Trash Talking [122]

Yoongi turun ke lobby lebih cepat dari biasanya. Mungkin ingin menenangkan pikiran, atau hanya sekadar ingin karena ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat.

Entah kenapa, kini pekerjaannya terasa ringan dikerjakan. Terasa lebih sedikit meskipun terkadang menumpuk hingga segunung.

Yah, mungkin itu balasan dari dunia karena ia telah baik beberapa hari ini.

Suasana lobby saat itu masih terlihat cukup sepi. Tidak banyak karyawan yang berlalu lalang disana karena belum memasuki jam pulang orang kebanyakan. Karena ia tahu biasanya mereka pulang sepuluh menit setelah jam pulang normal.

“Jungsoo?”

Kembali Yoongi melihat anak itu duduk sendirian di sudut lobby. Ia duduk tenang disana sembari mengayunkan kaki kecilnya.

Benar-benar mirip Jimin.

Tanpa pikir panjang, Yoongi segera mempercepat langkah kakinya menuju Jungsoo. Kembali bertemu anak itu namun tanpa membawa apa-apa kali ini. Mungkin, hanya sekadar sapaan hangat?

“Halo, Jungsoo?”

“Om!”

Yoongi duduk di sebelah anak itu. Ia meletakkan tas kerjanya di meja yang terdapat di depan mereka. Pria itu mengalihkan atensi sepenuhnya kepada Jungsoo.

Anak itu terlihat seribu kali lebih bahagia dari sebelumnya kalau Yoongi boleh bilang. Terlihat jelas dari wajahnya yang berseri-seri, disertai senyuman manis yang ditunjukkan oleh bibir plump itu.

Seperti... Jimin.

“Kamu kenapa sendiri disini? Papa Jimin dimana, hm?”

“Papa... belum turun.... mungkin masih berbicara dengan om Namjoon.”

Sontak Yoongi panik ketika melihat raut wajah Jungsoo sedikit berubah. Menjadi terlihat... sedih. Bahkan Yoongi menangkap raut kesepian dari mata anak itu. Kesepian?

Pria itu memutar pikirannya keras. Berusaha menemukan suatu topik yang bisa menjadi bahan obrolan mereka. Hanya untuk mengembalikan senyum anak itu. Seketika ia menjentikkan jarinya pelan ketika menemukan topik yang pas untuk dibahas.

Ya setidaknya ia sudah berusaha untuk mengalihkan topik agar perasaan anak itu menjadi lebih baik, kan?

“Buku not musik yang om berikan waktu itu sudah dimainkan, belum?”

“Sudah dong! Jungsoo suka sekali... terima kasih banyak om!”

Senyum ikut mengembang di wajahnya ketika melihat Jungsoo tersenyum. Kuat sekali memang, gen keluarga Park ini.

Buat dia bahagia, maka kebahagiaan akan menghampirimu seribu kali lebih banyak.

“Om, orang kerja itu memang sibuk, ya?”

“Terkadang mereka sibuk, terkadang juga banyak waktu luang. Memangnya kenapa, hm?”

“Jungsoo sedih sekali ketika sendirian di apartemen. Jungsoo rindu papa, Jungsoo juga mau main piano untuk papa. Tapi, waktu papa pulang, papa udah lelah. Jungsoo gak enak mau mintanya. Jungsoo... kesepian, om.”

Yoongi merangkul bahu anak itu guna menenangkannya. Berusaha memberikan ketenangan yang hangat sekuat mungkin.

Karena ia juga pernah merasakannya. Hidup di panti yang semua orangnya individual, bahkan ingin meminta waktu barang sejenak saja sebegitu susahnya. Kehidupan itu yang membuatnya tumbuh tanpa kasih sayang, tumbuh tanpa perhatian dan afeksi.

“Nanti kapan-kapan om main ke rumah Jungsoo, ya?”

“Om mau?!”

“Mau dong. Nanti om ajarkan beberapa teknik main piano. Jungsoo suka?”

“Um! Jungsoo suka!”

Setidaknya hanya itu yang bisa ia berikan. Hanya perhatian kecil yang mungkin nantinya bisa membuat anak itu tampak lebih cerah.

Karena ia mau Jungsoo tumbuh dengan kasih sayang yang banyak, bukan sepertinya.[]