Trash Talking [226]
Asap hangat mengepul tebal dari beberapa makanan khas Korea yang sudah mereka pesan dari beberapa saat yang lalu. Hari ini tidak ada minum-minum alkohol seperti biasa, maka segelas air mineral dingin sudah cukup untuk menggantikan bir yang selalu mereka pesan saat datang ke sana.
Tidak ada bir, tidak ada lelucon jenaka yang biasa Hoseok atau Jinhwan lontarkan, tidak ada gurauan melantur yang selalu Mingyu ucapkan saat sedang mabuk. Malam ini hanya ada mereka berdua, Seokjin dan Yoongi, ditemani keheningan yang dipenuhi oleh rasa canggung yang amat sangat kentara. Yoongi maupun Seokjin tidak ada yang ingin membuka mulut sama sekali meskipun hanya sekadar mengawali pembicaraan mereka pada hari ini.
Sedari tadi hal yang Yoongi lakukan hanya meneguk air mineral dingin sembari tetap memperhatikan mimik yang rekan kerjanya hadirkan. Berulang kali ia meminta refill hingga pada permintaan keenam Seokjin mengucap kata pertamanya yang berupa kata maaf.
Yoongi menegakkan tubuhnya, bersiap dengan apa pun yang ingin Seokjin ungkapkan. Tangannya dilipat di atas meja, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tak kunjung melambat.
“Maaf, karena gue udah egois terhadap perasaan gue ke lo, Yoongi.” Mata berair milik Seokjin menatap lurus ke arah kedua manik hitam Yoongi yang juga tengah menatap dirinya dengan raut serius. Ia mengamati bagaimana Yoongi terlihat jauh lebih bahagia dengan hadirnya Jimin akhir-akhir ini.
Memang harusnya sedari dulu ia sadar, jika dirinya kalah telak.
“Iya, gue suka sama lo, gue sayang sama lo. Sejak pertama kali lo kasih syal lo ke gue, sejak lo kasih hotpack punya lo ke gue, sejak lo narik tangan gue keluar dari klub.” Seokjin melempar senyum getir saat melihat ekspresi Yoongi yang begitu terkejut dengan pengakuannya barusan. Beberapa saat ia menarik napasnya yang terasa sesak dengan perlahan, kembali menyiapkan dua sampai tiga paragraf yang akan kembali ia ucapkan. “Kadang gue ngerasa gue lebih hebat dari Jimin karena gue kenal lo jauh lebih lama dari dia, tapi selanjutnya yang gue tahu, kalau perhatian lo sepenuhnya buat Jimin. Dari tahun pertama Jimin masuk kantor, lo udah naruh perhatian sebegitu besarnya buat dia.”
Pergerakan Yoongi yang tadinya ingin berpindah ke sebelah Seokjin terhenti saat pria yang lebih tua setahun di atasnya itu mengangkat tangan seolah memintanya untuk berhenti dan diam di tempat awalnya. Kalau Yoongi berada di dekatnya, tentu bisa hancur pertahanan yang selama ini ia bangun untuk mengungkapkan semuanya pada laki-laki yang ia cintai sepenuh hati itu.
“Setelah gue tahu kalau lo mau lamar Jimin, gue hancur Gi.” Satu per satu bulir air mata Seokjin menuruni wajah tampan pria itu dengan perlahan, begitu menyakitkan jika dilihat oleh siapa pun. “Gue hancur, karena akhirnya gue tau hati lo bukan buat gue. Gue kalah telak, Gi.”
Beberapa saat hening menyapa mereka. Yoongi diam dengan segala pemikiran kusut dari informasi yang baru saja ia terima, sementara Seokjin di sana berusaha menyembunyikan tangisnya dan bersikap tegar.
Sejauh beberapa tahun pertemanan mereka, Yoongi sama sekali tidak pernah melihat air mata jatuh di atas wajah pria itu. Seokjin yang ia kenal adalah seseorang yang bersikap dewasa dan tegar. Bahkan saat nenek dari pria itu tiada, sama sekali tidak ada tangis yang menjumpa Seokjin.
“Gue—maaf.”
“Lo gak ada salah, Yoongi. Gue yang salah di sini karena nekat pertahanin perasaan gue buat lo.”
“Still, kesannya gue gak peduli sama perasaan lo.”
“Udah, Gi. Perasaan gue biar jadi tanggung jawab gue, lo gak perlu ikut andil di dalamnya.” Seokjin menghapus air mata yang masih mengalir di atas pipinya dengan jari telunjuk. Senyumnya berusaha ditunjukkan meski nantinya terlihat seperti senyum yang begitu menyedihkan. “Nanti, kalau undangan nikahan lo sama Jimin udah jadi kabarin gue, ya? Gue permisi dulu, masih ada urusan buat keberangkatan gue ke Belanda besok.”
“Besok banget, kak?” Panggilan itu seketika membuat tangan Seokjin kaku. Panggilan yang tidak pernah sekalipun Yoongi ucapkan sedari dulu sejak pertama mereka bertemu. Kembali Seokjin membuang pandangannya, berusaha menahan dirinya untuk bersikap tabah terhadap perasaannya.
“Iya, gue capek Gi, mau udahan.” Seokjin menarik napasnya yang berat sembari menundukkan kepalanya dalam. “Lo bahagia ya, sama Jimin. At least lo bahagia sama dia, gue gapapa, Gi.”
Ketiga kalimat terakhir yang begitu terdengar menusuk, Seokjin lontarkan terakhir kalinya sebelum meninggalkan Yoongi sendiri di sana dengan keheningan yang begitu kentara. Sebuah perpisahan yang terasa dipaksakan oleh Seokjin begitu menghantam dadanya dengan keras.[]