You Broke Me First [3]
Jimin menekan password salah satu unit apartemen itu dengan susah payah. Ia tetap berusaha menahan agar tubuh sang mantan kekasih tidak terjatuh ke bawah menghantam lantai yang dingin.
Dirinya memasukkan kode itu sembari menahan sesak di dada. Memaki dirinya sendiri perihal suatu hal di dalam kepalanya yang masih ingat tentang hal kecil yang dimiliki Yoongi.
Bisa dibilang, ia masih cinta dengan pria yang sudah menyakiti hatinya itu. Bodoh memang, ia tahu. Bahkan kini dirinya susah payah menjemput Yoongi dengan mobilnya, masuk ke dalam bar berbau alkohol yang sangat ia benci, serta mengantarkan Yoongi dengan aman hingga ke dalam kamarnya.
Kurang baik apalagi dirinya?
Jimin membaringkan tubuh Yoongi di atas ranjang pria itu dengan nyaman. Ia melepas sepatu kets converse itu serta menaruhnya di rak sepatu yang ada di pintu masuk. Sekaligus dirinya melepas jaket bomber yang dipakai Yoongi dan menaruhnya di atas sofa pria itu.
Ia sudah siap untuk meninggalkan kediaman mantannya itu sebelum tangannya ditahan, Yoongi tidak membiarkannya pergi dari sana begitu saja. Bahkan pria itu memaksakan dirinya untuk duduk di atas ranjang meski kepalanya serasa berputar karena efek alkohol yang masih menempel.
“I want you back, Jimin. I missed us.”
“Yoongi, no. It's over, we're over.”
Jimin mencoba melepaskan genggaman Yoongi pada pergelangan tangannya dengan sedikit paksaan. Namun sontak dirinya terkejut saat Yoongi berdiri sembari menariknya masuk ke dalam pelukan pria itu.
Yoongi menangis di sana, membasahi baju bagian pundaknya. Bahkan Jimin sudah tak ingin menumpahkan air matanya untuk Yoongi.
Pria itu yang berselingkuh, ia ingat betul bagaimana suatu chat sex terpampang nyata saat mereka menghabiskan waktu semalaman. Pria itu yang menyakitinya. Pria itu yang menghancurkannya.
Yoongi sendiri yang telah menghancurkan kepercayaannya pada pria itu.
Jimin pun tetap mencoba untuk mendorong tubuh seseorang yang masih ia cintai itu agar menjauh dari tubuhnya. Menolak segala usapan dan tangisan sedih yang ditunjukkan Yoongi di hadapannya.
“I'm sorry....”
“Yoongi, kamu dulu gak ada kata maaf. Saat kamu hancur begini kamu malah cari aku lagi, pada akhirnya aku cuma jadi obat kamu. Aku jadi tempat sementara agar kamu pulih, setelah itu kamu cari tempat menetap lainnya. Dan itu bukan aku.”
“Jimin, no....”
“Stop it, Yoongi. You broke me first, aku gak mau hancur untuk kedua kalinya.”
Telak Jimin mendorong tubuh Yoongi menjauh darinya. Kakinya dipacu lebih cepat untuk segera keluar dari apartemen penuh kenangan itu.
Ia sudah lelah, tak ingin hancur untuk kedua kalinya. Pada akhirnya, memang hanya dia yang harus mengalah dan menjauh, atau Yoongi yang terlebih dahulu menjauhinya. Maka sekarang opsi pertama lah yang ia jalani.
Pada akhirnya dirinyalah yang mengucapkan salam perpisahan pada pria itu dan berusaha menghapus perasaan yang masih ia miliki.[]