Trash Talking [109]
Pernahkah kamu merasakan rasa bahagia hingga rasanya meletup-letup di dalam pikiran? Perasaan sederhana yang dirasakan walau hanya menyeduh kopi instan di pagi hari, atau hanya sekadar membantu orang menyeberang jalan.
Hari itu Yoongi benar-benar menantikan waktunya pulang kerja. Buku not musik miliknya diletakkan rapi di dalam laci meja, menunggu untuk dikeluarkan dan diberikan untuk Jungsoo.
Padahal hanya hal sederhana, namun dapat membuatnya senang. Entah kenapa. Mungkin karena akhirnya ia bisa menjadi orang yang lebih baik.
Berulang kali manik hitamnya menatap jam dinding dan layar komputernya secara bergantian dengan tidak sabar. Merasakan jarumnya yang bergerak lebih lama dari biasanya. Berdetak menuju detik ke detik hingga menit ke menit. Hari ini jam pulangnya terasa lebih spesial dari biasanya.
Ia yakin niat baiknya untuk anak itu akan diterima Jimin. Ia sudah berusaha, kan?
Mungkin nantinya ia bisa berteman dengan lelaki itu. Jujur, awalnya rasa simpati itu muncul karena tahu Jungsoo hidup tanpa seorang ayah, tepat seperti dirinya. Tanpa sadar ia pun ingin Jungsoo merasakan ada seseorang yang berperan sebagai ayah meskipun anak itu memiliki Jimin sebagai papa kandung.
“Akhirnya....”
Dengan cepat Yoongi mematikan CPU itu setelah men-shutdown komputernya. Pria itu merapikan semua barangnya dengan tergesa sebelum berjalan menuju lift dengan langkah lebar.
Ia memacu langkah kakinya semakin cepat. Memasuki lobby kantor sembari matanya meneliti sekeliling area itu. Ia yakin, Jungsoo datang untuk menjemput Jimin karena lelaki itu turun lebih awal dari biasanya.
“Ketemu.”
Yoongi berjalan cepat menuju anak itu. Duduk sendiri di salah satu sudut ruangan. Mungkin menunggu Jimin yang entah pergi kemana.
Pria itu berhenti tepat di depan Jungsoo. Memasang senyumnya yang paling lebar, berusaha menunjukkan sisi terbaik dari dirinya.
“Halo, kamu masih ingat saya?”
”... Eh?? Om... ah! Om waktu itu yang menolong Jungsoo ketika tteokpokki Jungsoo jatuh. Halo lagi om baik!!”
Anak itu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat setelah bangkit dari kursi. Sopan sekali. Sungguh Jimin membesarkan anak ini dengan baik.
Yoongi yang melihat keseluruhan adegan itu pun tersenyum senang.
“Jungsoo sedang menunggu siapa?”
“Eumh.. papa. Jungsoo tidak tahu papa kemana....”
“Saya temani ya.”
Yoongi mempersilakan anak itu untuk duduk kembali. Sementara dirinya berdiri disana memantau jika saja Jimin kembali untuk menjemput anaknya.
Namun, Yoongi yang merasakan Jungsoo menatapnya intens itu pun segera menatap balik anak itu. Kemudian dirinya mengangguk paham ketika ternyata mata bulat kecil itu tertuju pada buku kumpulan not musik yang ia bawa.
“Kata Papa Jimin, Jungsoo suka main piano, ya?”
“Um! Suka sekali! Jungsoo suka sekali bermain piano, om!”
“Kalau om beri kamu buku ini, kamu mau tidak? Tapi, harus Jungsoo jaga baik-baik ya.”
Anak itu terlihat ragu sejenak. Namun segera menerimanya ketika melihat Yoongi menatapnya meyakinkan. Jungsoo membolak-balikkan lembar buku itu dengan semangat disertai binar matanya yang sangat cerah.
Seperti Jimin.
Sontak Yoongi menggeleng pelan ketika wajah berseri Jimin lewat di dalam pikirannya. Heran sekali tiba-tiba saja lelaki itu muncul. Mungkin, karena Jungsoo memiliki kemiripan telak dengan lelaki itu, mungkin.
“Jungsoo-ya! Astaga, papa terlalu lama ya, sayang? Eoh? Yoongi-ssi?”
Jimin menatap terkejut kearah pria itu. Tangannya menggandeng tangan Jungsoo dengan lembut, sebelum matanya beralih melihat buku kumpulan not musik yang sebelumnya Yoongi berikan.
Belum sempat Jimin berucap lebih, Yoongi segera membuka mulutnya.
“Gapapa, hadiah dari gue. Biar Jungsoo makin semangat belajar pianonya.”
“Tapi ini—”
“It's okay. Udah lama gak gue pake, kok. Daripada di loakin.”
“Aku jadi merasa berhutang sama kamu.”
Yoongi menggeleng pelan sembari memasang senyum terbaiknya. Berusaha mengatakan tidak masalah meskipun ia direpotkan oleh lelaki itu sekali pun.
Ia tidak masalah kalau itu Jimin.
“Oh iya, gue mau ajak lo—”
“Jimin!”
Sebelum Yoongi sempat menyelesaikan ucapannya, seorang pria lebih dulu berteriak memanggil Jimin. Tanpa basa-basi, bahkan pria itu langsung merangkul bahu lelaki si depannya itu dengan akrab.
Siapa itu?[]