Trash Talking [172]

Jimin memeluk buket bunga yang ia bawa dari rumah dengan posisi tepat seperti sedang menggendong bayi. Ia sudah membaca keseluruhan surat yang ada di dalamnya, surat yang berisi ajakan makan malam di restoran ternama yang terletak tidak jauh dari tempat kerjanya.

Tidak ada pikiran spesifik mengenai alasan orang ini ingin mengajaknya bertemu di tempat formal seperti ini.

Beruntung hari ini Jungsoo sedang menginap di rumah neneknya. Tentu, untuk acara seperti ini sebaiknya ia tidak mengajak Jungsoo untuk ikut bersamanya, kan?

Lelaki itu menginjakkan kakinya ke dalam restoran mewah berbintang lima yang sering ia lewati saat pulang dari kantor. Manik matanya begitu fokus mengamati bagaimana indahnya interior yang ada di dalamnya, terlihat begitu mewah, tepat seperti bayangannya. Terkadang ia sering membayangkan bagaimana rasanya bisa ada di dalam restoran itu sembari menyantap hidangan dari chef ternama.

Namun, rasa kesenangan yang sering ia bayangkan justru berbanding terbalik dengan apa yang kini ia rasakan. Lebih seperti panik, gugup sampai membuatnya gemetar, hingga sulit untuk mengucapkan beberapa kata yang membuatnya tergagap saat meminta sang pelayan mengantarkannya ke meja yang sudah dituliskan di dalam surat.

Mungkin karena sebetulnya ini bukan acara makan malam biasa?

Setelah berhasil menyebutkan nama si pengirim buket dan surat kepada sang pelayan, Jimin hanya diam sembari mengikuti kemana arah pelayan wanita itu pergi.

Beberapa kali dirinya berucap kagum di dalam hati saat kembali mendapati betapa mewahnya interior yang terpasang indah di langit-langit mau pun dinding restoran itu. Bahkan rasanya seragam yang dipakai para pelayan pun lebih mewah dibandingkan kemeja yang saat ini ia kenakan.

“Mejanya di sebelah sini, Tuan. Ruang VIP satu.” Pelayan itu membungkukkan tubuhnya sebelum beranjak pergi meninggalkan Jimin di sana dengan raut kebingungan yang begitu kentara.

Seorang pria dengan jas hitam serta kemeja putih yang rapi menyapa indra penglihatannya. Bisa ia lihat bagaimana rambut hitam legam itu ditata rapi ke belakang, membuatnya terlihat licin serta menawan.

Ia melempar senyum hangat sebelum berjalan semakin dekat guna menghampiri temannya itu. Senyumnya semakin mengembang saat dirinya bersitatap dengan seseorang yang 'mengundang'nya malam ini.

“Kak Namjoon?” Jimin melihat pria berlesung pipi itu duduk di sana dengan postur menawannya sembari mengepalkan tangan. Sempat ia meyakinkan dirinya terlebih dahulu sebelum duduk tepat di depan Namjoon, kembali matanya menatap pria yang lebih tua darinya itu dengan tatapan meminta penjelasan. “Aku kaget waktu kamu ajak aku ketemu di tempat ini. Terlalu tiba-tiba juga, kak.”

“Aku senang kamu memutuskan untuk datang menemuiku.”

“Kenapa aku harus menolak?” Jimin tertawa pelan sembari menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.

Setelah beberapa menit perbincangan mereka berjalan, makanan yang dipesan oleh Namjoon akhirnya datang memenuhi meja mereka. Begitu banyak menunya, dan ia yakin terlebih yakin jika hidangan ini dimasak oleh chef ternama seperti yang ia sebut di awal.

Terkesan mewah, memang, bagi seorang Jimin yang setiap hari hanya menyantap nasi goreng kimchi buatan Yoongi atau hanya sekadar satu cup ramyeon dengan telur dan sosis murah.

Ah, ia jadi penasaran dengan kabar pria itu. Tiba-tiba saja Yoongi menghilang, sudah dua hari, lebih tepatnya. Ia pun mencoba untuk menghargai apa pun keputusan Yoongi meski setiap hari Jungsoo bertanya kapan pria itu kembali pulang ke apartemen kecilnya.

“Jimin, can I ask you something?”

“Go on, kak.” Jimin mengangkat kepalanya serta menyerahkan atensi sepenuhnya kepada Namjoon. Berusaha mengabaikan segala pemikiran tentang Yoongi yang tadi datang ke kepalanya.

Lelaki itu menatap Namjoon dengan tatapan kepalang serius sekaligus melipat tangannya di atas meja, sembari menatap fokus teman lamanya yang sedang sibuk merogoh kantung celana.

Berselang beberapa menit, kedua matanya melebar saat mendapati kotak bludru biru dongker dengan cincin berlian yang terpampang indah di dalamnya.

Jelas ia tahu melebihi tahu tentang apa maksud dari pria ini.

“Aku sudah lama suka, no, aku sudah lama jatuh cinta sama kamu. Aku siap untuk komitmen jangka panjang dengan kamu, Jimin. You're the one,” ucap Namjoon sembari berlutut di samping Jimin. Telapak tangan lebar milik Namjoon diarahkan untuk mengusap hangat punggung tangan dari lelaki yang paling ia cintai. Pria itu menggulirkan matanya ke arah lain guna menghilangkan rasa gugup di hatinya, sebelum akhirnya tatapannya jatuh menatap sang lelaki dengan tatapan hangat, begitu hangat seperti matahari di musim semi. “Will you marry me?”

Jimin bangkit dari duduknya sebelum akhirnya memeluk tubuh besar Namjoon dengan erat. Ia sendiri begitu tenggelam akan suasana yang dibuat sedemikian rupa oleh Namjoon, tanpa mengetahui jika seseorang sedang melihat serta mendengarkan pembicaraan mereka sejak beberapa menit yang lalu.[]