Why? [Yoonmin Oneshot AU]
Minggu yang terasa kosong dan hampa Jimin lewati tanpa sedikit pun rasa semangat. Setelah Yoongi memutuskan hubungan mereka secara sepihak melalui pesan singkat, dirinya dan pria itu tidak lagi saling menghubungi satu sama lain.
Memang, Jimin akui ia memblokir semua kontak pria itu. Mulai dari nomor telepon, hingga semua sosial media yang ia tahu. Ia memutuskan hubungan mereka seperti yang juga Yoongi lakukan.
Kebahagiaannya seperti direbut paksa dengan hilangnya sosok Yoongi di dalam hari-harinya. Kehilangan seorang penyemangat yang sangat ia cintai.
Baginya, hubungan mereka terlihat baik-baik saja selama ini, sama sekali tidak ada masalah. Kalaupun mereka berselisih paham, Yoongi ataupun dirinya selalu bisa kembali membangun mood yang baik di antara mereka.
Entah apa yang membuat pria itu berlaku kejam seperti beberapa hari yang lalu. Ia sama sekali tidak mengerti. Karena sepertinya pun Yoongi menolak untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Apa kepercayaan di antaranya dengan Yoongi sudah hilang? Apa ternyata Yoongi sudah bosan dan jenuh dengan hubungan mereka?
Jimin menjauhkan jari jemarinya dari keyboard laptop kerjanya setelah merasakan ada getaran ringan yang berasal dari kantung celana kanannya. Ia mengeluarkan ponselnya dengan malas sebelum bibirnya mengeluarkan ringisan pelan saat mendapati nomor yang tertera di sana adalah nomor si kakak tertua dari Yoongi, Kim Seokjin.
Bukankah urusan mereka sudah selesai? Apa yang pria itu inginkan darinya? Senang melihatnya hancur seperti ini?
“Halo? Jimin?”
“Halo kak, mm.. kalau kamu belum tahu, aku sama Yoongi sudah putus, kak.” Beberapa saat terasa hening setelah Jimin mengucapkan kalimat itu. Sampai-sampai si lelaki memeriksa apakah ia masih terhubung di panggilan yang sama seperti sebelumnya.
Yang ia dengar selanjutnya hanyalah beberapa isakan serta suara tarikan napas yang begitu berat dari sang lawan bicara. Seketika Jimin membawa tangan kanannya untuk memegang jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak dengan cepat. Firasat buruk memenuhi seisi kepalanya tanpa bisa ia hindari. “... Kak, kalau gak ada yang perlu dibicarakan—”
“Yoongi—Yoongi udah gak ada, Jimin.”
Aroma obat-obatan khas rumah sakit menguar memasuki indra penciumannya tepat setelah Jimin membuka pintu rumah sakit itu. Air matanya yang sedari tadi turun dengan deras membentuk aliran sungai kecil pada pipinya yang gembil.
Setelah ia memutuskan panggilannya dengan Seokjin yang menyebutkan jika Yoongi sudah tidak ada, dirinya langsung meninggalkan semua pekerjaannya begitu saja guna datang ke alamat yang dikirimkan oleh kakak tertua dari mantan kekasihnya.
Tidak mungkin 'kan? Pasti ini mimpi, pasti. Baru beberapa hari yang lalu mereka putus, belum genap seminggu yang lalu saat ia masih berada dalam panggilan telepon dengan Yoongi, belum genap sebulan saat terakhir kali ia mengunjungi pria itu di rumahnya.
Tangannya bergetar hebat, sementara matanya menelusuri isi rumah sakit ini dengan tatapan panik. Kakinya dipacu semakin cepat setelah melihat Seokjin duduk di kursi tunggu di depan salah satu kamar dengan raut kusut.
Mengurungkan niatnya untuk menghampiri sang kakak dari Yoongi, Jimin memutuskan untuk mengintip ke dalam ruangan yang ia duga sebagai ruangan Yoongi. Tidak, pasti setelah ia membuka pintu itu, Yoongi akan menyambutnya dengan senyuman manisnya seperti biasa.
Pasti Yoongi hanya terkena demam ringan, atau sedang istirahat karena pria itu yang kerap kali kelelahan akibat terlalu keras bekerja di kantor.
“Kak Yoongi—” Jimin menghentikan kalimatnya tepat saat para dokter dan perawat mendorong kasur pasien dengan seseorang yang terbujur kaku dibalik kain putih terbaring di atasnya. Matanya membola kaget, sementara tangannya yang gemetar dengan hebat dibawa untuk menghentikan pergerakan sang dokter dan perawat. “Sebentar, saya—”
Tangisnya kembali luruh saat mendapati yang terbaring di sana adalah wajah dan tubuh mantan kekasihnya. Orang yang sangat ia cintai terbujur kaku di sana dengan wajah yang mulai memucat.
Raungannya terdengar keras hingga rasanya membuat seluruh rumah sakit ikut merasakan apa yang Jimin rasakan. Telapak tangannya menepuk-nepuk wajah pucat Yoongi sembari berharap pria itu akan bangun dari sana dan memeluknya.
“Kak, ayo bangun. Kamu—hiks bercanda 'kan?!” Seorang perawat di sana mencoba untuk menahan Jimin yang semakin memeluk tubuh dingin Yoongi dengan tangis tersedu-sedu. Bahkan seolah tak rela melepaskan sang terkasih, lelaki itu berusaha memberontak meski sudah diminta bersabar dan tabah oleh banyak orang di sana.
Bahkan, ia tidak sempat mengucapkan kalimat cinta untuk terakhir kalinya. Ia tidak sempat untuk berada di sisi pria itu untuk terakhir kalinya.
Tak lagi memikirkan semenyedihkan apa dirinya saat ini di hadapan orang-orang, Jimin hanya bisa duduk di atas lantai rumah sakit dengan memeluk kakinya erat serta wajahnya yang ditenggelamkan di atas paha. Berulang kali bibirnya mengucap kata maaf, meski tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.
Benci, kenapa Yoongi harus bertindak seperti ini? Kenapa pria itu tidak jujur saja dengan dirinya?
Ia benci dirinya sendiri yang tidak memperhatikan bagaimana tubuh besar Yoongi memang terlihat lebih kurus sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan ia tidak menanyakan perihal Yoongi yang setiap harinya selalu mengenakan beanie hitam untuk menutupi rambutnya yang habis.
Justru di sini dirinya yang patut dihukum karena tidak pernah menyadari jika prianya menahan sakit sedari dulu.
“Jimin.” Suara Seokjin datang bersamaan dengan tepukan pelan pada bahu kirinya. Beberapa saat pria itu mengusap pelan bahu sempit si lelaki sebelum menyelipkan secarik kertas ke dalam genggaman Jimin. “Tadi sebelum kritis, Yoongi sempat kasih ini ke kakak. Katanya ini buat kamu.”
Jimin mendengarkan sayup-sayup suara langkah kaki Seokjin yang semakin menjauh sebelum kemudian ia mengangkat kepalanya untuk menatap selembar kertas putih kusut yang berada di genggamannya. Kertas putih polos, tanpa keterangan sama sekali. Hanya dilipat secara horizontal dengan berantakan yang menandakan jika si penulis sedang terburu-buru.
Tangannya mencoba untuk membuka lipatan yang ada di sana untuk membaca apa yang tertulis di dalamnya, meski kini air matanya membuat pandangannya kabur dan buram.
Karena tugasmu untuk menemani aku sampai akhir, sudah cukup sampai di sini, Jimin. Itu jawaban untuk pertanyaan yang kamu ucapkan beberapa hari yang lalu. Jawaban untuk pertanyaan, kenapa aku sudahi hubungan kita pada hari itu.
Seperti dugaan kamu, iya, selama ini aku kemo diam-diam karena penyakitku.
Kenapa aku gak kasih tau ini ke kamu? Karena aku gak akan sanggup lihat kamu sedih. Aku gak suka lihat kamu sedih, apalagi karena aku. Aku gak mau kamu menghitung hari-hari terakhir bersamaku, sebelum nantinya aku menyerah dengan penyakit ini. Kamu baru saja diterima di perusahaan yang kamu impikan sejak dulu, dan aku gak mau merusak momen bahagiamu sama sekali.
Maaf, aku harus meninggalkan kamu sendirian di sana. Maaf, aku gak bisa temani kamu lagi jika kamu sedang berteduh di halte saat hujan turun. Maaf, aku gak bisa movie night bersama kamu lagi. Maaf, aku gak bisa temani kamu untuk beli es krim favorit kamu saat musim panas datang. Maaf, karena aku gak bisa kencan lagi dengan kamu setiap malam minggu.
Jimin, Park Jiminku tersayang. Kini saatnya kamu cari bahagiamu yang nantinya bisa menemani kamu sampai akhir. Seperti kamu yang menemani aku sampai di saat-saat terakhir aku hidup di dunia ini.
Sungguh, aku sangat bangga karena pernah menyandang status sebagai kekasih dari seorang Park Jimin yang hebat luar biasa. Aku senang karena dunia sudah memberi aku kesempatan untuk berjalan bersama kamu, memijak bumi ini bersama kamu meski dalam waktu yang singkat bagiku.
Kamu harus bahagia, dan maaf aku gak bisa lagi menemani kamu untuk itu. I love you, Jiminku sayang.
– dari Min Yoongimu, yang akan selalu menyayangimu.[]