PKDT Class [195]
Saat mereka sudah berada di dalam studio dan duduk nyaman di kursi masing-masing, akhirnya Jimin menghela napas lega sebab akhirnya ia bisa duduk dengan tenang setelah berlari dari tempat parkir di basement hingga sampai ke lantai tempat di mana bioskop berada. Yang sepenuhnya salah di sini adalah Yoongi, karena membeli tiket nonton yang berdekatan dengan jam pulang sekolah mereka.
Beruntung juga dirinya masih menyimpan beberapa lembar uang di dalam tasnya, semua uang yang sebelumnya telah ia tabung untuk membeli buku TTS kini malah terpakai untuk nonton dengan kakak kelasnya.
Menyebalkan. Namun, tidak bohong juga kalau dirinya senang dengan agenda mereka hari ini. Terasa seperti kencan.
Menyadari apa yang ia pikirkan barusan, Jimin menepuk-nepuk wajahnya dengan keras. Ia yakin sekali jika seluruh wajahnya tampak memerah karena hawa panas kini mulai menyebar pada permukaan kulitnya.
“Lo gak gampang masuk angin, kan?”
“Eh?” sahut Jimin sembari menoleh ke arah laki-laki di sebelahnya itu. Ia menganggukkan kepalanya dengan perlahan, sembari menatap bingung Yoongi yang tengah menatapnya balik. “Emang kenapa, Kak?”
“Gue bawa jaket tambahan, kalo seandainya lo kedinginan.”
“Gue gak selemah itu, ya?!” ucap Jimin dengan kesal. Ia merengut dan memeluk popcorn-nya erat-erat, berusaha sekali untuk menunjukkan jika ia sedang kesal kepada lelaki itu.
Beberapa saat, keadaan di sekitar mereka mulai hening karena film mulai terputar. Semua orang tenggelam ke dalam film itu, tidak terkecuali Yoongi dan Jimin.
Oh, tidak. Karena tampaknya sedari tadi Yoongi sibuk memperhatikan Jimin dalam diam. Entah, lelaki itu tampak memesona dengan cahaya yang temaram dari pantulan layar bioskop.
Jimin yang merasakan jika ia sedang diperhatikan pun menolehkan wajahnya ke arah Yoongi. Sebelum ia kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain saat mendapati jika kedua mata Yoongi menatap lurus-lurus ke arahnya. Aneh, bukannya menonton film yang ada di depan sana, kenapa lelaki itu malah memperhatikannya?
Yoongi memang, seseorang yang suka terang-terangan menunjukkan perasaannya. Sudah tidak kaget, tetapi Jimin yang tidak pernah menerima perlakuan seperti itu pun hanya bisa mengusap dadanya perlahan karena merasakan degup jantungnya yang menggila.
Lelaki yang lebih muda akhirnya kembali menoleh ke arah Yoongi saat merasakan sebuah genggaman yang begitu erat pada telapak tangannya. Ia merasakan kehangatan yang begitu teduh dari sentuhan sederhana itu.
“Jimin.” Suara rendah kakak kelasnya itu mengalun indah pada indra pendengarannya. Rasa panas mulai menyelimuti wajahnya, serta jantungnya berdegup semakin cepat dan semakin gila.
Dalam jarak sedekat ini, ia bisa menghirup aroma manis yang menguar dari tubuh lelaki di sampingnya ini. Ia bisa merasakan, tangan lelaki itu yang juga bergetar pelan dalam genggamannya. Ia bisa merasakan kehangatan saat Yoongi berucap, “Boleh, gak, gue jadi pacar lo?”
Kalimat itu berputar seperti angin puting beliung di dalam kepalanya. Berputar seperti kaset rusak yang terus-terusan berdengung hebat di telinganya.
Di hari itu, ia melewatkan setengah dari isi film yang mereka tonton. Hanya karena kalimat yang kakak kelasnya itu ucapkan. Kalimat yang sukses membuatnya pusing bukan kepalang.[]