Trash Talking [28]

Yoongi berdiri di depan stand yang menyajikan odeng itu sembari memasukkan tangannya ke dalam kantung celana. Ia lanjut mengambil setusuk odeng lainnya ketika sudah menghabiskan satu tusuk lainnya.

Masih panas, memang cenderung tidak cocok dengan cuaca di Seoul yang sedang memasuki musim panas, tetapi memang dirinyalah yang menginginkan untuk makan makanan itu. Bukan makanan mahal, hanya stand sederhana di pinggir jalan.

Nikmat.

Hari ini berjalan buruk. Selain karena Jimin tidak masuk, kerjaan lelaki itu malah dilimpahkan semua ke dirinya. Menyebalkan.

Sudah sukanya mengambil perhatian orang lain, kini ketenangan Yoongi di kantor juga diambil oleh lelaki itu. Rasanya tidak ada yang lebih puas dari menjahili Jimin tiap harinya. Bahkan ia sempat-sempatnya menyimpan kontak lelaki itu hanya untuk 'bercanda'.

“Ini fotonya aja di kamar hotel, pasti habis ngelacur lah.”

Yoongi tertawa pelan. Kembali membuka ruang obrolannya beberapa saat lalu dengan Jimin sembari meneliti foto apa yang lelaki itu pakai sebagai foto profil.

Entah kenapa semenjak Jimin pertama kali masuk ke kantor mereka, ia sudah tidak suka dengan lelaki itu. Melihat bagaimana Jimin berbaur dan mencuri perhatian semua orang, Yoongi tidak suka. Lelaki itu seperti matahari berjalan yang memasuki dunia kelabunya.

Menyebalkan. Dirinya semakin meradang ketika tahu Jimin mendapat promosi jabatan sementara tidak dengan dirinya.

Benci. Dendam. Rasa tidak suka. Bergabung menjadi satu.

“Gue mau simpati sama lo, tapi rasanya hidup lo udah enak-enak aja.”

Terakhir Yoongi berucap sebelum memasukkan smartphone nya kembali ke dalam kantung celana. Lengan kanan pada bajunya dilipat sebatas siku, dompetnya dikeluarkan guna membayar sepuluh odeng yang telah ia habiskan.

Kini saatnya pulang, rebahan, dan tidur. Menghadiahi diri sendiri dengan hal-hal sederhana yang membuat dirinya tenang dan nyaman.

Baru saja Yoongi berjalan beberapa meter dari stand odeng yang barusan ia kunjungi, ia merasakan tubuhnya menabrak—lebih tepatnya ditabrak seseorang.

Sontak ia menoleh, mendapatkan seorang anak laki-laki sekitar umur enam sampai tujuh terjatuh di bawah. Sekotak tteokpokki yang Yoongi yakini dibawa oleh anak itu terjatuh berantakan. Bahkan sausnya sedikit terjiplak di atas kemeja putih milik Yoongi.

Tanpa banyak bicara ia langsung mengulurkan tangan, berusaha untuk memberikan pertolongan pada anak itu. Ya, setidaknya berusaha untuk menjadi orang baik tidaklah salah kan.

Anak itu menerima uluran tangan Yoongi sembari menatap sendu box tteokpokki yang sudah terjatuh berantakan. Anak laki-laki itu merogoh saku celananya, berakhir pada saku yang kosong tidak ada isinya.

Yoongi yang merasa iba pun kembali mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan sejumlah lima ribu won yang langsung a berikan kepada anak laki-laki itu.

“Ini, beli lagi ya. Gak perlu sedih, pakai uang saya aja.”

“E—emm.. kata papa, aku gak boleh terima barang dari orang asing....”

“Saya gak jahat kok, gapapa, terima aja ya.”

Dengan ragu, anak laki-laki yang Yoongi belum ketahui namanya itu menerima uang yang Yoongi berikan. Kembali Yoongi menatap anak itu, merasakan wajah yang familiar, wajah yang begitu ia kenal.

Tteokpokki nya buat kamu?”

“Enggak... ini buat papa. Papa sedang sakit.”

Ah, anak yang baik. Berbakti sekali kepada orang tuanya.

“Ya sudah, cepat belikan tteokpokki nya. Nanti papamu marah-marah lho.”

“Terima kasih banyak, om!”

Anak itu membungkuk sopan sembilan pukuh derajat guna berterima kasih kepada Yoongi. Sementara pria itu hanya tertawa pelan sembari menatapi anak kecil itu berjalan semakin menjauh.

Familiar, namun entah wajahnya mengingatkannya pada siapa. Mungkin hanya orang yang lewat sekilas dalam hidupnya.[]