Trash Talking [17]

Yoongi menyandarkan punggungnya ke kursi kantor. Matanya kembali menatap kearah tugas kantor yang masih menggunung di meja kerjanya dengan malas.

Sial betul. Padahal sudah berniat untuk pulang cepat guna berbaring di ranjang kamarnya. Tetapi pada kenyataannya harus digagalkan oleh tugas-tugas dari kantor yang tidak henti-hentinya diberikan untuk ia kerjakan.

Ya, meskipun sudah berkurang banyak sih. Tetap saja, dirinya harus pulang tengah malam lagi.

Entah kenapa satu kantor harus lembur serentak, meskipun ada beberapa yang membawa pekerjaannya ke rumah. Ingin juga sih, tetapi musuh terbesarnya adalah ranjangnya. Bahkan saking lelahnya, ketika ia hanya merebahkan tubuhnya beberapa detik pun bisa terlelap.

Seperti Nobita, julukan teman-temannya. Padahal ia pun tidak semalas itu, hanya ketika saat sedang lelah saja.

Yoongi meregangkan tubuhnya. Membunyikan sendi-sendi pada tubuhnya yang kaku agar kembali merasa nyaman dan lega. Bentuk refreshing yang sangat sederhana ketika diserang kerjaan kantor bertubi-tubi.

Ia memutar kepalanya. Mengamati beberapa meja yang kosong sekaligus terisi. Ada wajah yang ia kenal ada juga wajah yang tidak familiar.

Di antara semua wajah itu pun Yoongi hanya terpaku pada satu wajah. Park Jimin. Bisa dibilang musuh? Tidak juga sih, ia hanya sebal pada lelaki itu karena mendapat sekian banyak atensi oleh perusahaan.

Iri. Dengki. Tidak, Yoongi hanya 'sebal'.

Dengan perlahan, pria itu berjalan kearah meja si lelaki yang kini mengalihkan pandangannya agar tidak menatap mata Yoongi. Bahkan tubuh kecil itu sedikit bergetar yang entah Yoongi tidak tahu penyebabnya. Ah, bahkan dirinya berkunjung dengan sebuah senyuman terpatri di wajah tampannya, masa lelaki itu ketakutan.

“Jimin-ssi.”

Yoongi memanggil nama itu pelan. Lengannya dilipat, disandarkan pada meja berbahan kaca itu dengan santai.

Tangannya menepuk-nepuk pekerjaan Jimin yang juga menumpuk di meja lelaki itu. Mengangkatnya satu per satu untuk melihat pekerjaan apa yang sedang Jimin lakukan.

Baru setelahnya Yoongi mendengus kasar dan sedikit membanting tumpukan dokumen itu di depan Jimin. Juga sedikit berusaha melakukan hal tersebut sepelan mungkin agar orang-orang tidak mendengar apa yang mereka lakukan.

Ya, bermain pintar lah. Ia licik? Tidak juga. Berusaha mematikan mental para pesaing dengan fitnah dan trash talking yang seratus persen penuh kebohongan menjatuhkan. Rasanya sudah biasa jika seseorang berkecimpung di dunia kerja melihat hal-hal seperti itu.

“Kalau jabatanmu yang sekarang ini masih kurang, gimana kalau....”

Yoongi mendekatkan bibirnya kearah telinga Jimin. Berbicara sedikit berbisik dengan suaranya yang rendah sembari tertawa samar.

”.... kamu rayu lagi si pak bos?”

Mata Jimin membesar beberapa milicenti setelah Yoongi selesai mengucapkan kalimat penuhnya. Bibirnya bergetar pelan, sementara wajahnya merah padam sampai telinga.

Yoongi berdiri tegak, menatap wajah juniornya itu dengan puas. Sedikit merasa jahat, namun niat isengnya terlampiaskan dengan sempurna.

Kalimat tersebut terbukti berhasil mengalihkan perhatian Jimin dari pekerjaannya sejenak. Jimin menatap pria yang sedang meremehkan dirinya itu dengan alis menukik tajam.

“Kok nggak dijawab sih? Aku SENIORmu lho, disini.”

Jimin hanya menatap Yoongi dengan raut kesal tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Lelaki itu telak diam dengan mata memerah menahan emosi sekaligus menahan tangis.

“Pasti butuh jabatan tinggi karena butuh uangnya, kan? Apalagi sih kalau bukan dipakai buat mempercantik diri sendiri, hm?”

“Tutup mulut Anda, Yoongi-ssi. Ada tidak tahu apa-apa tentang hidup saya.”

Yoongi tersenyum senang ketika Jimin berucap dengan nada marah. Pria itu menepuk bahu si lelaki sembari berseru 'semangat' dengan nada main-main, mengejek lelaki itu.

Setelahnya pun ia hanya tertawa sekilas dan kembali duduk di mejanya. Kembali mengerjakan pekerjaannya yang membosankan. Ah, rasanya mengerjai Jimin seribu kali lebih menyenangkan daripada mengerjakan pekerjaan kantor.[]