The Case [51]
Suara sorak sorai dari arah stadion, kebisingan jalan raya yang tidak jauh dari sana, serta suara hentakan kaki Jimin yang sedari tadi terus bergerak tanpa berniat untuk dihentikan sementara. Jelas Yoongi merasakan kegelisahan partner kerjanya itu, karena sesungguhnya ia lebih peka jika menyangkut tentang Jimin.
Entah, hanya sebuah perasaan yang timbul sesaat setelah kasus di lumbung padi terjadi, kasus yang membuat lelaki itu terluka. Instingnya menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya karena kejadian itu.
Telapak tangannya yang lebar dibawa mengusap bahu kanan Jimin dengan lembut. Senyum tipis muncul di wajahnya guna membantu menenangkan si lelaki.
“Masih khawatir?”
“Iya, just my dumb feelings, right?” Jimin menundukkan kepalanya lesu sebelum menghela napas pelan untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup cepat. Kedua tangannya saling meremat satu sama lain saat berulang kali keringat dingin keluar dari pori-pori tangannya.
Perasaan pekanya sungguh menyebalkan. Ia tahu hari ini akan terjadi sesuatu, tetapi entah apa itu.
Jimin menatap lurus ke arah lapangan baseball yang penuh dengan para pemain dengan tetap berusaha mempertahankan raut tenangnya. Kepalanya sibuk mengamati ekspresi rekan kerjanya yang terlihat sangat menikmati jalannya pertandingan.
Sial, biasanya Jungkook menunjukkan tanda-tanda jika ia merasakan sesuatu dengan firasat ajaibnya. Mungkin memang kali ini hanya perasaan lelah sesaat karena ia berangkat kerja dan mengurus Yoa secara bersamaan.
Punggungnya dijatuhkan menghantam punggung kursi sebelum ia merasakan telapak tangan Yoongi menggenggam erat tangan kanannya. Pria itu semakin mengeratkan tangannya pada Jimin sebelum menoleh menatap sang partner yang tengah kebingungan.
“Kamu dengar?” tanya Yoongi singkat. Tatapan mata pria itu terlihat begitu serius seolah ingin mengatakan sesuatu.
Bulu kuduknya berdiri, serta tubuhnya menegang sebelum akhirnya suara sirene mobil polisi dan ambulans berdengung bersahutan. Bahkan sekiranya ada dua sampai lima mobil yang datang ke... tempat ini.
Bertepatan dengan itu, Jimin melihat sang batter dari tim white puma melempar pemukulnya begitu saja ke atas tanah dan berlari ke luar lapangan dengan kecepatan maksimal.
Sementara Jimin mendudukkan dirinya dengan lemas sebelum menatap kosong ke arah lapangan yang kini terlihat lengang karena para pemain sudah digiring keluar terlebih dahulu oleh sang wasit dan pelatih tim red tiger.
Ia tahu akan terjadi sesuatu di sini, tetapi tetap saja ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya.[]