PDKT Class [56]

Umpatan samar Jimin ucapkan saat lagi-lagi ojek online yang ia pesan langsung di-cancel begitu saja oleh sang driver. Terhitung sudah hampir dua puluh menit ia duduk di atas anak tangga yang mengarah ke lapangan, sembari berharap ada satu driver yang menerimanya.

Harusnya ia sudah pulang dari tiga puluh menit yang lalu jika saja dirinya bersedia untuk dibonceng Taehyung dengan motor vespa milik lelaki itu. Atau bahkan sepuluh menit yang lalu harusnya ia bisa pulang dengan angkot jika saja sebelumnya ia bolos dari piket kelas.

Hari ini benar-benar hari yang sial untuknya. Aneh. Apa karma mulai menghampiri dirinya karena insiden jus jeruk beberapa hari yang lalu?

Jimin menatapi lapangan yang mulai kosong dengan tatapan sendu. Dibanding takut tidak pulang ke rumah tepat waktu dan dimarahi sang ibu, dirinya lebih takut bertemu hal-hal mistis yang selalu menjadi kabar burung dari satu abad yang lalu.

Sial, bahkan bagian belakang lehernya mulai merinding.

“Oh, jus jeruk?”

“Anjing!” Refleks Jimin kembali mengumpat dengan suara yang lantang sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Tubuhnya bergetar pelan saat merasakan sebuah tangan hinggap pada bahu kanannya.

Sekarang makhluk astral mulai bisa memegang tubuh manusia, ya?

“Lo kenapa selalu ngumpat sih kalo ketemu sama gue?” Sosok itu kembali menuruni beberapa anak tangga hingga kini dirinya berada tepat di depan Jimin. “Emang gue kayak setan, ya?”

Mendengar hal itu pun seketika membuat Jimin menurunkan tangannya dan menatap figur seseorang yang ada di depannya saat ini. 'Mati gue,' batinnya berucap.

Bagaimana tidak? Ini kedua kalinya ia mengumpat di depan kakak kelasnya itu. Apalagi kakak kelas yang merupakan bagian komite kedisiplinan dan termasuk orang penting dalam organisasi sekolahnya.

“Santai aja kali, gue gak gigit,” ucap Yoongi sembari menunjukkan deretan gigi depannya yang berbaris rapi. “Lo kenapa belum pulang?”

“Lagi nungguin ojek, kak. Dari tadi gak dapet-dapet.”

“Ooh, emang susah sih jam segini. Paling kalo nemu, tarif lo dinaikin sama sistemnya. Bareng gue aja, yuk? Gue bawa motor—” Yoongi menghentikan ucapannya sejenak setelah mendengar bunyi perut Jimin yang keroncongan.

Benar-benar malu kuadrat, hingga rasanya ingin menyelam ke dalam Palung Mariana. Meskipun saat ini Jimin hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan mengalihkannya ke arah lain.

“Sekalian cari jajanan sore, mau? Gue juga laper, nih.”[]