Trash Talking [132]
Tas kerja yang dibalut dengan kain berwarna hitam itu diletakkan begitu saja di atas sofa berbahan bludru yang berdiri kokoh di ruang tamu Jimin. Kembali lagi dirinya ke dalam unit apartemen yang dulu juga pernah ia datangi.
Namun, kali ini tampak berbeda dengan adanya Jungsoo yang juga hadir di sana. Seperti keluarga bahagia, bukan?
Yoongi tertawa pelan mendengar pikirannya yang begitu terjatuh ke dalam pesona seorang Park Jimin. Rasanya aneh jatuh cinta kepada seseorang yang dulu kamu benci sepenuh hati. Beruntung sekali Seokjin tepat waktu menyelamatkannya.
Ah, ngomong-ngomong perihal Seokjin, rasanya akhir-akhir ini pria yang lebih tua setahun di atasnya itu terlihat seperti menghindarinya. Entah kenapa, rasanya berbuat salah pun tidak. Malah kini dirinya berubah menjadi orang yang lebih baik dari Yoongi sebelumnya.
Yoongi berdiri di sana, bersandar di antara pintu kamar Jungsoo yang berhadapan dengan dapur. Melihat Jungsoo bermain piano, sekaligus memperhatikan Jimin yang sedang menyiapkan makan malam.
Padahal dirinya sudah menawarkan bantuan, namun kembali lagi kepada Jimin yang ternyata menolak. Tidak enak rasanya melihat Jimin repot seperti itu, sementara dirinya di sini tidak membantu apa-apa.
“Om Yoongi!”
Ah benar, kini anak itu tahu namanya. Rasanya senang sekali, entah kenapa.
“Om Yoongi bisa main apa saja? Jungsoo tantang om, hehe.”
“Oh.. tidak banyak.”
Yoongi duduk di atas kursi piano bersebelahan dengan Jungsoo. Dirinya mengamati dengan cermat bagaimana tuts hitam dan putih yang berjejer itu seolah memanggil dirinya untuk mendekat.
Sontak memori ototnya bekerja, memainkan musik dari beberapa komposer terkenal seperti Chopin dan Liszt. Membuat anak di sebelahnya itu ber-'wah' ria saat melihat jari-jemarinya menari diatas sana.
Entah, mungkin karena piano adalah cinta pertamanya. Satu-satunya hal yang paling mengerti dan sanggup untuk menghiburnya saat di panti.
Rindu.
Alunan melodi mengalir begitu saja, seolah menampilkan warna musik yang berwarna-warni menghiasi kamar. Bahkan keringat sampai menetes dari dahi Yoongi saking intensnya permainan yang ia bawakan.
Yoongi menghela napasnya pelan setelah menyelesaikan satu piece yang dimainkan oleh jarinya. Sontak setelahnya telinganya mendengar suara tepukan tangan yang ternyata disuarakan oleh Jimin dan Jungsoo.
Malu, sejak kapan lelaki itu ada di sana. Seketika rona merah merambat dari pipi sampai telinganya, turut malu akan banyaknya apresiasi dan perhatian yang ia dapatkan.
“Papa, Jungsoo nggak makan dulu ya! Jungsoo masih kenyang, Jungsoo juga mau latihan agar hebat seperti Om Yoongi!”
ucap anak itu dengan semangat. Jimin pun di sana hanya tertegun sembari mengusap pucuk kepala anaknya dengan sayang.
“Nanti Jungsoo papa buatkan roti selai cokelat saja, ya? Jungsoo harus tetap makan lho, kan tadi cuma beli makanan ringan sama Om Yoongi.”
“Eungg... oke!”
Setelahnya Yoongi mengikuti Jimin berjalan menuju dapur, makan malam bersama antar orang dewasa. Ia pun juga ingin menanyakan beberapa hal yang sebetulnya sedikit mengganjal dalam hatinya.
Yoongi duduk tenang di sana sembari memakan nasi goreng kimchi yang Jimin buat. Sederhana, namun rasanya seribu kali lebih nikmat daripada dimakan sendiri di apartemennya.
Sejujurnya ia kagum juga akan betapa hangatnya keluarga ini, betapa hangatnya perhatian yang Jimin berikan pada Jungsoo. Senang rasanya bisa turut ikut merasakan terlibat di dalam suasana hangat itu. Suasana yang sama sekali tidak pernah Yoongi rasakan.
“Jimin, gue mau tanya sesuatu. Tapi sebelumnya maaf kalau pertanyaan ini sedikit nyinggung lo.”
“Tanya saja, Yoongi-ssi. Aku jawab sebisaku.”
Yoongi meletakkan sendok itu dengan posisi terbalik, tanda jika ia sudah selesai dengan santapannya. Pria itu melipat tangannya, menatap serius ke arah Jimin yang duduk tepat berada di seberangnya.
“Untuk ke depannya, lo mau berkomitmen lagi sama orang lain? I mean, ya, begitu deh.”
”... Ah, iya. Untuk komitmen dengan orang lain aku rasa adalah suatu hal yang tidak aku butuhkan untuk saat ini, Yoongi-ssi. Aku masih bisa membesarkan Jungsoo sendiri, tanpa bantuan orang lain. Bukannya aku sombong, ya.”
Jimin mengibaskan tangannya tanda agar Yoongi tidak salah sangka dengan ucapannya. Tatapan mata lelaki itu melembut, mungkin sedikit muncul rasa sakit akan bayangan masa lalu yang masih membekas.
Yoongi pun mengangguk mengerti, merasakan bagaimana sulitnya Jimin untuk percaya dengan orang lain sementara pasangannya yang dulu saja mencampakkannya seperti itu. Ia tahu, dan ia paham akan hal itu.
“Tapi... mungkin untuk ke depannya aku pikirkan lagi, Yoongi-ssi. Aku juga harus mencoba percaya kembali dengan orang lain, dan... masalah hati ke depannya tidak ada yang tahu, Yoongi-ssi.”
Lelaki itu tersenyum sembari menatapnya. Seolah memberikan rasa tenang yang meyakinkan kepada dirinya sendiri.
Seolah memberi harapan agar Yoongi tidak menyerah secepat itu. Memang, masalah hati tidak ada yang tahu.[]