Would You Be So Kind [24]
Jalannya pertandingan pada hari itu lebih sengit daripada pertandingan yang lalu. Tim Redhigh yang dipimpin oleh Jimin menjadi lebih serius dari biasanya. Bahkan seorang Jimin yang bertanding dengan senyuman di wajahnya kini rautnya berubah, hilang digantikan wajah tegang.
Poin mereka tertinggal tiga poin dari tim lawan, sementara waktu menunjukkan sisa beberapa menit sebelum match berakhir. Seisi lapangan ikut tegang mengikuti jalannya permainan, apalagi tiga perempat tribun yang diisi oleh pendukung dari Redhigh.
Ia harus memenangkan pertandingan kali ini, bukan hanya demi Yoongi, tetapi juga demi membawa nama sekolahnya ke kejuaraan tingkat nasional.
Saat Seokjin berhasil mengoper bola kearah Jimin, lelaki itu sontak mempersiapkan dirinya untuk melakukan lemparan three point dari tempat awalnya. Bola dilempar sementara semua mata tertuju pada bola berwarna oranye itu. Mereka mengamati bagaimana Jimin mengambil tindakan yang begitu penuh resiko.
Suara sorakan yang menandakan kemenangan terdengar dari tribun, menandakan jika lemparannya berhasil masuk dan menambah tiga poin untuk tim mereka. Kemenangan mutlak untuk tim Redhigh, melawan juara bertahan tiga tahun tim Youngone.
Pluit tanda berakhirnya pertandingan pun dibunyikan, sorak sorai anggota tim masuk ke dalam telinganya, membuatnya sadar akan seseorang yang juga sangat ia tunggu kehadirannya.
Yoongi.
Jimin berulang kali memutar kepalanya dengan panik, matanya memicing fokus ke arah tribun yang ramai akan penonton. Namun sayangnya lelaki bersurai hitam itu tidak terlihat di pandangannya sama sekali.
Masa iya dia melanggar janji? Atau memang euphoria yang ia rasakan kemarin hanya untuk sesaat?
“Ji.” Seokjin menepuk pundak Jimin. Jarinya menujuk ke arah sudut lapangan yang biasanya menjadi tempat untuk menunggu tim cadangan atau sang pelatih.
Baru setelah ia kembali memfokuskan pandangannya, figur Yoongi terlihat dalam pandangannya. Lelaki itu tengah berbincang ria dengan sang pelatih.
Oh, lihatlah bagaimana tubuh yang sedikit lebih besar darinya itu terbalut dalam balutan baju kasual hitam-hitam yang sangat khas.
Tampan.
Jimin sedikit berlari menghampiri Yoongi. Bermaksud ingin menyapa atau memeluk? Sayang sekali dirinya masih berkeringat. Lagipula, memangnya dirinya siapa?
“Yoongi!” Yang dipanggil pun menolehkan kepalanya menatap ke arah Jimin yang basah akan keringat. Senyum Yoongi timbul saat melihat medali emas telah menggantung indah di leher Jimin.
Bangga.
“Yo.”
“Lo gak bohong.”
“Gue gak pernah bohong, Jimin.” Yoongi mengusap rambut Jimin dengan selembar handuk yang telah ia bawa sebelumnya. Ia mengeringkan kepala Jimin yang basah akan keringat dengan tangannya sendiri. Bahkan ia tau Jimin sedang merona merah karena perbuatannya.
Manis.
Jimin menarik tangan Yoongi untuk masuk ke dalam ruang ganti. Yang setidaknya lebih mendapat privasi dari berdiri di sisi lapangan terbuka yang bisa dilihat siapa saja. Paling kalau di ruang ganti hanya terdapat teman-teman se-tim yang menggodanya.
“Yoongi, kaki lo gimana? Udah baik?”
“Iya baik.”
“Mantan kapten kita makin keren ya guys.” Mingyu menepuk pundak Yoongi main-main. Menghasilkan tawa renyah dari semuanya.
Namjoon yang peka terhadap keadaan pun langsung membawa timnya untuk keluar dari ruang ganti, meninggalkan Yoongi dan Jimin di dalam sana. Mengobrol berdua, dari hati ke hati.
Kedua insan itu duduk bersebelahan dengan rasa canggung antar satu sama lain. Di satu sisi Jimin yang salah tingkah, dan Yoongi yang mati kutu karena tidak pernah berbincang secara langsung dengan Jimin.
“Gue tau lo suka sama gue. Dari waktu MOS, ya?” Jimin mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Yoongi yang sontak membuatnya lebih salah tingkah dari sebelumnya.
Ah, bagaimana bisa harum lembut dan maskulin lelaki itu seketika mengacaukan kinerja otaknya?
“Gue tau kok, kalo lo tau gue suka sama lo.” Jimin menjeda ucapannya sejenak, sebelum melanjutkannya kembali. “I like you, but that's not enough.” Lelaki itu menundukkan kepalanya. Berusaha keras menyembunyikan wajahnya yang memerah sampai ke telinga. Tangannya saling mengait dan meremat satu sama lain, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang semakin menjadi-jadi.
Keheningan sementara menjumpai mereka sebelum beberapa menit kemudian Yoongi membuka mulutnya. Membuat Jimin menatap crushnya sejak dua tahun lalu itu dengan raut heran.
“Tapi lo gak tau kan kalo gue suka balik sama lo? Jadi, iya, gue mau jadi orang baik.”
“Maksud lo?”
“Gue jadi pacar lo?”[]