The Case [124]

Hujan turun dengan deras di hari itu. Membasahi jalanan beraspal di bawahnya dengan cepat, membuat aroma petrichor menguar memasuki indra penciuman setiap manusia yang ada di sana.

Di saat semua orang menolak untuk berada di luar rumah atau kendaraan mereka, Yoongi malah berdiri di depan daycare tempat Jimin menitipkan Yoa selama lelaki itu sedang bekerja. Meskipun ia berdiri tepat di bawah genting yang mampu untuk menghalau air hujan membasahi tubuhnya, tapi tetap saja cipratan air yang turun dengan deras di hari itu membuat celana bahan hitamnya terasa basah pada bagian bawah.

Tidak protes, karena dirinya sendiri yang ingin menjemput Jimin dan ingin mengantarkan lelaki itu hingga sampai ke apartemennya. Dengan berbekal dua payung hitam, yang nantinya dapat menolong mereka berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.

“Habis ini, belanja kebutuhan Yoa.” Suara yang begitu lembut memasuki indra pendengarannya, menyusul suara terbukanya pintu daycare itu. Membuat kepalanya naik, menatap ke depan ke arah datangnya suara itu. “Ah, tapi lagi hujan, ya. Aku gak bawa payung ....”

Mendengar lelaki itu berbicara dengan dirinya sendiri, membuat Yoongi terkekeh gemas. Ia pun akhirnya menyodorkan salah satu payung yang ia bawa sembari berucap, “Butuh payung, Tuan?”

Si lawan bicara berjengit kaget. Mata kecilnya membola lebar, menunjukkan jika sebelumnya lelaki itu tidak merasakan kehadiran Yoongi sama sekali.

Setelah beberapa menit, tatapan lelaki itu berubah menjadi tenang, sebelum akhirnya menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Yoongi. Ia memeluk Yoa yang berada di dalam pelukannya dengan lembut, lalu melangkah mundur beberapa langkah ke belakang.

“Kenapa kamu melihat saya seperti sedang melihat penjahat?”

“Gak biasanya, Yoongi-ssi ingin repot-repot datang ke daycare,” jawab Jimin sengit. Saat mendengar nada suara Jimin yang justru terdengar gemas, Yoongi pun melepas tawanya dengan keras.

Pria itu memegang perutnya sembari tertawa terpingkal-pingkal, serta jari telunjuknya mengusap sudut matanya yang berair. Bibirnya membentuk senyuman tipis seraya mengusap pucuk kepala Jimin.

“Hari ini hujan, memangnya kamu tidak senang kalau saya yang jemput kamu ke sini?”

“Hujan gak hujan, apa bedanya.” Bibir penuh Jimin mencebik pelan. Lelaki itu, sedang merajuk, tentu saja.

Salah satu hal yang selalu ia ingat. Jika Jimin sudah memajukan bibirnya beberapa senti ke depan dengan alis tebalnya yang turun dan dahi mengerut dalam, bisa dipastikan jika lelaki itu sedang merajuk.

Setelah sekitar tujuh menit lebih mereka berdiam di tempat masing-masing, akhirnya hujan berhenti turun. Digantikan dengan langitnya yang cukup mendung dan gelap, tanda jika sebentar lagi akan ada hujan susulan yang sangat deras.

Yoongi mematai langit sejenak, sebelum kembali melempar tatap pada Jimin yang masih menggendong Yoa yang tengah tertidur di dalam pelukan lelaki itu. “Katanya kamu ingin mampir belanja, kan?”

“Iya. Emangnya kamu mau ikut?”

Tidak memberikan jawaban apa-apa, Yoongi langsung membuka salah satu payungnya dan mempersilakan Jimin untuk berdiri di bawahnya. Tatapannya begitu teduh, menatap Jimin dengan seribu perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

“Udah gak hujan,” ucap Jimin, singkat. Matanya membola, melemparkan tatapan penuh kebingungan ke arah partner kerjanya.

“Memangnya kamu tidak ingin seperti di drama-drama? Adegan romantis berbagi payung.”

“Ada-ada aja, sih. Dasar aneh.” Meskipun nada bicaranya terdengar begitu sengit, Jimin tetap melangkahkan kakinya untuk berdiri di bawah payung yang telah Yoongi buka sebelumnya. Wajahnya memerah hangat, sementara darahnya berdesir halus.

Pria itu benar-benar selalu bisa membuatnya jatuh cinta untuk ke sekian kalinya. Lagi, dan lagi.[]