PDKT Class [76]

“Ternyata lo emang suka di sini, ya?” Jimin menoleh ke arah asal datangnya suara tersebut dan kembali menemukan Yoongi, si kakak kelas yang akhir-akhir ini sering kali bertemu secara sengaja mau pun tidak dengan dirinya. Ia pun hanya kembali menundukkan kepalanya, menatap ponsel miliknya sembari berharap agar pesanan ojek online-nya cepat diterima.

Sungkan. Dirinya sudah memiliki catatan buruk di depan Yoongi entah berapa kali jumlahnya.

Mulai dari bertemu saat ia membolos, kejadian memalukan di kantin, insiden mengatai Yoongi secara tidak sengaja, bahkan sampai ketahuan tidak memakai seragam yang lengkap. Malu. Jimin merasa bahwa dirinya terlihat sangat rebel jika dibanding dengan kakak kelasnya itu.

“Kenapa gak nunggu di tribun lapangan aja?”

“Di sini sinyalnya kenceng, kak.” Jimin menjawab dengan suara yang sangat amat teramat pelan. Berusaha sekeras mungkin untuk tidak melakukan kesalahan, demi menjaga image-nya di depan laki-laki itu.

Entah ada gerangan apa, tiba-tiba saja Jimin merasakan tangan Yoongi yang hinggap di atas kepalanya. Telapak tangan lebar lelaki itu mengusap pelan pucuk kepalanya, sembari melempar senyum yang begitu manis.

Tampan. Lawan bicaranya ini memang benar-benar memiliki paras yang begitu tampan. Hingga terkadang membuat Jimin tidak heran jika penggemarnya bertebaran di seluruh sudut sekolah.

“Duduk di tribun aja yuk, nanti gue hotspot, deh. Sekalian nemenin gue main basket bentar.”

“Eh? Mm ... gapapa, kak, ini ojol gue juga udah mau nyampe.”

“Ya gapapa, nunggu di tribun aja. Kan lebih deket ke gerbang.” Setelah mendengar jawaban Yoongi tersebut, dirinya yakin, jika ia tidak akan bisa berkelit lagi. Turut heran juga kenapa kakak kelasnya ini bersikeras mengajaknya berduaan saja.

Berduaan? Seketika wajah Jimin memerah semu ketika memikirkan jika nanti hanya ada dirinya dan Yoongi. Sekali lagi, malu.

“Oh iya.” Yoongi menjeda ucapannya sejenak sebelum kembali melempar tatapannya intens ke arah Jimin. Senyum tipis terpatri pada wajahnya, membuat jantung Jimin berdebar cepat tak karuan. “Gue boleh minta nomor lo?”[]