Jo Hongchul—tersangka kedua yang dirasa ikut andil dalam kasus ini—kini duduk kembali di dalam ruang interogasi bersama Yoongi dan Jimin. Dengan dihalangi meja berukuran sedang, yang semakin membuat suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam.
Hujan turun dengan deras di hari itu. Membasahi jalanan beraspal di bawahnya dengan cepat, membuat aroma petrichor menguar memasuki indra penciuman setiap manusia yang ada di sana.
Saat mereka sudah berada di dalam studio dan duduk nyaman di kursi masing-masing, akhirnya Jimin menghela napas lega sebab akhirnya ia bisa duduk dengan tenang setelah berlari dari tempat parkir di basement hingga sampai ke lantai tempat di mana bioskop berada. Yang sepenuhnya salah di sini adalah Yoongi, karena membeli tiket nonton yang berdekatan dengan jam pulang sekolah mereka.
Saat Yoongi akhirnya sampai pada pekarangan rumah Jimin yang tampak asri, seketika saja ia langsung menurunkan standar motornya untuk menahan beban motor yang baru saja ia parkirkan. Matanya menelisik ke seluruh sudut rumah itu, sebelum menemukan sosok laki-laki dewasa, yang berada di pertengahan umur lima puluhan.
Dengan cepat, Jimin menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk saat mendengar ada suara ketukan yang berasal dari sana. Terlalu takut menemui kejadian horor, karena kelas yang ia kunjungi saat ini terkenal akan rumor angkernya.
“Ternyata lo emang suka di sini, ya?” Jimin menoleh ke arah asal datangnya suara tersebut dan kembali menemukan Yoongi, si kakak kelas yang akhir-akhir ini sering kali bertemu secara sengaja mau pun tidak dengan dirinya. Ia pun hanya kembali menundukkan kepalanya, menatap ponsel miliknya sembari berharap agar pesanan ojek online-nya cepat diterima.
Suara menyeruput yang terbilang lantang itu mendominasi keadaan di sekitar mereka yang cenderung hening. Mungkin hanya sebatas beberapa kendaraan yang lewat di belakang mereka, atau pun suara percakapan kecil dari para mahasiswa.
“Gue kira lo gak bakal dateng—ADAH! Sakit tau,” adu Yoongi saat Jimin menekan sudut bibirnya yang terluka dengan kapas. Ya, benar, pada akhirnya Jimin memutuskan untuk menghampiri saung tempat favorit mereka berdua sembari membawa kotak P3K seperti yang sudah diucapkan oleh Yoongi sebelum itu.
Umpatan samar Jimin ucapkan saat lagi-lagi ojek online yang ia pesan langsung di-cancel begitu saja oleh sang driver. Terhitung sudah hampir dua puluh menit ia duduk di atas anak tangga yang mengarah ke lapangan, sembari berharap ada satu driver yang menerimanya.