Trash Talking [146]
Kalau diminta untuk menyebutkan satu hal yang membuatmu bahagia saat hidup di dunia, maka hal apa yang akan kamu sebut?
Membeli mesin kopi dengan gaji pertama? Apple pie yang kamu makan saat ke rumah nenek? Aroma masakan rumah yang dimasak saat pulang ke rumah setelah merantau ke kota lain? Atau bahkan sesederhana menghirup aroma petrichor saat hujan turun?
Bagi Yoongi, kebahagiaan hadir saat ia pertama kali mendapatkan sebuah afeksi. Entah bisa dibilang sial atau momen kenangan, afeksi itu ia dapatkan dari seorang pria bernama Jo Seungmin yang ia temui sewaktu bekerja di perusahaan pertama tempatnya bekerja.
Sebuah afeksi yang tidak pernah ia dapat sedari waktu berada di panti. Sementara Jo Seungmin di sana memberikan afeksi itu secara cuma-cuma.
Mereka teman yang terlampau dekat saat itu. Tak segan Yoongi pun juga menaruh perasaan pada pria yang lebih tua beberapa tahun di atasnya itu. Karena pada dasarnya ia mendapatkan rasa cinta yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.
Hingga pada akhirnya dirinya mulai dirusak secara perlahan. Rasa cinta yang begitu besar menenggelamkannya pada lautan kebodohan.
Dirinya dipaksa merokok, minum alkohol, bahkan di puncaknya ia ditawarkan untuk menghisap barang bernama ganja. Beruntung ia segera sadar, dan menolak apa saja yang ditawarkan oleh Seungmin sebelum ia tergelincir semakin jauh.
Kesan Seungmin di matanya tidak kunjung membaik sejak saat itu. Seungmin yang dulunya bersinar secerah matahari, kini hilang seolah ditelan kegelapan yang menyeramkan. Bahkan untuk menghapus memori buruk yang ia terima, saat itu ia keluar dari perusahaan dan pindah ke perusahaan yang kini memecatnya.
Dari dulu hidupnya sudah buruk, kenapa semesta sama sekali tidak ingin berbaik hati kepadanya? Meski hanya sedikit, hanya sekadar tidur dengan tenang tidak dibayangi oleh ingatan kelam masa lalu.
“Yoongi-ssi?”
Suara lembut itu memasuki gendang telinganya. Memecah pikiran yang sebelumnya berfokus pada ingatan masa lalunya.
Suara itu, suara seseorang yang telah berhasil membuatnya kembali merasakan yang namanya jatuh cinta. Yang kembali membuatnya merasakan hangatnya sebuah keluarga. Seseorang yang dengan lapang menerimanya meski telah berucap buruk saat dulu.
“Jimin?”
“Kamu... koper? Kamu mau kemana, Yoongi-ssi?”
Yoongi menggeleng pelan menjawab pertanyaan lelaki itu yang kini duduk tepat di sampingnya. Halte bus yang tadinya hanya ada dirinya sendiri duduk di sana, kini ada seseorang yang ikut menemaninya di sana.
“Gak tau, ikut kemana kaki gue melangkah aja.”
Jimin menutup payung transparannya serta meletakkan plastik yang berisi barang belanjaan tepat di sebelahnya. Beberapa saat tangan kecil itu mencari-cari sebuah benda yang berada di dalam kantung celana pendeknya.
Setelahnya baru ia mengusapkan saputangan yang ia ambil ke dahi Yoongi. Menatap kedua mata si pria dengan lembut hingga membuat kedua pipi pucat itu memerah samar dengan sendirinya.
“Rambut kamu basah karena hujan, Yoongi-ssi. Apa tidak sebaiknya kamu pulang ke rumah kamu?”
“Lusa apart gue harus dibayar sewanya. Sementara gue dipecat, gue gak punya rumah.”
“Mau tinggal sementara di tempatku? Gratis. Tapi apartku cuma dua kamar....”
“Gue gapapa kok, mungkin bisa cari motel—”
“Aku memaksa! Mungkin bisa tidur di kamarku? Nanti aku tidur bersama Jungsoo.”
“Gue gapapa, Ji—”
Yoongi menghentikan ucapannya saat melihat wajah berharap Jimin yang sangat memelas. Juga.. sangat tulus, dan seperti biasa, sangat hangat.
Pada akhirnya pun ia hanya bisa menghela napas berat sebelum menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Jimin untuk tinggal sementara di apartemennya.
“Gue di sofa.”[]