Trash Talking [237]

Pukul sepuluh malam waktu Korea Selatan dengan keadaan langit yang cukup gelap sebab sang bulan terhalang awan mendung. Udara berembus dingin menerpa kulit yang terbuka, angin yang membelai kulit dengan halus seketika membuat tubuh siapa pun bergidik pelan entah setebal apa pun pakaian yang kamu pakai.

Yoongi semakin menarik tubuh Jimin mendekat ke arahnya saat melihat bibir lelaki itu bergetar pelan. Dengan berani, tangannya merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu dengan penuh rasa sayang.

Hening menyapa, hanya ditemani suara gesekan antar alas kaki masing-masing insan dengan jalanan beraspal di bawah mereka. Rencana makan malam yang Yoongi rencanakan sungguh membuat lelaki itu terkesima, meski bukan sebuah ide yang ekstrim ataupun sebuah ide yang sangat manis hingga terasa menyengat di lidah. Tetap bagi Jimin jika hal itu dilakukan oleh Yoongi maka ia akan menyukainya.

Did I make you happy enough?”

Of course, pacar. Siapa sih yang gak bahagia setelah dikasih surprise kayak gitu? I didn't expect you'll booked a VIP room,” ucap Jimin sembari menunduk menahan malu. Padahal waktu itu Namjoon juga memberikan makan malam yang mewah bahkan lamaran dan cincin berlian untuknya, tetapi tetaplah Yoongi yang terlihat spesial di matanya.

Bucin, kalau kata anak muda jaman sekarang.

Secara diam-diam dan perlahan, Yoongi memindahkan tangannya dari bahu sang kekasih menuju ke dalam genggaman tangan Jimin yang lebih kecil dari miliknya. Jantungnya berdegup kencang, mengalahkan suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan utama.

Tangan yang semula bersuhu dingin, kini menghangat sebab Yoongi sama sekali tidak ingin melepaskan genggamannya dari sana. Rasanya enggan untuk jauh-jauh dari lelaki itu.

Memang, Yoongi adalah tipe orang yang sulit untuk jatuh cinta. Namun, jika sekali hatinya jatuh pada seseorang, maka ia tidak akan melepaskannya.

“Kakak pacar, did I really deserves you? I mean, aku bisa dibilang pregnant by accident. Kamu gak malu?”

“Harusnya aku yang tanya, did I really deserves an angel like you? Aku itu orang yang pernah jahat sama kamu, loh.”

“Ya.. soal hati kan gak ada yang tahu, Gi. Aku lihat usaha kamu, aku lihat kamu sayang sama Jungsoo dan aku, aku lihat kamu punya cinta yang besar buat aku.”

Then, it's my answers too. Soal hati gak ada yang tahu, tapi kamu emang pantas untuk dicintai.” Kedua pasang mata yang penuh akan rasa cinta itu saling menatap sebelum akhirnya secara bersamaan memalingkan wajah ke lain arah.

Entah kenapa masih saja malu, padahal hubungan mereka sudah berjalan selama beberapa bulan. Tepat seperti sedang menjalani hubungan sepasang kekasih untuk pertama kalinya.

Setelah beberapa menit berjalan sembari bergandengan tangan, Yoongi membawa Jimin untuk duduk di salah satu bangku di bawah penerangan lampu taman. Tangannya mengusap punggung tangan Jimin, sebelum dirinya berdiri dengan tegap di depan lelaki itu.

Perlahan Yoongi meraih saku celana bahannya sembari mengeluarkan kotak beludru yang jelas semua orang tahu apa niat pria itu sebenarnya. Ia membuka kotak itu di depan Jimin, mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah dari seseorang yang paling ia cintai.

“Jimin,” ucap Yoongi sembari melemparkan senyum terbaiknya di hadapan Jimin. Ia kembali menarik napasnya yang terasa berat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya degan suara bergetar.

“Orang yang paling aku cintai, Park Jimin. Aku, Min Yoongi, adalah seorang pria yang masih mempunyai banyak salah, mempunyai masa lalu yang buruk, dan segala hal lainnya yang mungkin tidak ingin kamu tahu. Meskipun aku bukan orang paling sempurna yang dihadirkan oleh semesta untuk kamu, aku ingin berkomitmen dengan kamu sebagai pasangan yang menemani tuaku. Aku ingin kamu dan aku merawat Jungsoo bersama sampai besar, aku ingin kamu ada bersamaku di masa-masa bahagia maupun sedih.” Air mata Jimin jatuh membasahi punggung tangannya yang ditumpu merapat di atas kakinya. Manik hitamnya menatap Yoongi dengan raut penuh rasa haru yang campur aduk dengan kebahagiaan.

Can I be your husband, Park Jimin?” Yoongi menatap kedua pasang mata Jimin yang menyipit dan basah akan air mata dengan senyum penuh ketulusan. Jantungnya berdegup kencang, menghantarkan ribuan kupu-kupu yang berputar di dalam perutnya.

“Aku bisa jawab apa selain iya?”[]