Trash Talking [1 – 2]
Seokjin mengembuskan napasnya dengan berat hingga menciptakan asap putih samar yang menguap dan hilang di udara. Tangannya saling mengait antar satu sama lain sebelum diletakkan di atas kedua pahanya yang mengapit rapat. Matanya yang kehilangan binar bahagia kembali difokuskan menatap lurus ke arah depan.
Bibir tebalnya digigit pelan, menahan rasa sakit yang ada di dadanya saat tiba-tiba saja foto unggahan cincin Yoongi dan Jimin kembali lewat di pikirannya. Ia kira, kepindahannya ke Belanda selama beberapa bulan ini telah sukses membuatnya lupa akan perasaannya pada Min Yoongi. Namun, memang nyatanya sebuah perasaan yang dipupuk selama lima tahun lamanya tentu tidak mudah untuk dihilangkan.
Kepalanya penuh dengan berbagai perandaian, perihal bagaimana jika dulu dirinya mengungkapkan perasaannya untuk pria itu lebih cepat. Akankah hasilnya sama saja dengan yang ia terima saat ini? Akankah dirinya berpacaran dengan Yoongi dan menikah dengan pria itu? Akankah dirinya bahagia dengan hidup bersama Yoongi?
Seokjin tertawa miris saat dirinya kembali merasa egois akan perasaan seseorang yang bahkan tak mempunyai perasaan yang serupa dengan dirinya. Menyedihkan.
“Andai, andai, andai mulu. Gue capek,” keluh Seokjin sembari menundukkan kepalanya menahan tangis. Tetap, ingin dilupakan sekeras apa pun, bayangan perilaku Yoongi pada hari itu akan selalu muncul di kepalanya. Bayangan itu selalu mengikutinya seolah ingin menghantui dirinya setiap saat. Bayangan tentang seorang Yoongi yang memberikannya syal dan hotpack secara cuma-cuma. Bayangan tentang seorang Yoongi yang rela ia jadikan tempat berkeluh kesah saat kerjaannya menggunung. “Biasanya kalo Yoongi yang sedih gue selalu bisa kasih saran, tapi emang nyatanya gue cuma pengecut yang bahkan gak bisa kasih saran bagus buat diri sendiri.”
Pria itu kembali mengangkat kepalanya serta meraih tas kerjanya dengan lesu sebelum berdiri berniat untuk beranjak dari sana. Matanya menelisik sekitar taman yang sepi itu sebelum pandangannya menangkap suatu figur yang tampak tidak asing di matanya.
Seseorang yang sangat ia kenal. Seseorang yang begitu tidak ia duga kehadirannya.
“Kim Namjoon?”[]