah gak ada yang perlu dijelaskan.”
“Aku.. maaf.”
“Aku terima maaf kamu. Sekali lagi, congrats on your wedding. Kita putus, ya.”
Senyum miris dan sakit terpampang nyata Yoongi tunjukkan. Matanya bergulir pada orang tua Jimin yang menolak menatap kearahnya, baru ia menatap lurus Sohye yang menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Gue tau lo suka Jimin dari dulu. Tapi gue gak nyangka akhirnya lo miliki Jimin dengan cara ini.”
Yoongi menuntaskan kalimatnya sebelum turun dari atas sana. Berjalan menjauh serta membuang buket bunga serta sebungkus terang bulan yang sebelumnya ia beli untuk Jimin.
Harusnya, hari ini menjadi hari spesial mereka. Namun sayangnya dunia berucap lain dan memutuskan untuk mengubah takdir mereka pada akhirnya.[]