PDKT Class [161]
Saat Yoongi akhirnya sampai pada pekarangan rumah Jimin yang tampak asri, seketika saja ia langsung menurunkan standar motornya untuk menahan beban motor yang baru saja ia parkirkan. Matanya menelisik ke seluruh sudut rumah itu, sebelum menemukan sosok laki-laki dewasa, yang berada di pertengahan umur lima puluhan.
Ah, pasti orang itu adalah Ayah dari Jimin. Yang katanya, sangatlah galak.
Memang, sih, tubuhnya terlihat kekar dan berisi. Apalagi wajahnya yang terdapat beberapa bekas luka memanjang yang entah disebabkan oleh apa. Yoongi bergidik pelan, memikirkan jauh-jauh tentang kalimat apa yang akan ia ucapkan untuk menyapa pria itu.
“Heh, kamu!” Kepala Yoongi mendongak ke atas saat mendengar suara yang begitu rendah itu berseru kencang ke arahnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan tajam milik si pria yang sedari tadi ia amati dari jauh. Mengerti bahwa dirinya tak lagi bisa kabur dari sana, Yoongi pun melangkahkan tungkai kakinya perlahan menuju orang itu.
Di dalam hati, ia telah merapalkan beberapa doa yang ia tahu, sembari berharap agar tidak terjadi apa-apa dengannya. Bisa-bisa nanti ibunya menangis jika ia pulang hanya tinggal nama.
“Iya, Pak?”
“Kamu Yoongi, pasti.” Yoongi sedikit menekuk alis tebalnya saat mendengar pria itu mengucapkan namanya dengan jelas. Pasalnya, ia sama sekali belum pernah bertemu dengan pria ini.
Selama beberapa kali dirinya jalan bersama Jimin, lelaki itu selalu memintanya untuk parkir di depan rumah. Dengan alasan yang sama, bahwa ayahnya galak.
“Yah, saya salah orang lagi, nih.”
“Maaf, Pak?”
“Iya. Itu, loh, tiap ada anak sekolahan yang lewat di depan rumah saya, selalu saya panggil Yoongi. Habisnya anak saya ngelindur tentang dia mulu, sih.” Pria itu berucap pelan sembari memajukan bibirnya beberapa senti. Jika dilihat, benar-benar mirip sekali dengan Jimin, seperti hasil copy paste. “Saya penasaran itu siapa.”
“Oh, itu saya, Om.”
“Loh, tadi kamu diem aja.” Yoongi hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan pria itu barusan. Ia menggaruk lehernya yang tidak gatal, sejenak melupakan rasa gugup yang tadi ia rasakan.
Ternyata tidak seburuk itu.
“Gak usah basa-basi lah, ya. Kamu saya kasih restu.”
“Maaf, om?” Apa-apaan itu? Apa memang semua keluarga Jimin suka sekali membuatnya jantungan? Sepertinya kata tiba-tiba merupakan halaman paling awal yang ada di dalam kamus keluarga itu.
Jantung kecilnya tidak siap untuk pernyataan mendadak tersebut.
“Gak usah maaf-maaf, emangnya lagi lebaran?” gurau pria itu, “kamu ini pacarnya anak saya, kan?”
Sungguh, rasanya Yoongi ingin pingsan saat itu juga.[]