Trash Talking [161]

“Jungsoo, kita tunggu papa sebentar lagi, ya.”

“Um! Oke, Om Yoongi!” Jungsoo menjawab dengan nada penuh semangat. Matanya berbinar terang mendongakkan kepalanya menatap ke arah bangunan kantor tempat Jimin bekerja. Ya, mantan kantornya. Rindu juga sebetulnya.

Yoongi berjongkok bertumpu pada satu kakinya agar sejajar dengan Jungsoo. Pria itu membetulkan outer berbahan flanel berwarna merah yang dipakai anak itu.

Ia melempar senyum terbaiknya sebelum mencubit kecil pipi anak itu dengan gemas. Mirip sekali dengan Jimin.

“Jungsoo, sayang. Ah, Yoongi, maaf aku buat kalian menunggu lama, ya?”

“Cuma sepuluh menit kok, papa!” Jungsoo menyaut dengan cerah. Menjawab sesuai arahan yang telah Yoongi berikan kepada anak itu.

Menunggu seumur hidup pun rasanya tak apa demi lelaki itu. Ia tertawa pelan, menertawai dirinya yang kini jatuh telak ke dalam pesona seorang Park Jimin yang begitu kuat.

Bagaimana tidak jatuh? Selama total tiga minggu ia tinggal di kediaman apartemen keluarga kecil itu, ia begitu dilayani sebagaimana raja adanya. Mulai dari Jimin yang bersikukuh ingin Yoongi tidur di ranjangnya jika Yoongi tidak menolak keras dan tidur di sofa, lalu sarapan pagi yang mereka buat bergantian, serta nyanyian merdu yang menjadi alarm paginya beberapa minggu ini.

Terima kasih juga kepada Jimin karena telah mendukungnya sepenuh hati sampai dirinya lolos audisi Chopin yang ia idam-idamkan. Sampai pada minggu depan, dirinya harus audisi untuk sampai ke semi-final.

Tak apa, ini semua hanyalah awalan dari lembar baru di hidupnya.

“Yoongi?”

“Eh, ah iya?” Bahkan kini lelaki itu sudah berbicara lumayan santai dengannya. Meninggalkan semua kekakuan yang hadir di awal. Yoongi mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah kedua bola mata Jimin yang bersinar terang, tak segan senyumnya pun muncul, bahkan sampai-sampai pipinya memanas.

Ia yakin, kini pipi sampai telinganya sudah memerah samar di bawah lampu jalan yang redup.

“Kita mau makan di mana? Untuk merayakan keberhasilan kamu lolos audisi.”

“Lo maunya makan apa?”

“Kalau yang dekat sini ya... hm....” Jimin membuat pose berpikir sembari memajukan bibir bawahnya dengan gemas. Sekali lagi membuat jantung Yoongi berdebar kencang menghantarkan aliran darah ke area wajahnya lebih banyak lagi.

Panas. Kini Jimin menjadi sangat menarik di matanya. Berbeda dengan Jimin yang dulu dalam pandangan kacamatanya.

Mul naengmyeon? Ah, atau sujebi, ya? Jungsoo mau makan apa, sayang?” Jimin berjongkok di depan Jungsoo setelah melonggarkan ikat pinggangnya. Lelaki itu mengusap lembut kepala sang anak dengan tatapan yang begitu hangat.

Ya, tidak lupa dengan Jimin yang begitu menyayangi anaknya. Sejak ia mengatakan jika Jungsoo sebenarnya kesepian, Jimin rela pulang lebih awal dari jam biasanya ia pulang hanya untuk menemani Jungsoo. Bahkan lelaki itu sempat-sempatnya menceritakan kisah pengantar tidur saat banyak deadline menanti dirinya.

Maka yang bisa Yoongi lakukan untuk membantu hanya menawarkan air mineral atau jus jeruk saat Jimin sedang lelah. Bahkan ia turut menemani Jimin, membiarkan lelaki itu berbagi curahan perasaannya akan pekerjaan kantor yang menumpuk tiap harinya.

Seperti keluarga bahagia.

“Sesuai yang Jungsoo minta, malam ini kita makan ramen saja, hehe.”

“Eh? Baru kemarin bukannya kita makan rapokki?”

“It's okay, hadiah untuk Jungsoo. Memangnya Yoongi ada satu makanan spesifik yang ingin dimakan?”

“Ah, gue mau saranin ramen juga tadinya.” Yoongi mengusap bagian belakang telinganya, berusaha menghilangkan kegugupan yang muncul di dalam dirinya saat membalas satu persatu pertanyaan yang dilontarkan oleh Jimin.

Jimin pun hanya tersenyum sekilas baru setelahnya berjalan menuju kedai ramen terdekat sembari menggandeng tangan Jungsoo. Yoongi berjalan di sebelahnya, namun dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana.

Gugup. Kenapa sekarang malah dirinya yang terlihat kaku di depan lelaki itu?

“Yoongi, soal pertanyaan kamu di ruang obrolan tadi pagi. Boleh aku jawab sekarang?” Jimin berbicara dengan suara pelan agar Jungsoo yang mulai berjalan lebih cepat dari mereka tidak mendengar percakapan krusial antar dua orang dewasa ini.

Pertanyaan yang Yoongi lontarkan tadi pagi, perihal hubungan asmara dan komitmen. Topik yang dulu sering Jimin hindari demi kenyamanan dirinya sendiri.

“Untuk saat ini, rasanya aku mau mencoba berkomitmen dengan seseorang lagi.”

“Oh...”

“Entah, menurut kamu, ini sesuatu yang baik atau yang buruk ya. Jujur, aku masih takut. Tapi, sampai kapan aku mau membiarkan diriku sendiri dihantui cerita masa lalu? Jadi, aku mau coba untuk berkomitmen lagi. Semoga dunia sedang berbaik hati sama aku.”

“Pasti, lo itu kesayangan semesta, Jimin.” Yoongi berucap singkat sembari menatap lembut ke arah Jimin yang juga tersenyum dengan pipi memerah.

Tawa santai pun keluar dari bibir masing-masing. Mengisi malam sepi dengan udara yang cukup dingin kali ini. Mungkin setelah ini Yoongi bisa berjuang lebih untuk Jimin. Mungkin ini adalah sebuah tanda yang diberikan oleh semesta jika dirinya masih bisa bahagia.

Mungkin. Ia harap begitu.[]