The Case [161]

Jo Hongchul—tersangka kedua yang dirasa ikut andil dalam kasus ini—kini duduk kembali di dalam ruang interogasi bersama Yoongi dan Jimin. Dengan dihalangi meja berukuran sedang, yang semakin membuat suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam.

Tatapan si tersangka yang menajam seiring berjalannya waktu, juga raut datar yang ditunjukkan oleh Yoongi, sungguh membuat jantung Jimin berdegup tidak nyaman.

“Saya bukan pelakunya.” Mungkin sudah ketiga kalinya Hongchul berucap seperti itu, hingga kini Jimin hanya bisa menghela napasnya berat. Jimin menoleh ke arah cermin dua arah yang membatasi antara ruang interogasi dengan ruang tempat rekan-rekannya menonton dari balik sana. Kepalanya menunduk lemah, sebelum kembali menatap lurus ke arah sang tersangka yang kini ada di depannya.

“Jo Hongchul-ssi—”

“Punya bukti apa?” ucap Hongchul dengan suara yang begitu lirih. “Kalian punya bukti apa?”

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh target, dengan cepat Yoongi mengeluarkan bungkus zip lock transparan yang menjadi tempat mereka untuk meletakkan bukti dari beberapa kasus yang mereka temukan. Terlihat bola mata Hongchul membola kaget, serta tubuhnya terlonjak kecil.

Tanda jika memang pria itu memiliki keterkaitan dengan benda ini.

“Apa yang Anda lakukan di hari kematian Lim Youngchan-ssi?” Nada bicara Yoongi terdengar begitu tenang, justru lebih merujuk pada mematikan. Pria itu sedari tadi membungkam mulutnya, membiarkan Jimin memancing emosi tersangka dengan pertanyaan yang diulang-ulang. “Sidik jari Anda ditemukan di sini. Anda merekam pembunuhan itu untuk ditonton berulang kali seperti psikopat?”

Jimin tersenyum kecil saat melihat aura percaya diri yang begitu kuat menguar dari sosok pria di sebelahnya ini. Begitu pun tatapan matanya yang terlihat menyipit senang saat melihat si tersangka sudah terpojok.

Tiga menit yang terasa seperti tiga jam penuh mereka lewati sembari berdiam dan membungkam mulut masing-masing. Raut keras seperti batu yang tadinya dipertahankan oleh Hongchul pun akhirnya melemah. Pria itu terlihat putus asa dengan keringat yang mengalir di dahinya.

“Itu ... memang punya saya—”

“Jadi, Anda pelakunya—”

“Bukan!” teriak Hongchul lantang. Kepalanya menunduk dalam, sebelum kembali diangkat untuk menatap lurus Jimin yang ada di depannya. “Saya memakai itu, demi kepuasan birahi saja.”

Bola mata Jimin melebar, ia bisa mendengar Jieun yang berteriak kaget dari earphone di telinga kanannya. Sungguh sebuah fakta baru yang mereka temukan.

Publik memang sedang digegerkan dengan kejadian berulang peletakkan nano kamera di beberapa bilik kamar mandi wanita. Namun, tidak disangka jika dirinya akan bertemu dari salah satu dari sekian pelaku yang masih berkeliaran di luar sana.

Sementara dirinya berusaha menenangkan detak jantungnya dan mengembalikan kinerja otaknya, Yoongi kembali mengambil alih jalannya interogasi saat ini.

“Kamera ini, memakai sistem suara.”

“Bukan saya pelaku—”

“Di dalamnya ada bukti, yang menjadi akhir dari kasus ini. Tolong kooperatif jika Anda tidak ingin dianggap sedang menyembunyikan barang bukti,” ucap Jimin, final. Helaan napas berat keluar dari bibir tebalnya, sementara telapak tangannya mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat.

Setidaknya, satu langkah lagi, menuju akhir dari kasus ini. Setidaknya, hanya satu anak tangga lagi sebelum mereka menemukan ujung dari kasus ini.[]