Trash Talking [34]

Kafetaria di hari itu tampak sepi. Memang kebanyakan karyawan yang ada di kantor memilih untuk makan di restoran di luar, namun Yoongi yang merasa malas untuk keluar gedung pun memutuskan untuk turun ke bawah ke arah kafetaria.

Kalau siang bolong begini keluar dari gedung rasanya seperti cari mati. Panasnya bukan main.

Sebetulnya alasan malasnya Yoongi terhadap kafetaria kantor adalah dengan adanya sistem self service. Menyeduh kopi pun harus sendiri.

Kopi yang disajikan pun rasanya masih kalah dari cafe lain. Namun, apa daya, dirinya terlalu malas untuk keluar gedung.

“Oh? Yoongi-ssi, ingin menyeduh kopi juga?”

Suara lembut itu memasuki gendang telinga Yoongi. Mungkin saking sebal dan lelahnya, suara itu terdengar seperti bisikan iblis jahat yang panas hingga membuat telinganya sakit.

Bisa dibilang Yoongi jahat, namun setiap orang punya pendapatnya masing-masing kan? Pendapat jika suara Park Jimin sebenarnya tidak seindah itu. Tidak seindah yang orang-orang bilang, karena saat ini suara itu menusuk telinganya dengan sangat keras.

Yoongi yang kepalang malas dan terlanjur buruk suasana hatinya pun hanya mengabaikan sapaan hangat Jimin. Yang diabaikan pun hanya tersenyum maklum, berusaha menahan rasa sakit di hatinya.

“Yoongi-ssi, kalau boleh saya bisa membuatkan kopi untuk Anda.”

Jimin sekali lagi berusaha menawarkan bantuan yang ramah. Tentu ia langsung peka ketika Yoongi terlihat kebingungan memakai alat penyeduh kopi yang disediakan oleh kantor.

Yoongi hanya terdiam sejenak, sebelum bergerak menjauh dari meja yang berbahan kaca itu, memberikan jarak agar Jimin bisa membantunya. Malu, namun kini ia lebih mengutamakan kopi daripada egonya sendiri.

Dengan telaten, Jimin menyeduh kopi itu ke dalam cangkir kaca tembus pandang yang Yoongi telah ambil sebelumnya. Lelaki itu melakukannya dengan sangat anggun dan mengagumkan. Cukup membuat Yoongi ber-'wah' sekilas.

“Dulu saya pernah bekerja sebagai barista di cafe, menyeduh kopi adalah salah satu hal yang bisa saya banggakan.”

“Gue gak nanya.”

Meskipun Yoongi berbicara dengan nada ketus, sebetulnya pria itu pun sedikit menaruh rasa kagum kepada Jimin. Ya, pengalaman kerjanya banyak juga ternyata.

Termasuk sebuah hal yang mengagumkan dan menjadi poin plus tersendiri. Si Park Jimin yang serba bisa, bahkan julukan orang-orang kantor terdengar tepat untuk di sematkan di samping nama Jimin.

“Kalau kopinya di seduh dengan perlahan seperti ini, rasanya akan lebih nikmat.”

Jimin lanjut menjelaskan, sementara Yoongi terhanyut dengan aroma seduhan kopi yang sangat harum. Terasa sampai ke pangkal hidung.

Takjub. Walau hanya sedikit.

“Silakan, Yoongi-ssi.”

Jimin meletakkan cangkir berisi kopi yang masih panas itu tepat di depan Yoongi. Pria itu pun langsung pergi begitu saja setelah membawa cangkirnya, tanpa terucap kalimat terima kasih dari bibirnya.

Pria itu meninggalkan Jimin yang terdiam sendiri disana dengan senyum yang semakin luntur dari wajahnya. Bahkan ia melihat punggung Yoongi yang hilang menjauh dari pandangannya.

Lelah sebetulnya diperlakukan seperti ini oleh rekan kerjanya itu. Ya, walau pun Jimin hanya pernah total dua kali merasa direndahkan oleh pria itu, dirinya tahu di belakangnya pun Yoongi sering mencaci dirinya.

Dilihat dari Yoongi yang tertawa ketika melihat kearahnya. Atau pun pria itu yang sering sekali menatap tidak suka kearah dirinya sebelum meraih smartphone dan mengetikkan sesuatu.

Ingin menyerah dan keluar tetapi ia membutuhkan pekerjaan ini untuk individu yang lain. Karena sebetulnya ia bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri.[]