PDKT Class [124]

Dengan cepat, Jimin menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk saat mendengar ada suara ketukan yang berasal dari sana. Terlalu takut menemui kejadian horor, karena kelas yang ia kunjungi saat ini terkenal akan rumor angkernya.

Namun, dibanding menemukan entitas berwujud seram, manik matanya malah menangkap sosok laki-laki yang akhir-akhir ini selalu berada di sekitarnya.

Yoongi, berdiri di sana sembari bersandar kepada daun pintu, serta melipat tangannya di depan dada. Senyum tipisnya terlukis manis di wajahnya, sementara mata kucingnya menatap Jimin dengan santai.

“Meja gue? Lo mau ngapain?”

“Ini ... mau balikin jaket punya lo,” jawab Jimin dengan lirih. Mata bulatnya mengamati sosok kakak kelasnya itu dengan tatapan bingung, saat Yoongi berjalan mendekati dirinya dan menarik jaket itu dari tangannya.

“Ini,” jeda Yoongi sembari memakaikan selembar pakaian itu pada tubuh kecil Jimin, “buat lo.”

Jimin hanya membulatkan matanya heran, menatap sosok di depannya ini dengan penuh rasa kebingungan. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja kakak kelasnya itu memberikannya jaket dengan gratis.

Aneh. Terlampau aneh hingga ia tak bisa berucap apa-apa.

”... Makasih, Kak.” Jimin berucap dengan suara yang begitu pelan, tetapi tetap bisa didengar oleh mereka berdua.

Suasana hari ini yang begitu sepi, rasanya sangat mendukung atmosfer saat itu.

“Lo ngapain ke sini?”

“Ngambil botol minum gue yang ketinggalan,” jawab Yoongi. Laki-laki itu merogoh kolong mejanya dengan raut serius, sebelum akhirnya berubah menjadi raut senang saat menemukan apa yang ia cari. “Nanti nyokap bisa marah kalo gue ilangin ini benda keramat.”

Guyonan sederhana yang dilontarkan oleh Yoongi pada saat itu pun sukses membuat Jimin tertawa. Sesaat suasana yang hadir di antara mereka menjadi hangat, serta terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Tidak ada kata canggung, yang berada di antara Jimin dan Yoongi pada saat itu.

“Lo pulang naik apa?”

“Angkot, kak. Uang gue udah terlanjur buat bayar uang kas. Bendahara kelas nagih mulu, sih,” keluh Jimin. Pikirannya mulai berkelana mengenai angkot warna apa yang harus ia naiki karena dirinya termasuk jarang menaiki transportasi umum tersebut.

Menyebalkan. Harusnya ia membawa uang lebih jika nantinya akan seperti ini.

“Pulang sama gue, yuk?” tanya Yoongi meminta persetujuan dari lelaki itu. Senyum tipis terlukis pada wajahnya, sementara matanya menatap lurus pada sosok Jimin. “Sekalian mau bawain oleh-oleh dari Jakarta buat orang tua lo. Mau minta maaf karena kemarin anaknya pulang larut gara-gara malmingan sama gue.”[]