Trash Talking [45]

Yoongi berdiri di tepi jalan berbahan batu bata itu sembari mengamati Jimin dari jauh. Entah apa yang dilakukannya. Mengamati seseorang secara diam-diam, seperti penguntit.

Entah kenapa juga Yoongi merasa penasaran terhadap apa yang Jimin lakukan disana. Padahal jelas-jelas lelaki itu tengah membeli hotteok panas yang terasa nikmat jika dimakan malam-malam begini.

Beberapa kali Jimin terlihat sedang berbicara dengan sesuatu—tidak, seseorang. Tidak tahu siapa. Seseorang itu tidak terlihat pada pandangan Yoongi.

“Halo, Jimin-ssi.”

Yoongi menyapa lelaki itu terlebih dahulu. Matanya menjumpai manik mata kecoklatan Jimin yang tengah menatapnya dengan pandangan terkejut.

Mungkin, lebih cenderung ke rasa takut atau gusar. Namun Yoongi terlalu abai akan perasaan yang lelaki itu punya.

Jimin memberikan hotteok yang ia pegang kepada seseorang di belakangnya. Terlihat seperti menyembunyikan siapa pun itu dari hadapan Yoongi. Berlagak seolah-olah Yoongi adalah seorang ketua mafia perdagangan manusia.

“Kamu gak ikut acara minum perusahaan?”

Jimin menggeleng kecil sebagai jawaban. Lelaki itu melempar senyum tipis disertai mata yang sedikit menyipit manis.

“Saya sedang—ada urusan lain.”

“Oh, hotel mana?”

“Maaf?”

Yoongi tertawa pelan. Pria itu menunjuk Jimin menggunakan jari telunjuknya sebelum melakukan isyarat 'in-out' dengan kedua tangannya.

Sontak wajah Jimin memerah dan terlihat tidak nyaman. Lelaki itu menundukkan kepalanya sebelum menarik dan membuang napasnya sekilas.

Senyumnya berubah menjadi senyum kaku yang ditunjukkan di depan Yoongi. Berusaha terlihat kuat meskipun jauh di dalam dirinya sedang berusaha menahan rasa sakit atas tuduhan yang dilayangkan oleh seniornya itu.

“Maaf, Senior Min Yoongi-ssi, saya tidak mengerti apa yang Anda maksud disini.”

“Having sex. Lo udah di sewa berapa om-om sih? Boong banget kalo gak tau apa yang gue maksud.”

Intonasi formal yang sebelumnya Yoongi pakai hilang begitu saja. Tergantikan dengan nada bicara ketus yang dilayangkan oleh pria itu kepada lelaki di depannya.

Tindakan Yoongi yang seperti itu justru semakin membuat Jimin melangkah ke belakang menjauhi pria itu. Berusaha menutupi seseorang di belakangnya, melindungi orang itu dari Yoongi. Kemungkinan agar seseorang disana tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

“Apa sih, lo sembunyiin apaan? Anak dari sugar daddy lo?”

“Tolong jaga omongan Anda, Yoongi-ssi—sayang, no—”

“Halo, om yang waktu itu-!!”

Anak kecil dengan pakaian bergaris-garis biru dan putih itu melangkah maju. Menyapa Yoongi dengan lambaian tangan kecilnya.

“Jungsoo sayang, kakak kenal dengan om ini?”

Anak laki-laki itu, Jungsoo, mengangguk semangat. Senyum lebar terpatri di wajahnya yang terlihat mirip sekali dengan Jimin.

Ah, benar. Sekarang Yoongi ingat, anak yang waktu itu menjatuhkan sekotak tteokpokki nya mirip dengan Jimin. Park Jimin. Orang yang paling ia benci.

Yoongi yang baru saja menemukan fakta baru itu pun segera mengalihkan wajahnya, menatap Jimin yang kini juga melihatnya dengan tatapan menyelidik. Takut sekali jika Jungsoo di apa-apakan oleh Yoongi.

“Jungsoo ini, anak lo?”

“Kalau pun Jungsoo anak saya atau bukan, hal itu sama sekali bukan urusan Anda, Senior Min Yoongi-ssi.”

Jimin berucap ketus. Menghasilkan tatapan Yoongi yang masih terlihat bingung dan sedang mencerna. Sungguh sebuah fakta yang mengejutkannya.

Meskipun ia sering mengatai Jimin dengan julukan jalang, pelacur, dan lain-lainnya, bukan berarti ia siap dengan kenyataan Jimin yang telah memiliki buah hati. Bahkan lebih mengejutkannya lagi, anak itu adalah anak laki-laki yang ia tolong beberapa hari yang lalu.

“Jimi—”

“Dan satu lagi. Anda boleh mengganggu saya, tetapi tidak dengan Jungsoo.”

Sekali lagi Yoongi dibuat terdiam. Tangannya melayang hampa di udara. Entah kenapa, malam itu rasa yang aneh mulai memasuki dirinya. Rasa aneh yang entah apa itu wujudnya.[]