Hatsukoi [After Story]
Suara menyeruput yang terbilang lantang itu mendominasi keadaan di sekitar mereka yang cenderung hening. Mungkin hanya sebatas beberapa kendaraan yang lewat di belakang mereka, atau pun suara percakapan kecil dari para mahasiswa.
Kini Yoongi dan Jimin tengah fokus menghabiskan mie ayam pangsit dan mie ayam bakso yang sebelumnya sudah mereka pesan terlebih dahulu.
Keadaan saat itu begitu membuat Jimin bernostalgia pada kenangan dua tahun lalu saat dirinya dan Yoongi pertama kali datang ke kedai ini. Dengan Yoongi yang memesankan dirinya mie ayam pangsit, walau akhirnya saling bertukar karena selera masing-masing yang berbeda.
Namun, kali ini, kekasihnya itu tentu ingat dengan menu yang biasa ia pesan.
Ah, kekasih. Begitu senang rasanya saat bisa memanggil Yoongi dengan embel-embel 'kekasih'. Karena akhirnya dari sekian banyak lika-liku yang mereka lewati saat dulu, terbayar begitu saja dengan status manis yang mengikat mereka.
Senang. Bisa menjadi kekasih dari cinta pertamanya.
“Kok kamu senyum-senyum terus? Tau kok aku emang ganteng.”
“Gak jelas. Ngobrol sana sama botol kecap.” Seperti biasa, Yoongi hanya tertawa singkat guna menanggapi candaan pedas yang dilontarkan oleh Jimin. Kalau kata Jungkook, 'udah pacaran tapi candaan masih candaan jelek'.
Ya, meskipun akhirnya mereka kerap abai dengan kata-kata yang dilontarkan oleh tunangan Taehyung itu.
“Nanti kamu ikut sama aku kan, nonton Hoseok di cafe biasa?”
“Kalo nanti revisianku diterima, aku ikut. Kalo ngga diterima aku juga ikut.”
“Kok gitu?”
“Aku gak mau digangguin kamu di-chat. Bosen lah, laper lah, apa lah,” omel Jimin sembari tetap fokus menelan bulatan bakso daging yang ia tinggalkan untuk dimakan terakhir. “Emang kamu gak mau aku ikut?”
“Kalo aku gak mau, aku gak bakal nanya dari awal, mochi,” jawab Yoongi seraya menjawil kecil hidung Jimin hingga menghasilkan desisan marah dari lelaki itu.
Sudah dua tahun lewat, tetap saja lelaki yang ia sukai ini tampak sama dan tidak berubah. Dari perilaku, bahkan hingga tampangnya.
Tidak peduli meskipun Jimin sering mengadu kalau berat badannya naik. Karena bagi dirinya, Jimin tetaplah tampak sama dengan Jimin yang ia kenal sewaktu mereka masih berada di bawah institut pendidikan yang sama.
“Kamu di kantor, gimana?”
“Masih hidup, untungnya.” Gurauan dari pria itu mampu membuat Jimin tertawa pelan. Dengan satu buah bakso yang masih berada di dalam mulutnya, sampai membuat pipi tembam lelaki itu terlihat makin menggembung lucu.
Jiminnya yang sempurna. Jiminnya yang ia cintai. Entah sepanjang apa buku yang bisa ia buat dengan hanya memikirkan lelaki itu. Mungkin, lebih panjang dari skripsi yang ia tulis saat dulu? Mungkin.
“Jimin.”
“Hm?” jawabnya cuek. Terlihat si lawan bicara yang sedang merogoh saku kemeja kotak-kotaknya untuk mencari beberapa lembar uang guna membayar makanan miliknya.
Biarlah lelaki itu sibuk. Setidaknya tidak harus melihat ekspresi Yoongi pada saat ini yang seperti sedang mulas.
Tangan yang digenggam secara tiba-tiba membuat Jimin seketika menolehkan kepalanya ke arah Yoongi. Matanya membola lucu, mempertanyakan tindakan kekasihnya saat ini.
“Kak—”
“Biar ... aku aja, yang bayar.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Yoongi pun meninggalkan meja mereka dan berlari dengan segera ke arah sang penjual. Meninggalkan Jimin dengan raut penuh kebingungan di tempat duduknya.
Kekasihnya hari ini, aneh. Memangnya pohon rambutan yang berdiri kokoh di atas mereka itu memiliki penunggu, ya?
Jimin pun hanya menggeleng maklum, sebelum tubuhnya terdiam kaku saat merasakan sebuah benda asing teronggok kaku di atas telapak tangannya. Bibirnya terbuka kaget, sementara wajahnya terlihat bersemu merah.
“Kak Yoongi! Masa kamu ngelamar pacarmu di warung mie ayam gini, sih?! Dasar pacar gak romantis!”[]